Merkuri mengalir, Pemimpin Membisu, Rakyat Menderita !!!!

Masalahnya


‎Sungai Batanghari,  adalah sungai terpanjang di Sumatera yang menjadi  kebanggan negeri Jambi.  bukan sekadar aliran air. Ia adalah urat nadi kehidupan masyarakat Jambi. Dari sungai ini, kami minum, mandi, bertani, menangkap ikan, bahkan menyusun peradaban. Namun kini, Batanghari sedang sekarat.

‎Setiap hari, aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di wilayah hulu—khususnya di Kecamatan Limun dan Batang Asai, Kabupaten Sarolangun—menggerogoti kesehatan sungai ini. Airnya yang dulu jernih berubah menjadi keruh pekat. Ikan-ikan langka seperti Belida, Tapah, dan Arwana semakin sulit ditemukan. Warga yang dulu bangga dengan sungai mereka, kini takut menggunakannya.

‎PETI bukan sekadar masalah ilegalitas. Ini adalah ancaman nyata terhadap kesehatan, ekonomi, dan masa depan generasi muda. Kandungan merkuri dari kegiatan PETI terbukti mencemari aliran sungai dan membahayakan kesehatan manusia—menyebabkan gangguan saraf, tremor, hingga dampak jangka panjang pada kecerdasan anak-anak. Air bersih menjadi barang langka, dan nelayan kehilangan mata pencahariannya.

‎Salah satu desa yang terdampak langsung adalah Desa Mandiangin Tuo, yang terletak di pinggiran Sungai Tembesi—anak Sungai Batanghari—warga menghadapi dilema yang memilukan. Saat musim kemarau datang, sumur-sumur mereka kering total. Satu-satunya harapan mereka hanyalah air sungai yang keruh dan tercemar. Tidak ada pilihan lain. Dengan risiko penyakit kulit, diare, dan bahaya jangka panjang akibat paparan logam berat, mereka tetap mengandalkan sungai ini untuk bertahan hidup. 

‎Menurut data jurnal Universitas Jambi (2023), PETI telah merusak lebih dari 45.000 hektare daerah aliran sungai (DAS) di provinsi ini. Sebuah penelitian lain mencatat lebih dari 1.200 mesin PETI (Dompeng)  pernah beroperasi di kawasan ini, dan jumlahnya terus bertambah.

‎ Bahkan PDAM Jambi yang melayani lebih dari 88.000 pelanggan, mengandalkan Sungai Batanghari sebagai sumber air baku. Jika kerusakan ini terus dibiarkan, maka bukan hanya warga Sarolangun yang terdampak, tapi seluruh Provinsi Jambi.

‎Kami, warga yang peduli terhadap masa depan Sungai Batanghari, dengan ini menyampaikan tuntutan kepada:

‎Bupati Sarolangun, H. Hurmin
‎dan Gubernur Jambi, Al Haris

‎Kami tahu kalian tahu. Aktivitas PETI ini bukan hal baru. ini Sudah berlangsung bertahun-tahun, bahkan semakin masif dari tahun ke tahun. Kami tidak ingin lagi mendengar alasan klasik. Yang kami inginkan adalah:

‎TINDAKAN NYATA untuk menghentikan seluruh aktivitas PETI di wilayah Sarolangun, khususnya di daerah hulu sungai.

‎PENEGAKAN HUKUM tanpa tebang pilih kepada pelaku dan pemodal PETI, siapapun mereka.

‎PEMULIHAN ekosistem sungai, dan JAMINAN hak masyarakat atas air bersih dan lingkungan sehat.


‎Kami tidak ingin Sungai Batanghari tinggal nama. Kami tidak ingin anak-anak kami hanya mengenalnya lewat buku sejarah.

‎Sungai ini memang tidak bisa bersuara sendiri. Tapi kami bisa. Dan kami akan bersuara hari ini.

‎Tolong tanda tangani petisi ini dan bagikan.
‎Suaramu adalah bagian dari perlawanan. Suaramu adalah harapan bagi Sungai Batanghari.

‎“Jika sungai tak lagi mengalir, kepada siapa lagi kita bergantung?”



avatar of the starter
Peci MerahPembuka Petisibukan siapa-siapa. Saya hanya bagian dari rakyat biasa. Yang tidak bisa diam melihat ketidakadilan dan kemunafikan. karena saya tahu: diam adalah bentuk paling halus dari persetujuan. tidak tunduk pada siapapun kecuali pada KEBENARAN.

19

Masalahnya


‎Sungai Batanghari,  adalah sungai terpanjang di Sumatera yang menjadi  kebanggan negeri Jambi.  bukan sekadar aliran air. Ia adalah urat nadi kehidupan masyarakat Jambi. Dari sungai ini, kami minum, mandi, bertani, menangkap ikan, bahkan menyusun peradaban. Namun kini, Batanghari sedang sekarat.

‎Setiap hari, aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di wilayah hulu—khususnya di Kecamatan Limun dan Batang Asai, Kabupaten Sarolangun—menggerogoti kesehatan sungai ini. Airnya yang dulu jernih berubah menjadi keruh pekat. Ikan-ikan langka seperti Belida, Tapah, dan Arwana semakin sulit ditemukan. Warga yang dulu bangga dengan sungai mereka, kini takut menggunakannya.

‎PETI bukan sekadar masalah ilegalitas. Ini adalah ancaman nyata terhadap kesehatan, ekonomi, dan masa depan generasi muda. Kandungan merkuri dari kegiatan PETI terbukti mencemari aliran sungai dan membahayakan kesehatan manusia—menyebabkan gangguan saraf, tremor, hingga dampak jangka panjang pada kecerdasan anak-anak. Air bersih menjadi barang langka, dan nelayan kehilangan mata pencahariannya.

‎Salah satu desa yang terdampak langsung adalah Desa Mandiangin Tuo, yang terletak di pinggiran Sungai Tembesi—anak Sungai Batanghari—warga menghadapi dilema yang memilukan. Saat musim kemarau datang, sumur-sumur mereka kering total. Satu-satunya harapan mereka hanyalah air sungai yang keruh dan tercemar. Tidak ada pilihan lain. Dengan risiko penyakit kulit, diare, dan bahaya jangka panjang akibat paparan logam berat, mereka tetap mengandalkan sungai ini untuk bertahan hidup. 

‎Menurut data jurnal Universitas Jambi (2023), PETI telah merusak lebih dari 45.000 hektare daerah aliran sungai (DAS) di provinsi ini. Sebuah penelitian lain mencatat lebih dari 1.200 mesin PETI (Dompeng)  pernah beroperasi di kawasan ini, dan jumlahnya terus bertambah.

‎ Bahkan PDAM Jambi yang melayani lebih dari 88.000 pelanggan, mengandalkan Sungai Batanghari sebagai sumber air baku. Jika kerusakan ini terus dibiarkan, maka bukan hanya warga Sarolangun yang terdampak, tapi seluruh Provinsi Jambi.

‎Kami, warga yang peduli terhadap masa depan Sungai Batanghari, dengan ini menyampaikan tuntutan kepada:

‎Bupati Sarolangun, H. Hurmin
‎dan Gubernur Jambi, Al Haris

‎Kami tahu kalian tahu. Aktivitas PETI ini bukan hal baru. ini Sudah berlangsung bertahun-tahun, bahkan semakin masif dari tahun ke tahun. Kami tidak ingin lagi mendengar alasan klasik. Yang kami inginkan adalah:

‎TINDAKAN NYATA untuk menghentikan seluruh aktivitas PETI di wilayah Sarolangun, khususnya di daerah hulu sungai.

‎PENEGAKAN HUKUM tanpa tebang pilih kepada pelaku dan pemodal PETI, siapapun mereka.

‎PEMULIHAN ekosistem sungai, dan JAMINAN hak masyarakat atas air bersih dan lingkungan sehat.


‎Kami tidak ingin Sungai Batanghari tinggal nama. Kami tidak ingin anak-anak kami hanya mengenalnya lewat buku sejarah.

‎Sungai ini memang tidak bisa bersuara sendiri. Tapi kami bisa. Dan kami akan bersuara hari ini.

‎Tolong tanda tangani petisi ini dan bagikan.
‎Suaramu adalah bagian dari perlawanan. Suaramu adalah harapan bagi Sungai Batanghari.

‎“Jika sungai tak lagi mengalir, kepada siapa lagi kita bergantung?”



avatar of the starter
Peci MerahPembuka Petisibukan siapa-siapa. Saya hanya bagian dari rakyat biasa. Yang tidak bisa diam melihat ketidakadilan dan kemunafikan. karena saya tahu: diam adalah bentuk paling halus dari persetujuan. tidak tunduk pada siapapun kecuali pada KEBENARAN.

Pengambil Keputusan

Dr. H. Al Haris, S.Sos., M.H.
Dr. H. Al Haris, S.Sos., M.H.
Gubernur Jambi
Perkembangan terakhir petisi