
Berdasarkan hasil polling yang diunggah oleh Forum Anak Jawa Tengah, mayoritas siswa SMA/SMK di Jawa Tengah secara tegas menyatakan preferensinya terhadap sistem 5 Hari Sekolah. Data menunjukkan bahwa 81,9% responden (dari 60rb anak) memilih 5 hari sekolah dibandingkan 6 hari sekolah. Selain itu, 76% siswa saat ini memang sudah menjalani sistem 5 hari sekolah, yang menandakan bahwa pola ini telah menjadi kebiasaan dan dianggap paling sesuai dengan kondisi peserta didik. Tingginya persentase ini memperlihatkan penolakan yang kuat dari siswa terhadap usulan kebijakan 6 hari sekolah yang kembali diwacanakan.
Dari sisi kenyamanan, hasil polling juga memperkuat alasan penolakan tersebut. Sebanyak 65,1% siswa menyatakan sangat nyaman dan 32,2% cukup nyaman dengan sistem sekolah yang sedang dijalankan saat ini, sehingga lebih dari 97% siswa pada dasarnya merasa cocok dengan sistem 5 Hari Sekolah yang telah berlaku. Sebaliknya, hanya sebagian kecil yang merasa tidak nyaman. Data ini menunjukkan bahwa sistem 5 hari sekolah tidak hanya dipilih, tetapi juga terbukti mendukung kenyamanan, keseimbangan waktu belajar, istirahat, serta kehidupan sosial dan keluarga siswa.
Oleh karena itu, wacana penerapan 6 hari sekolah baik secara serentak maupun melalui uji coba bertahap tidak memiliki dasar kuat dari perspektif kebutuhan dan suara peserta didik.
Namun demikian, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tetap berencana melakukan uji coba sistem 6 hari sekolah secara bertahap di sejumlah sekolah. Kebijakan ini dinilai tidak mencerminkan itikad yang baik dalam mendengar dan mengakomodasi aspirasi warga sekolah, khususnya siswa sebagai subjek utama pendidikan. Oleh karena itu, seluruh warga sekolah terutama siswa, orang tua, maupun guru perlu terus menyuarakan aspirasi penolakan terhadap kebijakan 6 hari sekolah. Mari kita manfaatkan media sosial dan ruang-ruang publik untuk menyampaikan suara bersama: menolak kebijakan 6 hari sekolah, baik dalam bentuk penerapan menyeluruh maupun uji coba bertahap, demi sistem pendidikan yang lebih manusiawi dan berpihak pada kebutuhan peserta didik.