Petition Closed

Tangkap Sitok Srengenge!

This petition had 2,978 supporters


Pada 29 November 2013 RW (22 tahun), mahasiswi Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia melaporkan ke kepolisian tentang tindak perkosaan terhadap dirinya yang dilakukan oleh penyair ternama Sitok Sunarto alias Sitok Srengenge (48 tahun).

 

Saat itu RW dalam keadaan hamil 7 bulan. Berdasarkan penuturan RW, Sitok menjebak dan memaksa dirinya untuk melakukan hubungan seksual pada Maret 2013. Kejadian ini berulang beberapa kali karena Sitok mengancam RW untuk tidak buka suara dan RW takut akan dipermalukan. [i]  Ya, ini adalah kasus perkosaan dan korban Sitok tidak hanya satu.[ii] Setelah RW melaporkan Sitok kepada pihak kepolisian, pada bulan Desember 2013 dua perempuan dengan nama alias Maria[iii] dan Anya[iv] muncul dan bersaksi bahwa mereka juga mengalami hal serupa dengan yang dialami RW oleh pelaku yang sama: Sitok Srengenge.

 

Proses penyidikan kasus ini telah memasuki minggu kesepuluh. Namun hingga hari ini pihak kepolisian belum mengambil langkah-langkah yang tegas untuk melanjutkan penyelesaian perkara ini.

 

Lantas apa saja yang telah dilakukan oleh pihak kepolisian selama ini? Yang tercatat justru kelalaian demi kelalaian. Seakan-akan ada upaya mengulur-ulur waktu dalam penyelesaian kasus ini agar tidak lagi menjadi perhatian publik.

 

Pertama, pihak kepolisian telah memindahkan tanggung jawab penanganan kasus ini dari Subdit Remaja, Anak dan Wanita ke Subdit Keamanan Negara yang tidak memiliki kompetensi dalam menangani kasus perkosaan[v].

 

Kedua, Kompol Paimin selaku penyidik dalam kasus ini, tanpa berkonsultasi dengan pengacara RW, bersedia menjadi mediator bagi Sitok untuk menyampaikan pesan kepada orang tua RW.[vi] Kompol Paimin telah melanggar azas profesionalitasnya sebagai penyidik dan gagal menunjukkan tanggung jawabnya dalam mengawal proses hukum yang bersih dan adil. 

 

Ketiga, pihak kepolisian telah melakukan penyidikan terhadap RW dan kedua saksi yang juga telah menjadi korban dari petualangan Sitok, serta saksi-saksi lain dari pihak RW. Tapi Sitok seperti tak tersentuh hukum. Pihak kepolisian belum juga memanggil Sitok untuk menjalani proses penyidikan. Sitok masih bebas berkeliaran!

 

RW telah menunjukkan keberaniannya untuk maju menuntut keadilan dan oleh karenanya hukum tidak boleh berpaling muka. Sekarang saatnya kita menuntut agar hukum  berpihak kepadanya. Hanya dengan membawa kasus ini ke pengadilan kita dapat berharap agar tidak ada lagi pelaku pemerkosaan yang dapat lolos dari jerat hukum.

 

Hanya dengan berteguh menuntut keadilan kita  dapat mendorong para korban perkosaan lainnya untuk berani bersuara dan menuntut keadilan. Perkosaan adalah kejahatan yang tidak saja menyerang tubuh, tetapi juga merusak keutuhan jatidiri korban. Luka batinnya tak hilang oleh waktu. Kejahatan ini sangat rumit dan gelap karena ia dapat terjadi di mana saja, kapan saja, terhadap siapa saja, dan seringkali pelakunya justru orang-orang terdekat.

 

Komnas Perempuan melaporkan, ‘sedikitnya 35 orang perempuan menjadi korban kekerasan seksual setiap harinya. Artinya: setiap 2 jam sedikitnya ada 3 orang perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual. Sebagian besar adalah korban perkosaan.’[vii] Tanpa keadilan bagi korban perkosaan dan hukuman yang seberat-beratnya bagi pelaku, maka keamanan bagi setiap warga negara hanyalah isapan jempol belaka.

Inilah saatnya kita bangkit dan melawan perkosaan. Mari kita ayunkan langkah bersama-sama dan tuntut pihak kepolisian untuk segera:

1. Menangkap dan memeriksa Sitok Srengenge atas kejahatan pemerkosaan.

2. Mengubah dakwaan dari pasal 335 tentang perbuatan tidak menyenangkan menjadi pasal 285 dan atau 286 KUHP tentang tindakan pemerkosaan.

3. Mengembalikan wewenang penanganan penyidikan kasus kepada Unit Perlindungan Perempuan dan Anak.

 

Jakarta, 15 Februari 2014

Peduli Korban Perkosaan

 

Petisi ini didukung oleh:

Klinik Hukum Perempuan dan Anak Fakultas Hukum Universitas Indonesia

Magenta Legal Research and Advocacy

 

[i] Untuk kronologi bisa dibaca Sikap BEM FIB UI Terhadap Kasus Mahasiswi FIB UI dan Sitok Srengenge  http://alumni.fibui.com/sikap-bem-fib-ui-terhadap-kasus-sitok-srengenge/

[ii] LBH Apik Jakarta, lalu puluhan organisasi dan ratusan individu yang menandatangani Pernyataan Sikap Anggota Masyarakat untuk Kasus Kekerasan Seksual menyatakan bahwa ini adalah kasus perkosaan:http://asosiasilbhapik.or.id/index.php?page=24&id=105, http://www.kabar3.com/blog/2013/12/lbh-apik-sitok-harusnya-dijerat-pasal-perkosaan , https://www.facebook.com/notes/olin-monteiro/pernyataan-sikap-untuk-kasus-kekerasan-seksual/10151842247902169

[iii] http://www.merdeka.com/peristiwa/4-pengakuan-mahasiswi-bandung-korban-kedua-sitok-srengenge.html

[iv] http://www.thejakartapost.com/news/2013/12/16/sitok-s-third-victim-breaks-silence.html

[v] http://www.komnasperempuan.or.id/2013/12/13025/

[vi] http://health.liputan6.com/read/810608/sitok-srengenge-bilang-kangen-rw-pakai-mulut-kompol-paimin

[vii] http://www.komnasperempuan.or.id/2013/12/siaran-pers-peluncuran-laman-pengaduan-kekerasan-seksual/



Today: Peduli Korban is counting on you

Peduli Korban Perkosaan needs your help with “Kepolisian Negara Republik Indonesia: Tangkap Sitok Srengenge!”. Join Peduli Korban and 2,977 supporters today.