Kapolres Lhokseumawe, Hentikan penyelidikan thdp Nanda Feriana

0 telah menandatangani. Mari kita ke 5.000.


#damaiDwiNanda

Saya mengenal Nanda Feriana belum lama dan baru sempat  diskusi panjang saat Nanda menerima KNPI award, kesan pertama yang saya tangkap adalah santun dan cerdas. Aktif dikampus dan senang berorganisasi, hal ini tentu Nanda memberikan kontribusi positif untuk kampusnya.

Saya selalu mengikuti timelinenya di Facebook walaupun jarang sekali saya komen sampai pada suatu suatu hari saya baca tentang postingan –Sepucuk Surat Untuk :Ibu Lulusan Jerman”--- dengan tagar #GagalYudisium

Sementara di sisi lain, orang yang Nanda komplain adalah dosen yang mungkin selama ini berhubungan baik dengannya dan saya mencoba menelusuri media sosial keduanya dan mereka teman dan komentar positif juga saya baca ketika salah satunya buat status.

Melihat situasi yang berkembang sekarang, mereka sangat membutuhkan adanya mediasi yang asertif untuk menyelesaikan konflik yang seharusnya tidak berlarut. Di satu sisi Nanda sudah yudisium dan disisi lain Nanda juga sudah meminta maaf secara terbuka di media sosial tempat pertama dia curhat.

Bapak Kapolres Lhokseumawe dan Bapak Kapolda Aceh,

Nanda Feriana adalah seorang anak muda yang  hidup di zaman social media dan sangat lazim dia mengungkapkan kekecewaan yang dirasakannya. Kecewa dengan keadaan yang menyebabkan dia tidak bisa ikut yudisium dan diwisuda, yang akhirnya lenyaplah juga impiannya untuk menjadi sarjana tahun ini.

Kuliah di Jurusan Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, tentu saja membuat mereka akan berpikir kritis. Dan di era keterbukaan seperti sekarang ini sangat wajar untuk melepaskan uneg-uneg. Meski tidak menyebut nama bahkan inisial dosen yang dikritiknya.

Nanda dilaporkan ke polisi oleh dosennya sendiri karena mengkritik birokrasi kampus melalui akun Facebooknya di status "sepucuk surat untuk ibu lulusan Jerman”.

Menyadari 'mungkin menyinggung sang dosen' Nanda memohon maaf melalui akun Facebook dan melalui pertemuan khusus yang difasilitasi oleh pihak fakultas. Terakhir Nanda membawa serta ibundanya serta Imam mesjid  kampungnya datang kerumah ibu dosen untuk meminta maaf. Bahkan Nanda mengirimkan surat permohonan maaf kepada beliau.

Namun semua itu belum mampu memberi solusi. Nanda di laporkan ke polisi oleh sang dosen. Sang dosen meminta Nanda meminta maaf selama 4 hari berturut turut di koran. Permohonan maaf di koran tentu akan sangat mahal, membutuhkan biaya puluhan juta dan sangat memberatkan bagi Nanda yang masih mahasiswa. Nanda sudah diperiksa di Polres Lhokseumawe dan masih berstatus sebagai saksi dan berpotensi untuk menjadi tersangka.

Pak Kapolres, mungkin melalui Bapak bisa dibuka kembali mediasi dengan memanggil ke 2 nya dan memberikan porsi yang sama. Dan mohon hentikan penyelidikan ini karena damai bagi ke 2 nya lebih bagus daripada harus berlanjut.

Petisi ini bukan lagi soal benar dan salah: siapa yang benar dan siapa yang salah, karena hal itu juga bukan lagi yang utama ketika benang sudah menjadi kusut dan sulit diurai. Alangkah lebih baiknya bila kedua pihak bisa berjiwa besar, merendahkan hati untuk berdamai. Begitu banyak energi yang terbuang untuk masalah ini, bukan hanya dari kedua pihak, tapi juga energi dari pengguna media sosial dan masyarakat.

Penghakiman-penghakiman terus terjadi dan sulit berhenti. Gejala ini tentu bukan hal yang positif, tetapi kita bisa belajar dan mengambil hal positif dari kejadian ini. Kita mengharapkan pembelajaran dari kasus ini: 

1.     Bahwa media sosial memang selayaknya digunakan secara wajar dan tanpa ofensif

2.     Bahwa pendidikan bukan hanya sekadar pengajaran atau transfer ilmu. Karena pendidikan semestinya adalah juga soal kepribadian, bukan hanya soal kompentensi. Bila hanya soal kompetensi, kita hanya perlu baca buku dan mengikuti ujian. Tetapi kepribadian dibentuk oleh sistem pendidikan, lingkungan pendidikan yang kondusif dan penuh motivasi.

Wajar bila mahasiswa kritis, karena itulah yang harusnya mereka pelajari dalam sistem pendidikan: bukan hanya menerima dogma, bukan melulu menerima segala sesuatu yang dijejalkan kepada mereka, dan dengan kritis berarti mereka berpikir. Wajar juga bila mereka kritis bila mereka dirugikan oleh sistem. Namun, seharusnya menyampaikan kritik hendaklah sesuai jalur (bila bermasalah dengan administrasi atau dosen, bisa bertemu atasan mereka, misal bagian tata usaha atau pimpinan prodi, dan bila masih buntu, terus berjuang menyampaikan aspirasi ke jenjang berikutnya. Bila tidak berhasil juga, ada cara-cara lain yang bisa ditempuh, daripada hanya sekadar curhat dengan ofensif di media sosial – walau tak menyebutkan nama (efek media sosial: yang tak berkepentingan juga merasakan emosi negatif, belum lagi penghakiman-penghakiman terhadap yang menulis status atau yang dikritisi, dan penghakiman general terhadap kualitas sebuah institusi yang belum tentu benar).

Nanda sudah mengakui bahwa tindakannya menulis status Facebook tersebut adalah tidakan emosional dan terburu-buru. Nanda sudah mengakui kesalahannya dan sudah berusaha memperbaikinya. Kembali soal pendidikan, Ibu Dosen Dwi kita harapkan juga bisa berjiwa besar, terlepas dari beliau benar atau salah. Bila beliau benar, selayaknya beliau melakukan tindakan agar mahasiswa yang merupakan tanggungjawabnya untuk mendidik, bisa belajar dari kejadian ini. Bila beliau salah, selayaknya beliau berjiwa besar untuk mengakui kesalahan, dan  kembali ke tujuan awal pendidikan: menghasilkan lulusan yang berpendidikan dan berkarakter.

Kita sadar bahwa ibu dosen Dwi belajar di Jerman bukan hanya soal kompetensi, tapi juga terdidik di lingkungan  pendidikan yg kritis dan tidak anti-kritik, seperti di negara-negara Eropa lainnya.

Mahasiswa beliau akan sangat belajar bila beliau berjiwa besar. Sekali lagi, ini bukan soal benar dan salah (lagi!).

Dengan demikian, petisi ini adalah bentuk:

1.     Dukungan moral untuk Nanda

2.     Dukungan moral untuk Ibu Dosen Dwi

3.     Permohonan kepada pihak kepolisian untuk menghentikan penyelidikan terhadap kasus Nanda dan mengupayakan jalan damai

Salam semangat

Nurjannah  Husien



Hari ini: nuu mengandalkanmu

nuu husien membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "Kapolres Lhokseumawe, hentikan penyelidikan thdp Nanda Feriana. #damaiDwiNanda". Bergabunglah dengan nuu dan 4.438 pendukung lainnya hari ini.