

Halo semuanya! Terima kasih atas dukungannya untuk pak Effendi dan Masyarakat Adat Laman Kinipan. Nggak terasa sudah ada lebih dari 37 ribu orang yang dukung petisi ini! Kalian luar biasa.
Ada kabar kurang baik datang dari Kinipan. Pekan lalu, banjir menerjang Kinipan dan beberapa Desa lainnya di Kabupaten Lamandau. Dalam tahun ini sudah dua kali banjir terjadi, tapi banjir di bulan September ini yang tertinggi sepanjang sejarah di Kinipan. Tingginya sampai sepinggang orang dewasa.
Laman Kinipan lokasinya terletak di daerah hulu sungai dan dikelilingi oleh perbukitan. Sehingga banjir ini sungguh mengejutkan. Belum pernah ada banjir sebesar ini sekalipun ketika musim hujan.
Kenapa bisa gitu ya?
Salah satu faktor penyebab banjir ini adalah banyak daerah hutan yang sudah dibabat untuk perkebunan sawit. Akibatnya tak ada lagi daerah resapan air dan penjaga ekosistem di hulu yang dapat cegah banjir. Kalau Laman Kinipan yang di hulu sungai bisa terdampak seperti itu, bagaimana yang di hilir?
Sampai tanggal 15 September lalu, Desa Kinipan sekitarnya seperti Desa Sungai Tuat, Kawa, Karang Taba dan Penopa masih terendam air Sungai Batang Kawa.
Teman-teman, hutan Kinipan adalah salah satu hutan hujan terakhir di Kalimantan. Kalau PT SML terus babat hutan, akan ada bencana alam yang lebih parah di masa datang. Selain banjir, ada longsor yang menanti. Spesies endemik yang jaga keseimbangan ekologi dan cegah krisis iklim pun akan punah.
Untungnya, semuanya belum terlambat teman-teman. Kita masih bisa cegah kemungkinan terjadinya bencana alam dengan tetap menjaga hutan yang tersisa.
Karena itu, jangan sampai perjuangan ini berhenti di kamu. Ayo sebarkan petisi ini, agar makin banyak orang yang dukung dan ikut bersuara.
Mari kita desak terus pemerintah untuk segera menghentikan operasi PT SML di Laman Kinipan dan mengesahkan RUU Masyarakat Adat!
Salam,
Salsabila