Kampus Merdeka Kekerasan Seksual

0 have signed. Let’s get to 15,000!


Agni di Yogyakarta. Ruri di Jember. Lara di Bali. Rose di Depok. Putri dan Ayu di Yogyakarta. Yasmin, Diana, Amana, Iklima di Medan. Alma dan Ratih di Malang. Dia, Gia, Iriana, dan Vani di Semarang. AS, BB, DK, CL, dan F di Bandung.  EP di Lampung. X di Gorontalo. Bunga di Padang.

Daftar korban kekerasan seksual di kampus di atas akan terus bertambah jika pelaku tidak dihukum atau bahkan dilindungi pihak kampus.

Saya dan teman-teman di Gerak Perempuan datangi gedung Kemendikbud 10 Februari lalu. Kami menyerukan agar Kemendikbud bertindak atas kasus-kasus kekerasan seksual di kampus-kampus Indonesia.

Para pelaku kekerasan seksual yang adalah dosen, dokter di klinik kampus, pejabat akademik mahasiswa, dan mahasiswa, banyak yang dibiarkan saja oleh Pihak Universitas dan Aparat.

Sebaliknya, korban yang melapor malah sering dapat ancaman dikeluarkan dari kampus, intimidasi, dan tekanan untuk mencabut laporan mereka.

Kawan-kawan kami yang jadi korban telah memberanikan diri untuk bersuara. Namun, ternyata pihak kampus jarang berpihak pada korban. Birokrasi panjang jadi alasan molornya penanganan kasusnya. 

Akibatnya pelaku kekerasan seksual masih terlihat berkeliaran, mengajar di kampus yang seharusnya melindungi civitas akademiknya. Bayangkan, gimana rasanya jadi korban yang masih harus berada dalam satu ruangan dan nasib akademiknya berada di tangan pelaku yang sudah melecehkannya?

Yang mengherankan, ketika kami bertemu dengan Dirjen Pendidikan dari Kemendikbud, mereka bilang belum pernah menerima pengaduan pelecehan seksual dari kampus atau sekolah. Kok bisa?!

Kampus Merdeka yang menjadi program baru Mendikbud Nadiem Makarim bisa saja bukan jadi kampus yang merdeka dari kekerasan seksual jika Kemendikbud diam saja.

Melalui petisi ini, kami meminta Mendikbud Nadiem Makarim segera keluarkan sistem pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di Instansi Pendidikan yang komprehensif dan berpihak pada korban.

Kami mendukung Program Kampus Merdeka yang juga menjadi #KampusMerdekaKekerasanSeksual. 

Teman-teman, dukung terus petisi ini ya. Kalau petisi ini tembus 100 ribu tandatangan, kami akan menyerahkan langsung petisinya ke Menteri Nadiem Makarim. Kita akan terus suarakan petisi ini di International Women's Day 2020 8 Maret mendatang.

Salam dari kami


Tyas, Belgis, Nisyu, Vian, Fani, Eva, Dara, Noval, Apri, Ruri
Gerakan Perempuan Anti Kekerasan (#GERAKPerempuan)