DPR dan Presiden Segera Mengesahkan UU Kewarganegaraan Ganda RI

0 telah menandatangani. Mari kita ke 7.500.


Kami semua menyambut aspirasi orang Indonesia, baik yang masih berwarganegara RI, maupun yang sudah berwarga negara asing, seraya tetap mencintai Tanah Airnya. Hal ini diteguhkan dan dicetuskan dalam Kongres Ketiga Diaspora Indonesia, 12-14 Agustus’15, di Jakarta, bertema “Diaspora Bakti Bangsa”, dibuka oleh Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, dan dihadiri 1.800 peserta dari 45 negara. Pemrakarsa awal adalah Bapak Dino Patti Djalal, mantan Dubes RI di Amerika Serikat, yang pada Kongres Diaspora Indonesia pertama di Los Angeles, melahirkan Indonesian Diaspora Network (IDN).

Rasa kerinduan ke tanah airnya, tercermin dalam peristiwa-peristiwa nasional seperti Peringatan Kemerdekaan RI ke-70 di Jenewa, Idul Fitri, dll seperti tercermin dalam beberapa foto di bawah ini.

Diperkirakan lebih dari 8 juta orang berasal dari Indonesia tersebar di 5 (lima) benua, dan lebih dari 90 negara. Mereka di masa lalu meninggalkan Tanah Airnya untuk memperjuangkan peluang kehidupan yang lebih baik, atau terbuang oleh kondisi politik masa lalu. Mereka masih tetap mencintai negeri asalnya, Indonesia. Sebanyak 4,6 juta dari antara mereka tetap mempertahankan Kewarganegaraan Indonesia. 

Contoh ke-1.

Di beberapa Negara seperti Amerika Serikat, anak-anak mereka yang lahir di sana secara otomatis memperoleh kewarganegaraan setempat. Orangtua mereka memberikan kebebasan kepada mereka untuk memilih kewarganegaraannya saat mereka dewasa.

Akan sangat menguntungkan baginya dan negeri kita, apabila mereka dapat tetap mengikuti kewarganegaraan Indonesia orangtuanya tanpa harus melepaskan kewarganegaraan tempat kelahirannya. Demikian juga bagi orang asal Indonesia yang ingin merangkul kembali kewarganegaraan Indonesia, tanpa kesulitan dapat kembali ke Indonesia, untuk menyumbangkan dharma bhakti mereka bagi Tanah Tumpah Darah asalnya, Indonesia.

Dengan adanya Dwi Kewarganegaraan RI, akan memudahkan mereka yang berasal dari Indonesia maupun anak serta cucu mereka, dapat berinvestasi ikut membangun negaranya dan atau tidak ragu kembali ke Indonesia.

Contoh ke-2.

Saat ini Diaspora Indonesia yang merantau dan telah menjadi warga negara tempat tinggalnya, memperoleh kesulitan apabila ingin berinvestasi di Indonesia dan menyumbangkan kembali tenaga dan keahlian yang diperoleh baik karena berusaha maupun meraih ilmu dan keahlian lebih tinggi.

Dwikenegaraan RI, akan mendorong arus balik tenaga ahli (brain gain), dan mengurangi arus pelarian tenaga ahli (brain drain). 

Beberapa catatan penting adalah, nilai remitansi Diaspora Indonesia ke Indonesia Rp 109 trilliun, belum termasuk nilai potensi investasi, seraya diaspora Philipina dan Thailand ke negaranya 3 kali lipatnya. Perusahaan raksasa global Teknologi Informasi Marvell yang menguasai 2/3 industri semikonduktor dunia misalnya, pendirinya orang dari Indonesia yang meraih gelar Doktor di UCLA.

Contoh ke-3.

Ini suatu contoh ketentuan di Filipina yang dapat ditempuh Indonesia.

Beberapa orang Filipina memutuskan untuk kembali & menetap di Filipina, tanah air tempat kelahiran mereka, untuk "pensiun" menjadi guru ataupun relawan di bidang lainnya (kesehatan, pelatihan), walaupun sudah menjadi warga negara Australia. Ini dimungkinkan karena pada tahun 2003 pemerintah Filipina meloloskan Citizenship Retention and Re-acquisition Act of 2003 yang memungkinkan warga negara Filipina yang kehilangan status kewarnegaraannya karena proses naturalisasi di negara lain mendapatkan kembali status kewarnegaraan Filipina.

Contoh ke-4.

Karies Dr.Ir. Suyoto Rais sangat berhasil, di Jepang. Perusahaan-perusahaan Jepang memperebutkannya, dengan tawaran jabatan tertinggi perusahaan, sekalipun. Di sisi lain jiwanya gundah, khususnya di malam hari, karena tidak bisa sepenuhnya mengabdi kepada Ibu Pertiwinya. ”Adakah peluang bagi saya untuk mengabdi di BUMN, agar tidak terus mengabdi di perusahaan asing?” tanyanya kepada Dahlan Iskan.

Bayangkan, dahulu dia adalah anak desa dari pedalaman Tuban, Jatim, yang sangat miskin. Kini dia berhasil mencapai jabatan president director untuk sebuah perusahaan Jepang yang sangat besar. Akhirnya, jadilah Dr Suyoto orang pertama dalam sejarah perusahaan Jepang: orang Indonesia yang ditugaskan ke Indonesia dalam statusnya sebagai orang asing.

 



Hari ini: Arnold mengandalkanmu

Arnold Djiwatampu membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "Presiden Republik Indonesia: DPR dan Presiden Segera Mengesahkan UU Kewarganegaraan Ganda RI". Bergabunglah dengan Arnold dan 6.341 pendukung lainnya hari ini.