Bebaskan Faqih Khalifaturrahman

0 telah menandatangani. Mari kita ke 7.500.


Faqih Khalifaturrahman adalah salah satu orang massa aksi Aliansi Solo Raya Bergerak dalam perayaan Hari Tani Nasional, Kamis kemarin(24/09). Ia ditangkap bersama 45 orang kawan yang lain ditempat berbeda. Massa aksi ditangkap paksa oleh pihak kepolisian sebelum aksi dimulai. Faqih ditangkap bersama 3 orang kawan di dekat Alfamart Baturan, Colomadu. Pihak kepolisian menyebutkan bahwa Faqih beserta kawannya melakukan penyerangan terhadap petugas. Sedangkan menurut penuturan kawan yang berada dilokasi kejadian, saat pertama mereka dikepung polisi, Faqih bersama yang lainnya langsung lari untuk menyelamatkan diri agar tidak tertangkap. Mereka sempat dikejar sejauh kurang lebih 1 kilometer hingga salah satu diantaranya mengeluh kecapekan. Pada saat mereka sedang beristirahat, tiba-tiba polisi mengepung dan menangkap mereka.

Sebelum diangkut, mereka diperintahkan untuk tiarap dan digeledah barang pribadi yang mereka bawa. Saat prosesi penggeledahan, mereka sempat mendapatkan tindakan represif dari aparat dalam bentuk intimidasi verbal dan fisik seperti pukulan serta tendangan. Petugas polisi yang menangkap mereka mengenakan pakaian dan senjata lengkap. Saat dilakukan penggeledahan, ditemukan sebuah palu diantara mereka. Sontak, polisi menanyakan milik siapa palu tersebut. Dengan niat melindungi kawannya yang lain, Faqih terpaksa mengaku bahwasannya palu itu miliknya. Tak berselang berapa lama setelah Faqih mengakui palu tersebut, beberapa personel kepolisian mendaratkan pukulan kepadanya. Kejadian tersebut sempat dihentikan oleh salah satu anggota polisi. lantas, Faqih diangkut menggunakan mobil yang berbeda dari ketiga kawannya dan dibawa ke Kantor Polresta Surakarta. Sewaktu massa aksi yang ditangkap paksa dikumpulkan, Faqih sama sekali tidak terlihat diantara mereka. Karena ia diletakkan di ruangan tersendiri oleh pihak kepolisian. Pertemuan terakhir terjadi saat ia melaksanakan sholat maghrib berjamaah di masjid Polresta Surakarta. Beberapa bagian wajahnya lebam, seperti pada pipi dan pelipisnya. Saat ditanya tentang kondisinya oleh salah satu kawan setelah sholat maghrib, ia hanya terdiam sambil menundukkan kepalanya tanpa sepatah kata keluar dari mulutnya. Sejak semua massa yang ditangkap paksa dibebaskan pada pukul 2 dini hari (25/09) Faqih masih ditahan dan kami tidak mengetahui kondisi serta perlakuan apa yang didapat Faqih.

Faqih merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara. Ia baru saja lulus dari bangku Sekolah Menengah Kejuruan pada tahun 2020 ini. Saat ini fakih belum genap berusia 19 tahun, ia lahir pada tanggal 2 oktober 2001. Tak seberuntung kawan yang lain, ia tak dapat melanjutkan studinya ke jenjang perguruan tinggi. Walaupun ia sempat bercerita kepada beberapa kawan tentang keinginannya untuk berkuliah. Mengingat keadaan keluarganya, ia terpaksa bekerja serabutan (pekerja lepas) demi menghidupi dirinya sendiri dan membantu ekonomi keluarga. Ayahnya telah berhenti bekerja semenjak menderita sakit jantung koroner. Ibunya sehari-hari bekerja dengan membuka jasa laundry di rumah untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Sebagaimana Faqih yang bekerja untuk kebutuhannya sendiri dan sedikit banyak membantu ekonomi keluarganya, kedua kakaknya pun senasib dengannya. Oleh karena itu, dengan ditangkapnya Faqih, kami mengkhawatirkan akan berdampak buruk pada kondisi kesehatan ayahnya.

Sampai hari ini Faqih masih belum dibebaskan oleh pihak kepolisian. Ia sekarang ditahan di Rutan Polresta Surakarta dengan tuduhan tindak pidana membawa senjata pemukul (martil/palu). Seperti yang disampaikan diatas, Faqih terpaksa mengaku dengan kekhawatiran kawan-kawannya yang lain menjadi korban represi. Terlebih salah satu diantara mereka ada seorang perempuan. Ia diancam dengan Pasal 2 ayat 1 UU RI No. 12 Tahun 1951 tentang Undang Undang Darurat. Karena hal itu Faqih menjadi tersangka dan harus ditahan selama 20 hari kedepan hingga tanggal 14 Oktober 2020. Saat ini Faqih telah mendapatkan pendampingan hukum dari LBH Solo Raya.

Kondisi Faqih seharusnya menjadi kekhawatiran dan keprihatinan kita bersama, bahwa ia dihadapkan dengan hukum serta terancam menjalani masa penahanan dalam usianya yang masih muda. Masa depan yang masih membentang panjang didepannya terpaksa akan hilang dikarenakan ancaman pidana hukum yang dihadapinya. Sebagaimana ia memiliki keinginan untuk menempuh jenjang pendidikan tinggi demi mewujudkan cita-cita dan upaya dalam perbaikan ekonomi keluarga serta harapannya dalam membahagiakan orang tua akan sirna begitu saja dengan ancaman sanksi pidana. Maka dari itu, demi Faqih dan keluarganya, kami mengharapkan solidaritas yang kita bangun bersama untuk menuntut kebebasannya. Sehingga, atas nama masa depan dan kemanusiaan pihak kepolisian dapat membebaskan Faqih segera.

Maka dari itu, kami Aliansi Solo Raya Bergerak menyatakan sikap sebagai berikut

  1. Menuntutpihak kepolisian segera membebaskan Faqih dan kawan-kawan di kota lain tanpa syarat;
  2. Menyesalkantindakan penangkapan paksa terhadap massa aksi Aliansi Solo Raya Bergerak pada peringatan Hari Tani Nasional 2020 yang terjadi sebelum aksi dimulai;
  3. Menyesalkantindakan represif aparat terhadap massa aksi Hari Tani Nasional 2020.

BANGUN SOLIDARITAS BERSAMA!

Yang bersolidaritas:

  1. Aliansi Solo Raya Bergerak
  2. LBH-YLBHI Yogyakarta
  3. LBH Solo Raya