A total ban on keeping primates as pets

0 have signed. Let’s get to 15,000!


“Terjadi lagi insiden monyet yang lepas, berkeliaran membahayakan sekitarnya dan tak berhasil ditangkap di Jember”

Awal Maret 2015, tim JAAN berangkat dari Jakarta ke Jember untuk membantu menangkap dan merelokasi seekor monyet peliharaan yang lepas.

Tidak diketahui jelas dari mana ‘monyet liar’ ini berasal tetapi yang jelas, banyak korban berjatuhan. Banyak orang digigit di kaki dan lengan, sehingga harus dijahit bahkan menjalani rawat inap di rumah sakit.

Tidak diragukan bahwa monyet ini awalnya adalah peliharaan yang lepas, kelaparan dan ketakutan, berkeliaran di jalanan.

Departemen Kehutanan dan polisi setempat menyetujui tindakan “bunuh di tempat” dilakukan oleh masyarakat. Monyet itu diburu, sehingga membuatnya makin ketakutan dan agresif. Kasus-kasus seperti ini terjadi di mana-mana karena masyarakat dibiarkan memiliki monyet sebagai peliharaan. JAAN telah menangkap puluhan primata akibat kasus serupa.

Monyet-monyet bekas peliharaan juga banyak yang diserahkan oleh pemilik sebelumnya ke Balai Karantina Hewan di Ragunan, Jakarta dan akhirnya menderita dalam kandang-kandang kecil, menanti masa depan yang tak pasti.

Beberapa contoh kasus yang dihadapi JAAN beberapa tahun belakangan ini adalah:

Tahun 2009 di Bekasi, seekor monyet dewasa lepas dan menggigit banyak orang. Saat JAAN tiba di lokasi dan berbincang dengan para korban, kisah yang diceritakan lagi-lagi sama; si monyet masuk ke rumah untuk mencari makanan, lalu orang di dalam rumah atau yang berada dekat digigit oleh monyet. Tiga orang menderita luka parah yang harus dijahit, dan karena monyet adalah salah satu HPR (Hewan Pembawa Rabies), ketiganya harus mendapatkan suntikan anti rabies.

Tahun 2006 seekor monyet bekas peliharaan dilepaskan oleh pemilik sebelumnya di Kebun Raya Bogor, dan monyet akhirnya menggigit bayi yang sedang dibaringkan di taman.

Kasus-kasus seperti ini terjadi berulangkali dan insiden ini menyebabkan trauma baik bagi si monyet maupun orang-orang yang digigit/diserang.

Karena itu, primata tidak seharusnya dijadikan hewan peliharaan. Meskipun beberapa spesies primata tidak memiliki status perlindungan penuh di alam liar, seharusnya ada larangan menjadikan primata sebagai hewan peliharaan, karena:

1.    Penularan penyakit. Primata sering tertular penyakit-penyakit dari manusia yang tidak ditemukan di alam liar. Setelahnya, primata akan menyebarkan penyakit ini ke yang lain, termasuk ke anak-anak yang tertarik untuk mendekat.

 Primata bisa menyerang dan menyebabkan luka parah di manusia, seperti yang terjadi pada bulan Februari-Maret 2015 di Jember Jawa Timur dengan korban luka parah tak kurang dari enam belas orang. Primata menyerang karena teritorinya dilanggar. Ketika primata dikurung atau dirantai, area sempit itu akan dianggap sebagai teritorinya. Ketika kita mendekat, besar kemungkinan kita akan diserang. Ini adalah perilaku alamiah primata. Karena itu, menjadikan primata sebagai hewan peliharaan mengancam kesehatan dan keselamatan masyarakat.

2.    Primata biasanya dibeli saat masih kecil dan terlihat ‘lucu’, tetapi mereka akan tumbuh dewasa lalu mengikuti insting dan perilaku alamiah yang sebelumnya dikekang saat mereka dikurung atau dirantai.  Mereka menjadi frustasi, marah dan sedih. Ini adalah bentuk pelanggaran terhadap hukum perlindungan kesejahteraan satwa KUHP pasal 302. Mengurung atau merantai primata adalah pelanggaran berat terhadap kesejahteraan dan hak-hak satwa, Ketika primata tumbuh dewasa, inilah yang biasanya terjadi pada mereka:

-       Ditelantarkan oleh pemiliknya

-       Dilepas begitu saja di area yang tidak sesuai dan dekat pemukiman (di taman-taman seperti di Cibubur dan Kebun Raya Bogor)

-       Lepas dan membahayakan masyarakat; primata menjadi berbahaya karena mereka kelaparan, ketakutan, kebingungan dan mencoba mempertahankan diri.

3.      Bayi primata direnggut dari keluarganya di hutan; dalam proses ini, induk dibunuh untuk bisa mengambil bayinya, ini adalah kekejaman yang amat sangat dan mengambil satwa liar seenaknya dari alam jelas adalah tindakan ilegal!

4.    Primata seringkali ditangkap dari hutan-hutan di Sumatera. Untuk membawanya ke pulau Jawa dan diperdagangkan di pasar sebagai hewan peliharaan, primata-primata ini ditransportasikan secara ilegal antar pulau. Ini adalah pelanggaran terhadap peraturan-peraturan pencegahan penyebaran rabies. Dan biasanya transportasi ini tidak dilengkapi dokumen yang diperlukan dari Departemen Kehutanan. Karena itu, keseluruhan prosesnya—mulai dari penangkapan, transportasi, hingga jual beli bayi primata di pasar—adalah ilegal.

Pelarangan untuk memiliki primata sebagai hewan peliharaan di Indonesia harus diberlakukan demi keselamatan dan kesejahteraan masyarakat sekaligus juga bagi kelestarian, keselamatan dan kesejahteraan satwa primata itu sendiri.

 #primatabukanhewanpeliharaan

‘Another dangerous, wild and uncatchable Monkey in Jember”

Begin March 2015, the JAAN team traveled from Jakarta to help catch and relocate an escaped ex-pet monkey. 

 It wasn’t clear were this ‘wild monkey’ came from but what was clear was that he was making victims all around.  People were bitten in the leg, arms, stitched, hospitalized.

Surely it was clear that this monkey once was a pet, had escaped and was hungry and mostly scared roaming the streets.

 The forestry department and local police had approved of ‘shoot to kill’ by local citizens. The monkey was being hunted down, making the monkey only more frightened and aggressive.  These cases happen everywhere where people are allowed to keep primates as pets. JAAN has captured tens of primates in such similar cases.

Ex-pet monkeys also keep being handed over by their former owners to the  Jakarta Quarantine authorities (BKHI) in Ragunan Area where they are suffering in small cages, awaiting an uncertain future. 

A few examples JAAN has run in to in the past years:

In 2009 in Bekasi, a male macaque adult monkey had escaped and bitten many people. When JAAN arrived on site and spoke to the victims, the story was the same everywhere; the monkey had entered the house trying to obtain food, then the person in the house or near the monkey was bitten.

Three different people were suffering from deep wounds, all needed stitching and because primates can carry rabies, all took rabies shots.

 In 2006 an ex-pet macaque who had been released by the previous owners in the Bogor Botanical Garden had bitten a baby who was lying on a picknick cloth inside the garden.

These cases all happening all over and are as traumatizing for the monkey as for the persons involved.

Therefore, primates simply should not be allowed to be kept as a pet. No matter what the status of the primate species is in the wild, they should be forbidden to be kept as pet for the following very strong reasons;

1.     Disease transmission. Humans often transfer diseases to primates which they wouldn’t be exposed too when still in the forest, after which the primates spread the diseases to others, including especially children who are attracted to the primates and come close. 

Primates can attack and severely harm people, as now again proved in February-March 2015 in Jember, East Java, where until today sixteen people suffer from severe injuries. Primates will attack then their territories are invaded. When caged or chained, that small area is seen as their territory. When you come close to the primate, there is a big chance you will be attacked. This is natural behavior. Therefore keeping primates as pets is a public health hazard. 

2.     Primates are purchased when young and ‘cute’. But they grow up and want to follow their natural instincts and behavior which is deprived from them when kept caged and chained. They become frustrated, angry and sad. It is a violation of the Indonesian Welfare law KUHP pasal 302. Keeping a primate caged or chained is a serious violation of their welfare and rights. When the primates grow up they:

-       Are often neglected by the owners

-       Are released in to unsuitable areas (parks for example such as Cibubur or Bogor Botanical Garden)

-       Escape and became dangerous for surrounding people; the primates become dangerous only because they are hungry, afraid and confused and defend themselves.

3.     Primates are taken away from their families in the forests; in this process the mothers are killed to obtain the babies, this is very cruel and its illegal to take wildlife from the forests no matter what the status of the species is!

4.     The primates are often captured in Sumatran forests. To bring the primates to Java, to be sold on the markets for the pet trade, the primates travel between islands. This is a violation of the regulations on the prevention of rabies. Also, no legal documents for these transports are obtained from forestry department. Therefore this process is illegal and selling and purchasing a baby primate on the market is illegal as well.

 Banning to keep primates as pets in Indonesia is a must for both the safety and the welfare of the people as the safety of the primates. 

 #primatesarenotpets



Today: Femke is counting on you

Femke den Haas needs your help with “Presiden @jokowi_do2, buat larangan untuk pelihara monyet. Monyet bisa berbahaya & tularkan penyakit jika dipelihara manusia”. Join Femke and 11,492 supporters today.