Kampanya güncellemesiDPR dan Presiden Segera Mengesahkan UU Kewarganegaraan Ganda RIBerkat Diaspora: Pembangunan Nasional/Daerah Meningkat
Arnold DjiwatampuJakarta, Endonezya
17 Tem 2016
Tidak kenal, tiada cinta, kata orang. Inilah yang terjadi dengan para perantau, Diaspora Indonesia, yang tersebar di berbagai penjuru mancanegara. Mereka meninggalkan tanah airnya dan bermukim di negara lain untuk memperbaiki nasib demi keluarga mereka, serupa dengan para pekerja di daerah yang mencari pekerjaan di kota besar. Selain itu ada di antara mereka yang di masa lalu terpaksa pergi karena kondisi politik yang memperlakukan mereka secara tidak adil dan menyesakkan dan kini rindu untuk kembali. Naluri mereka untuk kembali ke tanah kelahiran yang membesarkan mereka selalu menggoda, bagaimana mungkin meniadakan semua suka-duka masa kecil yang akan melekat seumur hidup, seraya orangtua atau kerabat masih di Indonesia. Mereka meninggalkan negerinya untuk meraih perbaikan kesempatan, tingkat hidup, dan setelah berhasil dengan pengetahuan, kemampuan, dan pengalamannya yang diperoleh, mereka ikut meningkatkan kesejahteraan kerabatnya, kampung halamannya, Bangsa, dan Negara. Contoh-contoh yang mewakili jutaan rekan Diaspora lainnya seperti di bawah ini. Alangkah hebatnya Indonesia, apabila semua pengalaman, pengetahuan, dan kemampuan yang diraih para warga Diaspora yang tersebar di manca negara dapat disatukan dan direalisasikan, tiada lain bagi peningkatan kesejahteraan rakyat dan Bangsa, yang dirindukan, dan tak pernah akan dilupakan oleh para Diaspora kita. Mereka tidak boleh dihalangi untuk mengembangkan kemampuan mereka di mancanegara seraya tidak dihalangi untuk kembali ke tanah airnya kapanpun, dengan memungkinkan mereka memiliki Kewarganegaraan Ganda atau Dwi Kewarganegaraan (KG/DK) tanpa kehilangan kewarganegaraan Indonesia. Seharusnya Pemerintah dan DPR RI, dapat segera menangkap denyut aspirasi yang diungkapkan para Diaspora seperti contoh-contoh di bawah ini yang dicuplik dari buku “Sirat dari Rantau”, yang disunting Bina Bektiati dan Nugroho Dewanto. Australia Rudi Wirawan, yang telah tinggal 30 tahun di Sydney meraih sukses dalam bisnis bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Sesuai teks petisi tgl 5 Juli lalu. Dengan pengetahuan dan pengalaman TIKnya, ia memromosikan kopi Nusantara secara amat efektif, dan yang belum pernah dilakukan sebelumnya https://dl.dropboxusercontent.com/u/86849394/Coffee%20Nusantara%20v2.0.pdf Untuk membantu UMKM secara nasional, maka organisasi Indonesia Diaspora Network di New South Wales (IDN-NSW) bersama KJRI, ITPC dan BKPM membuat portal smes-Indonesia.com.au, untuk promosi bidang usaha di bawah ini. • Fashion & Accessories, kreasi pakaian dengan bahan lokal. • Health & Beauty Products, produk kesenatan dan kecantikan. • Premium Art & Craft, kerajianan berbagai daerah yang amat menarik. • Coffee, berbagai jenis kopi Indonesia yang hanya bisa tumbuh di Indonesia. Aktivitas-aktivitas di atas telah dijabarkan dalam bruchure IDN-NSW sebagai wilayah fokus IDN Australia, dan akhir bulan Mei lalu bertemu KADIN dan PPEI (Pendidikan dan Pelatihan Ekspor Indonesia) untuk kerja sama dukung UMKM. Astrid Saraswati Vasile, perempuan ahli di bidang kontraktor bangunan Australia, Chair for Australia-Indonesai Businesswomen’s Network, dan President of of Indonesian Diaspora Network, West Australia, telah bermukim 20 tahun di Australia. Ia mementingkan kualitas ekonomi hubungan ekonomi Indonesia-Australia, dan ingin membuat Indonesia lebih baik dalam praktik membangun gedung, rumah, dan jenis property lain. Australia telah memberikannya pengalaman sebagai perempuan bisnis dan ahli pembangunan yang terdaftar, dan ingin memberikan keterampilan dan pengetahuannya untuk membangun negeri asalnya. Iwan Sunito, masa kecil di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, dengan awal pengalaman di Jakarta dengan perusahaan pengembangan properti, setelah penuh perjuangan berhasil mendirikan perusahaan, Crown Group di Sydney, dengan portfolio senilai Rp 48 Trilyun. Ia tetap melihat Indonesia sebagai negei dengan penuh masa depan, sebagai macan Asia yang sedang tidur. Mulyoto Pangestu, semula dosen Universitas Soedirman di Purwokerto, kini menjadi Peneliti di Universitas Monash, sebagai manajer Laboratorium Departemen Reproduksi dan Pengembangan bidang Obstetrics dan Genecology, serta konsultan beberapa rumah sakit Indonesia. Penelitian dan inovasi membutuhkan waktu bertahun-tahun, dan oleh karena itu penting bagi pemerintah memberikan fasilitas bagi peneliti. Mobil listrik Indonesia yang diduking Dahlan Iskan, sebenarnya merupakan salah satu contoh kerjasama yang baik dalam jaringan “Academic Business Government”. Diharapkan Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi dapat membuat Peta Jalan pengembangan penelitian di Indonesia. Sinta Santoso, lulusan perguruan tinggi Jerman jurusan ilmu makanan ini, memiliki perusahaan tempe dengan berbagai rasa, yang diproduksinya di Mulgrave, dan diperdagangkan dengan merk Prima Soy, nama perusahaannya di Malang. Tempe menurutnya merupakan makanan masa depan yang sehat dan merupakan kebanggaan Indonesia. Pada tahun 2003 dia mulai mempelajari tempe di kampung-kampung sekitar Malang langsung dari para ahlinya, yang ternyata tidak mudah. Menurut William Shurtleff dalam bukunya, The boook of Tempeh disebut, “Tempeh from Malang is the King of Tempeh”, yang membanggakannya sebagai orang Malang. Kemudian dia berhasil mendapatkan tempe terbaik sesuai kondisi lingkungan Melbourne. Berkat tempe dia menemukan kembali ke Indonesiaannya. Sambutan pasar Australia terhadap hasil tempe organiknya sangat positif dan sangat disukai. Dia sangat ingin agar dapat menolong para perajin tempe di Indonesia dengan mengangkat tempe lebih disukai orang Indonesia, seraya orang Indonesia merasa lebih berkelas makan pizza daripada tempe mendoan misalnya. Swiss Aji Bram, bergelut di bidang mode (fashion), dimulai dari pekerjaan perhotelan, dan karena dia orang Indonesia yang memiliki industri garmen, dia diminta membuat seragam karyawan hotel dan kapal pesiar, kemudian membuat desain, seraya mengangkat industri konveksi di Indonesia untuk pesanan dalam jumlah besar, termasuk mode tingkat atas. Akhirnya tahun 2007, mendirikan perusahaan “Lurik”, dengan desain sendiri, mendatangkan produknya dari industri Indonesia. Bahkan berani menggelar Indonesian Fashion and Batik Festival di Zurich. Inggris Anne Rufaidah, yang menikahi pria Italia, tinggal di London dan berusaha dalam bidang rambut palsu (hair extension) dengan nama perusahaan Rapunzel Import, membantu para pekerja usahanya di di Indonesia untuk melanjutkan sekolah baik untuk menambah keterampilan, maupun membantu pendidikan para yatim piatu dan yang kurang mampun di Jawa Barat. Yang lulus, dapat bekerja di perusahaannya atau perusahaan rekan-rekannya. Asri Mitchell, yang menikahi pria Inggris dan tinggal di Inggris sejak 20 tahun silam, berawal dari buka warung roti yang dibuat saat dipesan, di kota Derby (40 menit dengan KRL dari London) selama 10 tahun. Akhirnya memberanikan festival-festival makanan di Inggris Raya, walaupun biayanya mahal disertai persyaratan kesehatan yang ketat sekali, untuk memromosikan makanan tradisional Indonesia. Capainya terbayar karena ternyata sangat digemari dan laris. Leny Mc Donnell, yang menikah dengan orang Inggris, karena cintanya kepada Tanah Airnya, memopulerkan kebaya, kain-kain tradisional, dan busana khas Indonesia di Inggris, di luar dasar pendidikannya sebagai designer di Alison Smith School. Dan membuatnya dia terkenal dengan sederet pameran kebayanya. Amerika Serikat Daniel Sudar, sejak 1994 bermukim di San Francisco untuk meneruskan pendidikan di akademi kuliner, setelah mengikuti pendidikan kuliner dan kemudian bekerja di hotel di Indonesia. Tujuannya untuk memperkenalkan masakan Indonesia ke dunia Barat, dan menyesuaikan masakan Indonesia sehingga tidak terlalu aneh bagi lidah Barat. Keinginan untuk menyediakan makanan bagi Presiden Clinton tercapai. Oleh karena suatu kecelakaan terbakar saat masak, setelah sembuh, ia beralih ke bidang mode yang menjadi cita-cita sejak 5 tahun lalu. Dan akhirnya desain modenya masuk ke kalangan selebriti busana, rancangan busananya masuk . majalah People dan 5 toko San Fancisco dan Sacramento. “Indonesiaku, terima kasih telah memberikan kesempatan kepada saya mengejar mimpi di Amerika Serikat. Saya tidak akan pernah melupakan semua jasamu”. Sonita Lontoh, seorang lulusan Massacusssetts University of Teckhology, eksekutif perempuan berdarah Manado-Padang di Triliant, perusahaannya di Silicon Valley, San Francisco, suatu yang luar biasa, sebagai contoh sukses perantau Indonesia. Oleh karena prihatin terhadap pendidikan anak-anak Indonesia di tempat terpencil, ia bersama beberapa perantau Indonesia di AS dan jaringan di Indonesia, mengelola “foster family one on one” – keluarga di AS mendukung keluarga di Indonesia demi kelanjutan pendidikan anak-anak. S. Paul Sumitro, lahir di Singkawang, Kalimantan Barat, dia memegang paspor Jepang dan menetap di AS, dan setiap tahun ia selalu menyempatkan berlibur ke Indonesia untuk menjumpai keluarga dan teman-teman sejak kecil. Dia diakui memperoleh reputasi sedunia sebagai ahli perawatan infrastruktur, terutama Structural Health Monitoring (SHM) dan non-Destructive Evaluation (NDE), dan menjadi Presiden dan CEO dari SMARTASENSYS, perusahaan yang berspesialisasi dalam monitoring infrastruktur di Champaingn Urbana, Illinois, AS. Dia memiliki jaringan keinsinyuran global, menulis di lebih dari 100 jurnal dan publikasi, memegang berbagai hak paten, dan fasih dalam 5 bahasa (Indonesia, Cina dengan 5 dialeknya, Jepang, .Inggris dan Malaysia). Dalam karier profesional sebagai ahli struktur, pernah menangani konstelasi struktur sangat kompleks di megapolitan Tokyo dan kota-kota lain dunia, seperti audit melacak kelakuan struktural setiap bangunan bila terjadi anomali, gedung pencakar langit dan bangunan bawah tanah yang berlapis di negara yang rawan gempa. Tania Gunadi, perempuan kelahiran Bandung 1983, berhasil mendapat pekerjaan di dunia film di Los Angeles selama 15 tahun sebagai artis, walaupun sebelumnya sempat menjadi tukang cuci piring di restoran, pelayan bar, dan pekerjaan kasar lainnya. Selain menceritkan Indonesia ke rekan-rekannya, dia biasanya diminta berperan sebagai gadis dari Vietnam, Korea, Jepang, akhirnya perannya diubah menjadi Indonesia, seraya kadang-kadang disuruh berdialog dalam bahasa Indonesia atau bahasa Sunda. Taiwan Deyantono, sejak 1976 merantau ke Taiwan, tempat 300.000 orang Indonesia bekerja, dan membekalinya dengan bahasa Mandarin di Mandarin Training Center pada National Taiwan Normal University, Taipei City, dan menangkap sejumlah peluang bisnis. Bersama seorang Taiwan, dia membuka toko Indonesia pertama di Taipei, Indojaya, di dalam setasiun Taipei. Setelah itu usahanya berkembang dalam beragam bidang usaha seperti restoran Indonesia, pengiriman uang, agen TKI, dan majalah INTAI (Indonesia Taiwan). Setelah menamatkan MBA di University of Detroit, AS, dan Fu Chen Catholic University, Taipei, 2006, ia menulis buku-buku.novel, dalam bahasa Indonesia dan Mandarin, dan aktif di berbagai organisasi ekonomi dan perdagangan yang menghubungkan Indonesia dan Taiwan. Belanda Judistiwan Sadjasudirdja, merupakan satu dari ribuan korban pertikaian politik Indonesia yang tak terselesaikan, hidup tersingkir sebagai buangan (exile) tanpa kejelasan status, setelah kewarganegaraannya dicabut oleh pemerintah ORBA. Ia berharap pemerintahan Joko Widodo dapat menyelesaikan tragedi 1965 dan kelanjutannya yang telah lama dibiarkan. Ia mengikuti ayahnya Soeraedi Tahsin Sandjadirdja yang dilantik oleh Presiden Soekarno menjadi Duta Besar RI di Mali, saat dia berumur 10 tahun pada bulan Mei 1965. Pada tahun 1977 setelah sempat bermukin di RRT, menuju Belanda sebagai tempat kehidupan keluarga selanjutnya. Pada tahun 1985 memperoleh kewarganegaraan Belanda. Melihat apa yang telah diderita keluarga dan mertuanya yang tinggal di Jakarta, ia hingga sekarang masih was-was pada hukum Indonesia, khususnya penyelesaian masalah HAM. Dia masih tetap mencintai Tanah Airnya. Latif Gau, sebagai kader Philips di Indonesia, saat krisis moneter 1997, sedang kuliah di Belanda dengan beasiswa Philips, perusahaan tempat dia bekerja harus mengurangi banyak pegawainya, yang juga mengancam Latif apabila dia kembali ke Indonesia. Dia berhasil memperoleh posisi-posisi baik di beberapa perusahaan multinasional Belanda. Pada 2013 bekerjasama dengan teman di Jakarta, ia mendirikan perusahaan Abyor Europe BV, dalam TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) di wilayah High Tech Campus Eindhoven (HTCE), satu-satunya perusahaan Indonesia di HTCE, dan yang pasar TIKnya menembus Eropa. HTCE merupakan pusat riset dan penghasil paten terbesar di dunia, melebihi Silicon Valley di San Diego, AS. Ia memberikan kesempatan kepada warga Indonesia di Eropa untuk magang atau menimba ilmu, seraya memperkenalkan kemampuan TIK anak bangsa ke Eropa dengan mengadakan roadshow dengan 15 perusahaan Indonesia, seraya salah satu seminarnya “Indonesia ICT Day”, dihadiri Dubes Retno Marsudi, kini Menteri Luar Negeri. BTC (Brainport Talent Center) di Eindhoven, mengajak bakat muda dari Indonesia untuk ikut program mereka, mengisi lowongan pekerjaan perusahaan-perusahaan high tech di sekitarnya. BTC membutuhkan dukungan pemerintah Indonesia untuk kerjasama dalam program ini. Ini tidak boleh dianggap sebagai “brain drain”, melainkan “brain circulation”. Hal ini telah dibicarakan Latif dengan KBRI, Kemenperin, dan Kemenristek. Sayangnya hingga kini belum ada tindak lanjutnya. Hong Kong Diana Ang, sebagai seorang arsitek muda lulusan Rice University, Houston, AS, di OMA (Office for Metropolitan Architecture), Hongkong, tetap menjaga hubungan dengan dunia arsitektur Indonesia dan belajar pada para arsitek senior di tanah air. Bersama para arsitek Indonesia di rantau, ia aktif dalam kelompok kerja Kota Layak Tinggal (Liveable Cities Task Force) dalam Indonesia Diaspora Network (IDN) dengan proyek percontohan Kota Tua Creative Festival 2014. Ia mempunyai ide besar dalam bentuk “Indonesiaku dalam Sketsa”, suatu landasan pembangunan bagi Indonesia dengan ribuan pulau, beragam budaya yang tercermin dalam bentuk dialek, makanan, tradisi, karakter kota-kota, sebagai kualitas tak ternilai yang terangkum dalam ungkapan Bhineka Tunggal Ika – berbeda-beda tetapi satu. Ide ini menawarkan pembangunan berdasar keberagaman namun tetap bersatu dalam kaitan kota besar, kota-kota kecil, dan pedesaan, dengan Visi yang mendasari bahwa setiap tipe pembangunan mampu mengembangkan kualitas hidup penduduknya seraya mempertahankan identitas kedaerahan, dan pulau-pulau disatukan dan dengan dihubungkan dengan infrastruktur. Meksiko Djoko Waluyo, sejak 1978 menetap di Mexico dan AS, dan menjalani berbagai pendidikan teknik, administrasi, bisnis, keaurangan, manajemen sumber daya. Ia pernah menduduki posisi eksekutif di berbagai perusahaan seperti Kendall, Fisher Price, Ford, GM, Chrysler, Basset Walker, Nike, dan Hanes. Ia pernah memiliki perusahaan MEXINDO, yang mengerjakan produksi untuk perusahaan di AS menggunakan tenaga Meksiko Pada tahun 2000 membantu KBRI Mexico City mengembangkan bisnis Indonesia dengan Meksiko dan negara-negara Amerika Latin lainnya, saat Indonesia Trade Center (ITPC) ditutup. Setelah mencermati buruh migran Meksiko ke AS, ia memutuskan membantu buruh migran Indonesia, dan akhirnya memersiapkan program Svarna Pintar, yang intinya akan merupakan program tabungan hari tua untuk tenaga kerja Indonesia di luar negeri. Caranya adalah dengan melakukan pendampingan usaha sehingga mereka bisa lebih berdaya secara ekonomi. Jerman Hera Nugraha, awalnya bekerja di Industri Pesawat Terbang Nasional (IPTN), dan saat krisis ekonomi 1998 ia hijrah ke Jerman bersama keluarga. Bersama Tim IPTN yang bekerjasama dengan perusahaan IPTN, ditarik bekerja di perushaan Oberpfafenhofen, Munchen mengerjakan proyek pesawat terbaru FD-728 dan FD-928. Hanya memiliki WN Indonesia tanpa memiliki WN Jerman, ia mendapat kesulitan bekerja sebagai insinyur yang terhambat kariernya. Istrinyapun insinyur dirgantara yang bekerja di IPTN, yang kemudian th 2000 bekerja di perusahaan Airbus. Anak2nya th 2000 dibawa ke Jerman. Kini yang sulung memimpin Angklung-Hamburg Orchestra dan menjadi Ketua PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) di Hamburg. Mempunyai kewarganegaraan ganda Indonesia-Jerman akan lebih membuka peluang saling menguntungkan, karena UU kewarganegaraan ganda Jerman memungkinkan dia memperoleh dwi-kewarganegaraan Jerman-Indonesia.. Malaysia Muhammad Firdaus, sebagai orang Nusa Tenggara Timur, yang terdampar di Sabah, ia mendirikan YAPIN (Yayasan Peduli Insani Indonesia), lembaga yang menyelenggarakan pendidikan anak-anak Indonesia di perkebunan sawit Sabah, agar tetap mengenal dan mencintai Indonesia. Selanjutnya untuk memperkenalkan disiplin-disiplin ilmu yang berkembang di Indonesia dan dunia internasional, seraya menjadi kreatif dan mandiri. Kanada Roes Arief Budiman, Profesor di Departemen Engineering Universitas Calgary, bidang matematika dan fisika ini, ingin mendirikan padepokan matematika dan fisika di Indonesia, dengan mengingat juga bahwa biaya hidup di Indonesia lebih murah. Polandia Teija Gumilar, laik-laki kelahiran 1973 di Bandung, lulusan studi Desain Produk Industri di ITB pada 1997, berkembang sebagai seorang profesional internasional, bekerja sebagai konsultan desain di perusahaan di dekat kota Heilbronn, Selatan Jerman. Dari Jerman dia pindah ke Polandia menyelesaikan studi S-3 tahun 2006, ia sengaja mencari pengalaman baru di Polandia, berbeda dari teman-temannya yang bersekolah bermukim di Belanda atau Jerman. Dia tersentuh untuk mengembangkan peningkatan taraf hidup para penyandang cacat, difabel. Salah satu adalah mendesain kursi roda listrik yang bisa membuat pemakainya berubah posisi dari duduk menjadi berdiri, dengan joystick bisa bergerak ke kanan-kiri, sehingga perabotan rumah tangga tidak harus disesuaikan untuk mereka dan bisa hidup berintegrasi dengan orang-orang biasa. Dia sangat ingin dapat mengembangkannya di Indonesia. Salah satu surat kabar Polandia “Glos Wielkopolski” menomisakannya sebagai Man of the Year 2014 untuk kegiatannya untuk meningkatkan taraf hidup manula dan difabel... Sambutan PEMDA Banyuwangi Terhadap Diasporanya Bupati menyambut Diasporanya, merupakan contoh gemilang dari Pimpinan Darah yang menghargai warga Diasporanya, sebagai agen-agen pembangunan. Banyuwangi menempati tempat teratas dalam kenaikan wisatawan mancanegara 50 persen dan domestik 30 persen, kini tumbuh menjadi kawasan wisata dunia berkat bantuan warganya di perantauan untuk mengenalkan keindahan alam, makanan khas, dan hotel-hotel serta penginapan-penginapan (homestay). a.l. melaui situs yang dikembangkan Lutfi salah seorang warga yang kuliah di Yogya, www.homestaydibanyuwangi.com. Sejak 3 (tiga) tahun lalu, Bupati Anas menghargai Diaspora asal Banyuwangi dengan mengundang mereka memalui berbagai media menghadiri pertemuan Silaturahim di Pendopo Kabupaten setiap usai Lebaran dalam bentuk acara Diaspora Banyuwangi. Beberapa warga diasporanya, mantan TKI (Tenaga Kerja Indonesia), baik dari kota lain di Indonesia maupun mancanegara seperti dari Taiwan, kembali dan kemudian membangun daerahnya. Ada yang membangun sekolah menengah pertama dan pondokan bagi anak-anak tidak mampu. Ada yang dari Arab Saudi membangun kampung halamannya. Ketua Ikatan Keluarga Banyuwangi (Ikawangi) di Bali, Dewata Bambang Sutiyono, misalnya, ikut bekerja sebagai pemasar produk Banyuwangi. Tahun lalu, Ikawangi membangun outlet (tempat berjualan) kerajinan dan makanan khas Banyuwangi di Denpasar, Bali. Ikawangi Taiwan yang beranggotakan sekitar 20.000 orang juga telah bergerak membangun desa kantong-kantong TKI. Mereka saat ini memiliki yayasan yatim piatu dan sosial, dan sekolah.(Dicuplik dari Harian Kompas, 7 Juli’16)
Hemen destekle
Bu kampanyayı imzala
Bağlantıyı kopyala
WhatsApp
Facebook
X
E-posta