PUTIHKAN HUKUMAN KRISNA ADI !

0 telah menandatangani. Mari kita ke 1.000.


19 November 2018, Aceh United vs PSMP di Bireun. Tidak ada yang aneh dari pertandingan yang dimenangi tuan rumah dengan skor 3-2 ini, sampai akhirnya sebuah tendangan penalti gagal masuk dan diikuti gestur selebrasi sujud syukur oleh si penendang penalti, Krisna Adi. Pasca pertandingan , sosial media ramai, ramai-ramai fanspage bola di berbagai platform media online mempermasalahkan gestur Krisna Adi yang melakukan sujud, tekanan publik begitu kuat, PSSI akhirnya ambil tindakan jelas. Investigasi PSSI berlangsung cepat, mereka temukan pengaturan skor yang dilakukan oleh PSMP di empat pertandingan. Selebrasi akan penalti yang gagal itu menjadi kasus yang panjang, namun, seandainya selebrasi itu tak pernah ada, pengaturan skor di Liga 2 tak akan pernah dibahas. 

Dalam putusannya, komdis PSSI merujuk Pasal 72 jo pasal 141 Kode Disiplin PSSI dimana PS Mojokerto Putra dihukum larangan ikut serta dalam kompetisi PSSI tahun 2019 dan Krisna Adi Darma dilarang beraktivitas dalam kegiatan sepak bola di lingkungan PSSI seumur hidup. Pasal 72 yang menjadi norma kunci, sementara Pasal 141 isinya cuma teknis saja. Pada pasal ini, sesungguhnya manipulasi pertandingan telah diantisipasi dengan menyiapkan hukuman bagi : 1. Pemain 2. Perangkat pertandingan 3. Offisial 4. Klub. Meskipun ada 4 unsur pelaku pengaturan (manipulasi) skor yang dapat dihukum, uniknya, pada kasus PSMP, hanya dua yang terhukum, klub dan satu orang pemain (Krisna Adi).

Krisna Adi dihukum berdasarkan Poin ketiga yang menyatakan bahwa "pemain yang ikut serta berkonspirasi dapat dihukum denda atau hukuman seumur hidup". Artinya, secara norma, hukumannya tidak salah, namun disini unsur "Ikut Serta" yang menjadi masalah. Mengapa frasa "ikut serta" menjadi masalah dan janggal bagi Krisna Adi? yaap bagaimana mungkin seseorang yang dihukum karena "ikut serta" , kemudian hanya dihukum seorang diri ? Apakah mungkin seorang pemain pengganti mengatur sendiri hasil pertandingan? Sementara itu PSMP, hanya dihukum ban dari kompetisi selama 2 tahun, sebuah hukuman yang tidak menimbulkan kepastian hukum, tidak ada frasa degradasi disana, dimana posisi PSMP saat ban berakhir? tetap di Liga 2? tapi yang jadi poin, hukumam PSMP jauh lebih ringan. Padahal, Komdis menyatakan bahwa PSMP terlibat pengaturan skor dalam 4 pertandingan! Tak satu pun pengurus/ofisial/perangkat pertandingan yang dihukum, tak satupun juga tim lain yang terlibat dalam 4 pertandingan tersebut dihukum!

Artinya, logika vonis komdis : PSMP melakukan pengaturan skor di 4 pertandingan dan semua pertandingan diatur sendiri oleh Krisna Adi !. Sangat tidak masuk akal gimana seorang pemain melakukan pengaturan seorang diri, apalagi klub ikut dihukum! Hukuman kepada Krisna Adi pada dasarnya tidak salah, namun keadilannya yang salah, Krisna Adi tidak seharusnya dihukum sendirian, sayangnya pertimbangan dan jalannya sidang tak bisa diikuti karena komdis sendiri mengatur sifatnya yang tertutup dan rahasia. Masa banding yang diberikan pun hanya beberapa hari dan sampai hari ini, Krisna Adi tidak mendapatkan salinan putusan, baik berupa hardcopy ataupun softcopy, ia mengetahui hukumannya melalui mediaa , miris!

Setahun lebih berlalu, satu-satunya harapan Krisna Adi untuk mendapatkan keadilan adalah melalui amnesti langsung dari ketua PSSI. Dengan bantuan APPI, bulan lalu, Krisna Adi sudah menyurati Ketua Umum PSSI untuk mendapatkan pengampunan. Kami menganggap pengampunan harus diberikan demi keadilan, bahkan hukuman untuk PSMP pun harus dibatalkan. apalagi, di masa lalu pengampunan untuk kasus yang lebih serius justru pernah dilakukan PSSI. Edy Rahmayadi, mantan ketum PSSI pernah berikan amnesti untuk belasan tervonis bersalah pada kasus Sepak Bola Gajah PSIS vs PSS , ingat? ya 2014 kedua tim sengaja jebol gawang sendiri, menghindari lawan berat di babak berikutnya.

Kasus yang begitu jelas merupakan sebuah manipulasi pertandingan ini malah diampuni para pelakunya, Iwan Bule harus berkaca dari kasus ini, dia bisa mengampuni Krisna Adi dan kembali catatkan milestone, arah baru pemberantasan mafia bola. Sebagai bahan pertimbangan pengampunan, selain kejanggalan vonis komdis tersebut, dapat dilihat bagaimana melalui tayangan di narasi tv, Krisna Adi berikan banyak petunjuk dalam kasus ini, petunjuk yang bahkan tidak ditindaklanjuti oleh Satgas Anti Mafia Bola.

Krisna Adi memang salah, tapi atas nama Keadilan, putusan ini harus dibatalkan. Atas nama keadilan dan untuk PSSI yang lebih baik, melalui petisi ini, kami meminta PSSI untuk memutihkan hukuman larangan beraktivitas seumur hidup di Sepak Bola bagi Krisna Adi.