Desakan Pembukaan Segel Makam Sunda Wiwitan; Stop Diskriminasi Minoritas

Desakan Pembukaan Segel Makam Sunda Wiwitan; Stop Diskriminasi Minoritas

0 telah menandatangani. Mari kita ke 15.000.


Presiden Joko Widodo, Segera Penuhi Hak-hak Masyarakat Adat Sunda Wiwitan untuk Membangun Bakal Pemakaman dan Menindak Tegas Bupati Kuningan yang Berupaya Menghancurkan Warisan Budaya Nusantara.

Telah terjadi upaya pemusnahan salah satu budaya asli Indonesia. Pada 20 Juli 2020 lalu, Satpol PP menyegel bakal makam sesepuh AKUR Sunda Wiwitan, salah satu kepercayaan tertua di Indonesia.

Pemakaman keluarga (pasarean) sesepuh Adat Karuhan Urang (AKUR) Sunda Wiwitan yang ada di Curug Goong, Desa Cisantana, Cigugur, Kuningan itu katanya tidak memiliki Izin Mendirikan Bangunan (IMB).

Sunda Wiwitan adalah salah satu agama leluhur nusantara di Kuningan, mereka bahkan sudah ada sebelum agama masuk ke sana. Masyarakat Sunda Wiwitan merasa seperti di diskriminasi dan tidak diakui di tanah sendiri.

Negara yang seharusnya melindungi kini malah ingin memusnahkan kepercayaan minoritas lewat kebijakan yang diskriminatif. Langkah ini bisa jadi genosida budaya (pemusnahan budaya) tersistematis. Pasarean yang merupakan bentuk ekspresi atau pengamalan beragama dan berkepercayaan dilindungi oleh Konstitusi Republik Indonesia.

Genosida budaya ini ancaman nyata yang melanggar UUD 1945 soal pengakuan negara terhadap masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup.

Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika (ANBTI) bahkan sejak 2017 dengan tegas menuntut negara dan seluruh pihak untuk menghentikan upaya genosida budaya terhadap masyarakat adat penganut agama warisan leluhur nusantara.

Namun tuntutan kami belum dijawab. Bakal Pasarean sesepuh kami masih disegel. Karena itulah kami, Koalisi Dukung AKUR memulai petisi ini kepada Bapak Presiden Joko Widodo dan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian untuk memerintahkan Bupati Kuningan, Acep Purnama agar membuka segel pasarean AKUR dan mengizinkan pembangunan bakal makam sesepuh AKUR Sunda Wiwitan di Curug Goong, Desa Cisantana, Cigugur, Kuningan.

Jika Bupati masih tetap tidak mengizinkan, itu sama saja dengan tindakan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) lantaran praktik pemakaman terkait dengan pengamalan kepercayaan atau keyakinan penghayat Sunda Wiwitan.

Selain merendahkan harkat martabat masyarakat adat penghayat agama warisan leluhur nusantara, penyegelan ini juga mencoreng wajah penegakan hukum dan HAM pemerintah Indonesia.

Karena itulah, sekali lagi kami mengajak kamu mengumpulkan sebanyak-banyaknya tanda tangan sebagai bukti dukungan terhadap pelestarian budaya asli Indonesia. Kumpulan tanda tanganmu akan kami serahkan kepada Bupati Kuningan agar beliau segera membuka segel dan memfasilitasi pembangunan bakal makan sesepuh AKUR Sunda Wiwitan.

Mari dukung petisi ini untuk menciptakan Indonesia sebagai rumah bersama yang menghidupi bhinneka tunggal ika berdasarkan hukum, konstitusi dan HAM.

Salam,

Koalisi Dukung AKUR