Keadilan untuk Jared dan Jayden, Dukung Mahkamah Agung menegakkan KEBENARAN DAN KEADILAN

Keadilan untuk Jared dan Jayden, Dukung Mahkamah Agung menegakkan KEBENARAN DAN KEADILAN

0 telah menandatangani. Mari kita ke 200.
Dengan 200 tanda tangan, petisi ini akan lebih mungkin ditampilkan di halaman rekomendasi!

SURYA MAHASISWA memulai petisi ini kepada Ketua dan Para Wakil Ketua DPR RI dan

Gelap Datang Tanpa Mengetuk Pintu rumah Juliana Dharmadi. Ibu dari anak kembar Jared dan Jayden Cristophel menanggung beban hidup yang berat selama 10 tahun lebih. Kasus ini bermula saat Juliana Dharmadi 26 Mei 2008 melahirkan bayi kembarnya secara prematur di Rumah Sakit Omni. Jared lahir dengan berat 1,5 kilogram, sedangkan Jayden 1,3 kilogram.

Setelah itu dokter memutuskan untuk merawat  mereka di incubator dalam ruang NICU. Setelah 42 Minggu berjalan Jayden mengalami silindris pada matanya, sedangkan Jared mengalami kebutaan permanen. Hati Ibu mana yang tidak hancur melihat buah hatinya, malaikat kecilnya merasakan penderitaan seumur hidup.

Pasca peristiwa itu ia terus berusaha melakukan pengobatan dan perawatan untuk Jared dan Jayden. Dari berobat keluar negeri, hingga mendatangi rumah sakit dan klinik di Indonesia namun tidak mendapatkan hasil yang signifikan.

Juliana Dharmadi sampai saat ini pun selalu memikirkan bagaimana nasib anak anak nya di kemudian hari yang tidak seharusnya menanggung derita cacat mata.

Dia merawat anak kembar tersebut dalam kondisi yg menyedihkan dan dia berjuang dengan segala upaya keadilan untuk mereka. Besar harapannya pada hukum yang selayaknya membela dan melindungi rakyatnya yaitu mendapatkan keadilan.

Perjuangan Juliana Dharmadi dimulai melalui babak baru kasus dugaan malapraktik RS Omni dengan melayangkan gugatan perdata ke Pengadilan Negeri Tangerang. Juliana mengugat dr Fredy Limawal, yang menangani anaknya dan RS Omni Alam Sutera sebesar Rp 2 Milyar.

Pengadilan Negeri Tangerang memvonis RS Omni Alam Sutera bersalah dalam kasus malpraktik anak kembar Jared dan Jayden Cristophel. Majelis hakim menimbang Rumah Sakit Omni Alam Sutera sebagai perusahaan atau lembaga berbadan hukum yang bekerja di bidang kerumahsakitan tidak menjalankan standar operasional prosedur dalam melayani pasien.

NAMUN, Pengadilan Negeri menghukum RS Omni Alam Sutera untuk membayar kerugian material terhadap pengugat Juliana Dharmadi, ibu Jared dan Jayden Cristophel sebesar Rp 105,6 juta dan membayar biaya perkara sebesar Rp 751 ribu. Yang tertuang dalam Putusan Pengadilan Negeri Tangerang No.172/Pdt.G/2018/PN.Tng Tertanggal 18 september 2018.

Kerugian material yang harus dibayar RS Omni Alam Sutera itu jauh di bawah gugatan Juliana yang hanya menuntut ganti rugi sebesar Rp 2 milyar.

Begitu juga Putusan Pengadilan Tinggi Banten yang berdasarkan Salinan putusan Nomor 88/PDT/2019/PT BTN menghukum RS Omni Alam Sutera selaku Pembanding I/ Terbanding I/ Semula Tergugat II untuk membayar Rp 105,6 juta dan membayar biaya perkara sebesar Rp 150 ribu.

Menurut bapak ibu sekalian apakah angka gugatan sebesar 2 miliyar ini harga yang tidak logis jika melihat pertimbangan bahwa penderitaan cacat kebutaan dan silindris mata yang di alami dua orang anak kembar ini akan di tanggung seumur hidup ???

Jika hal tersebut dialami oleh bapak ibu pembaca sekalian, Mungkin bapak/ibu akan melakukan gugatan dengan nilai berkali-kali lipat dari angka 2 miliyar.

10 Tahun lebih telah berlalu, Rumah Sakit tersebut belum bertanggung jawab dan tanpa itikad baik apapun. Dengan kenyataannya bayi kembar tersebut dirawat tanpa standar operasional prosedur yang seharusnya dilaksanakan.

Kini Kasus tersebut sedang memasuki babak selanjutnya, karena kasus ini sedang berada di mahkamah agung, RS Omni Alam Sutera melakukan upaya hukum Kasasi agar dapat membatalkan putusan Pengadilan Tinggi Nomor 88/PDT/2019/PT BTN tertanggal 22 agustus Jo Putusan Pengadilan Negeri Tangerang No.172/Pdt.G/2018/PN.Tng Tertanggal 18 september 2018.

Dalam proses menunggu hasil putusan dari Mahkamah Agung, Juliana Dharmadi Senantiasa berharap adanya keputusan dari Mahkamah Agung yang professional, jujur dan adil, sehingga ini bisa menjadi landasan keadilan yang seadil-adilnya di kemudian hari jika ada anak Indonesia lainnya yang merasa menjadi korban dengan peristiwa yang sama.

Juliana Dharmadi ingin perjuangan nya ini tidak sia sia, dia berharap ada keadilan bagi dirinya dan Jared Jayden serta adanya perbaikan prosedur pelayanan rumah sakit bagi masyarakat indonesia.

Dia berharap berdasarkan dari kasus ini akan adanya atensi khusus dari pemerintah dalam perbaikan, pengawasan, dan pendisiplinan struktural pelayanan medis rumah sakit dimana dijalankan berdasarkan ketetapan prosedur operasional yg berlaku sehingga tidak akan lagi terjadi anak anak2 Indonesia menjadi korban seperti Jared Jayden ini.

bapak dan Ibu sekalian, kami dari Surya Mahasiswa mengetuk hati nurani anda semuanya. kiranya adakah masyarakat yang peduli dan senantiasa berada disisi nya untuk mendukung perjuangan mencari keadilan bagi masa depan Jared dan Jayden Cristophel.

Kami juga ajak semua masyarakat untuk sama-sama mendorong Mahkamah Agung agar mampu menegakkan KEJUJURAN, KEBENARAN DAN KEADILAN.

 

Salam

Dwiki Hendra Saputra

Surya Mahasiswa

0 telah menandatangani. Mari kita ke 200.
Dengan 200 tanda tangan, petisi ini akan lebih mungkin ditampilkan di halaman rekomendasi!