Tolak Sound Horeg: Kami Butuh Ketenteraman dan Ruang untuk Berpikir, Bukan Dentuman Kosong

Tolak Sound Horeg: Kami Butuh Ketenteraman dan Ruang untuk Berpikir, Bukan Dentuman Kosong

Penandatangan terbaru:
Trindah dan 19 lainnya baru saja menandatanganinya.

Masalahnya

Kami, warga biasa, ingin bersuara.

Kami mencintai kedamaian. Kami menghargai kreativitas. Tapi kami menolak untuk terus dipaksa senang oleh dentuman sound horeg — sesuatu yang bukan budaya luhur, melainkan hiburan keras yang mengorbankan rakyat kecil dan ketenangan lingkungan.

---

Kenapa kami menolak Sound Horeg?

Karena rakyat sedang butuh air bersih, jalan yang layak, fasilitas pendidikan untuk anak, dan waktu istirahat yang cukup.

Bukan suara berlebihan yang memekakkan telinga hingga bayi harus ngungsi dan jendela rumah retak.

Karena kami lelah — secara fisik, mental, dan sosial.

Latihan malam selama berminggu-minggu. Ikut urunan dengan jumlah yang besar. Bahkan gapura yang dibangun bersama bisa hancur demi truk sound bisa lewat.

Ini bukan hiburan. Ini tekanan.

Karena ini bukan budaya — tapi bentuk pemborosan kolektif.

Tidak ada nilai warisan, tidak ada pesan moral. Yang ada hanyalah saling pamer, saling saing, dan saling teriak.

---

Tentang HAKI Sound Horeg

Kami tahu bahwa Sound Horeg telah mendapatkan pengakuan sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) di Jawa Timur.

Kami tidak menolak pengakuan terhadap karya kreatif. Tapi kami menegaskan:

> Legal bukan berarti etis. Dilindungi hukum bukan berarti bebas merugikan.

Jika pengakuan hukum ini hanya akan membuat penyelenggara semakin leluasa menekan warga, menolak kritik, dan mengabaikan ketenteraman lingkungan, maka pengakuan itu menjadi tameng dari pembodohan.

---

Uang Berputar” — Benarkah Menguntungkan?

Mereka bilang, “uang berputar.” Tapi uang yang berputar itu datang dari tekanan pada rakyat: urunan wajib yang kadang mencapai jutaan rupiah per keluarga, sewa kostum, MUA, iuran sound system.

Tak ada yang menghitung berapa banyak keluarga yang menekan belanja makan demi bisa ‘ikut meriah'.

Tak ada yang mencatat berapa warga yang harus berhutang demi gengsi kolektif.

Tak ada data tentang kerugian akibat cuti kerja, macet total, atau anak yang tak bisa belajar karena suara memekakkan telinga.

Bahkan di beberapa kasus, ambulans tidak bisa lewat karena jalan dipenuhi peserta dan truk sound. Ini bukan lagi soal kenyamanan — ini soal nyawa.

Yang dihitung hanyalah omzet tukang es, bukan beban warung yang tutup karena harus ikut baris.

Yang dilihat hanyalah kemeriahan sesaat, bukan penurunan daya pikir dan kesejahteraan mental rakyat

Kami tidak sedang melawan hiburan.

Kami hanya ingin bertanya:

> Apa gunanya uang berputar kalau akal sehat berhenti?

Yang Kami Tuntut:

1. Hentikan penggunaan sound horeg berlebihan dalam kegiatan publik dan karnaval.

2. Stop budaya urunan wajib untuk kegiatan yang tidak mendesak dan tidak berpihak pada kebutuhan nyata warga.

3. Kembalikan fokus pemerintah desa pada kebutuhan primer rakyat: air, jalan, sekolah, layanan kesehatan, dan ketenangan.

4. Bangun budaya berpikir, bukan budaya bising. Budaya yang menumbuhkan akal sehat, bukan sekadar menari dan berteriak.

---

Kami tidak anti budaya. Kami hanya ingin budaya yang mendidik, mencerahkan, dan memanusiakan.

Kami ingin suara kami tidak dikalahkan oleh dentuman.

Kami ingin kampung kami kembali menjadi tempat yang tenang, sehat, dan masuk akal

✍️ Tanda tangan petisi ini jika kamu juga:

Dipaksa ikut hiburan yang tidak kamu butuhkan

Terbebani urunan untuk acara yang tidak kamu suka

Merindukan malam yang tenang dan damai

> Suara kami bukan bising — tapi tanda bahwa rakyat masih bisa berpikir.

Tolak sound horeg. Bangun budaya yang berpihak pada hati dan logika.

 

avatar of the starter
Emma …Pembuka Petisi

506

Ayo dapatkan 1000 tanda tangan!
Petisi dengan lebih dari 1.000 pendukung 5 kali lebih mungkin untuk menang!
Penandatangan terbaru:
Trindah dan 19 lainnya baru saja menandatanganinya.

Masalahnya

Kami, warga biasa, ingin bersuara.

Kami mencintai kedamaian. Kami menghargai kreativitas. Tapi kami menolak untuk terus dipaksa senang oleh dentuman sound horeg — sesuatu yang bukan budaya luhur, melainkan hiburan keras yang mengorbankan rakyat kecil dan ketenangan lingkungan.

---

Kenapa kami menolak Sound Horeg?

Karena rakyat sedang butuh air bersih, jalan yang layak, fasilitas pendidikan untuk anak, dan waktu istirahat yang cukup.

Bukan suara berlebihan yang memekakkan telinga hingga bayi harus ngungsi dan jendela rumah retak.

Karena kami lelah — secara fisik, mental, dan sosial.

Latihan malam selama berminggu-minggu. Ikut urunan dengan jumlah yang besar. Bahkan gapura yang dibangun bersama bisa hancur demi truk sound bisa lewat.

Ini bukan hiburan. Ini tekanan.

Karena ini bukan budaya — tapi bentuk pemborosan kolektif.

Tidak ada nilai warisan, tidak ada pesan moral. Yang ada hanyalah saling pamer, saling saing, dan saling teriak.

---

Tentang HAKI Sound Horeg

Kami tahu bahwa Sound Horeg telah mendapatkan pengakuan sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) di Jawa Timur.

Kami tidak menolak pengakuan terhadap karya kreatif. Tapi kami menegaskan:

> Legal bukan berarti etis. Dilindungi hukum bukan berarti bebas merugikan.

Jika pengakuan hukum ini hanya akan membuat penyelenggara semakin leluasa menekan warga, menolak kritik, dan mengabaikan ketenteraman lingkungan, maka pengakuan itu menjadi tameng dari pembodohan.

---

Uang Berputar” — Benarkah Menguntungkan?

Mereka bilang, “uang berputar.” Tapi uang yang berputar itu datang dari tekanan pada rakyat: urunan wajib yang kadang mencapai jutaan rupiah per keluarga, sewa kostum, MUA, iuran sound system.

Tak ada yang menghitung berapa banyak keluarga yang menekan belanja makan demi bisa ‘ikut meriah'.

Tak ada yang mencatat berapa warga yang harus berhutang demi gengsi kolektif.

Tak ada data tentang kerugian akibat cuti kerja, macet total, atau anak yang tak bisa belajar karena suara memekakkan telinga.

Bahkan di beberapa kasus, ambulans tidak bisa lewat karena jalan dipenuhi peserta dan truk sound. Ini bukan lagi soal kenyamanan — ini soal nyawa.

Yang dihitung hanyalah omzet tukang es, bukan beban warung yang tutup karena harus ikut baris.

Yang dilihat hanyalah kemeriahan sesaat, bukan penurunan daya pikir dan kesejahteraan mental rakyat

Kami tidak sedang melawan hiburan.

Kami hanya ingin bertanya:

> Apa gunanya uang berputar kalau akal sehat berhenti?

Yang Kami Tuntut:

1. Hentikan penggunaan sound horeg berlebihan dalam kegiatan publik dan karnaval.

2. Stop budaya urunan wajib untuk kegiatan yang tidak mendesak dan tidak berpihak pada kebutuhan nyata warga.

3. Kembalikan fokus pemerintah desa pada kebutuhan primer rakyat: air, jalan, sekolah, layanan kesehatan, dan ketenangan.

4. Bangun budaya berpikir, bukan budaya bising. Budaya yang menumbuhkan akal sehat, bukan sekadar menari dan berteriak.

---

Kami tidak anti budaya. Kami hanya ingin budaya yang mendidik, mencerahkan, dan memanusiakan.

Kami ingin suara kami tidak dikalahkan oleh dentuman.

Kami ingin kampung kami kembali menjadi tempat yang tenang, sehat, dan masuk akal

✍️ Tanda tangan petisi ini jika kamu juga:

Dipaksa ikut hiburan yang tidak kamu butuhkan

Terbebani urunan untuk acara yang tidak kamu suka

Merindukan malam yang tenang dan damai

> Suara kami bukan bising — tapi tanda bahwa rakyat masih bisa berpikir.

Tolak sound horeg. Bangun budaya yang berpihak pada hati dan logika.

 

avatar of the starter
Emma …Pembuka Petisi

Perkembangan Terakhir Petisi