Tindak Tegas Guru RASIS Pemecah Persatuan, Selamatkan Pendidikan Indonesia!

0 have signed. Let’s get to 15,000!


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1448467171841363&id=100000342828249

Pilkada DKI Jakarta baru saja usai, pemenang sudah terlihat (belum mutlak), suasana panas sudah selayaknya mereda. Cagub-Cawagub yang kalah pertarungan sudah dengan legowo menerima kekalahan, seharusnya juga dengan pendukung-pendukungnya. Demikian juga dengan kontra Cagub-Cawagub tertentu. Sudah seharusnya menyudahi perselisihan dan saling berdamai.

Cuitan syukur dan takbir menghiasi dunia maya dari sore hingga saat ini. Tentu karena jagoannya menang, bagi yang tidak menang menerima dan ada yang tetap 'nyinyir'. Cuitan di Twitter terus menghiasi euforia kemenangan Anies-Sandi, pendukung bersyukur dan bangga. Sebaliknya, pendukung kontra (Ahok-Djarot) merasa terima kekalahan jagoannya.

Media sosial sebagai media interaksi tidak langsung menjadi sorotan utama warganet. Tidak sedikit meluapkan perasaannya di medsos. Tetapi, apa jadinya jika konten yang dibagikan negatif? Salah seorang guru Seni SMA di Jakarta, dengan 'gamblang' mengutarakan jumawanya di Facebook. Dirinya sebagai pendidik seakan lupa akan sosoknya sebagai "Ing Ngarso Sungtulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani". Teman-teman Facebook yang terdiri dari rekan kerja, peserta didik, dan alumni tak lagi ia hiraukan. Lontaran RASIS ia kobarkan secara frontal. Sebagai seorang sarjana pendidikan dan seorang minoritas, saya kian sedih atas kutipan beliau.

Sudah cukup RASIS meracuni manusia dewasa, jangan sampai ke anak-anak kita. Apa lagi, sampai masuk ke dalam dunia pendidikan. Akhlak mulia akan menciptakan akhlak mulia, sedangkan yang buruk akan menciptakan yang buruk. Banyak hal menjadi dampaknya:

  1. Sikap rasis yang terlontar dari hati, diluapkan di muka umum, hal tersebut ditujukan pada seorang tokoh. Jelas hal ini sangat tidak terpuji meskipun tanpa memandang profesinya.
  2. Sebuah bahasa berawal dari ide/pikiran. Jika ia seorang fanatik dan menbenci suatu suku, agama, dan ras, bagaimana hatinya, itu pun tanpa memandang profesinya.
  3. Berdasarkan UU ITE tentang ungkapan kebencian, jelas konten tersebut melanggar.
  4. Memandang dari profesi sebagai Pendidik, hal ini tidak pantas, bagaimana ketika ia menghadapi peserta didik dari suku, agama, dan ras yang ia benci?
  5. Memandang dari profesi, bagaimana dengan anak-anak yang membaca konten dan sikap serta moralnya, tentu kebencian tersebut menyebarluas sehingga memecahbelah persatuan.
  6. Tidak hanya itu, konten-konten sebelumnya mengandung kebencian, namun hanya berbagi, tanpa cuitan pribadi. Hanya saat ini statusnya dengan rasa euforia atas kekalahan suku tertentu, ia melampiaskannya, seolah penguasa telah jatuh dan tak ada gunanya bagi dia lagi.
  7. Dalam UUD 1945 Pasal 28E, dijamin hak warga negara utk memeluk agama. Pasal 28I, menguatkan hak ini sebagai asasi manusia. Pasal 28D, memberikan jaminan untuk kesempatan yang sama dalam pemerintahan maupun di depan hukum. Pandangan SARA tentunya melanggar konstitusi negara ini.

Salam Persatuan, Salam Bhineka Tunggal Ika, Indonesia Merdeka, Hidup Pendidikan Indonesia.

Usut tuntas demi Bhineka Tunggal Ika dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Kiranya teman-teman yang mendukung dapat membagikan dan menyebarkan hal ini, tidak lupa untuj memberikan alasan, arahan, dan pencerdasan sebagai bentuk bahwa kita butuh Revolusi Mental menjadi lebih baik.

Salam untuk seluruh guru di tanah air. Salam untuk anak-anakku yang manis di seluruh Indonesia. Kelak, engkaulah yang memperbaiki semuanya.



Today: Josua is counting on you

Josua Kristofer needs your help with “Tindak Tegas Guru RASIS Pemecah Persatuan, Selamatkan Pendidikan Indonesia! Tolak SARA di dunia pendidikan.”. Join Josua and 13,071 supporters today.