KPPA, Edukasi Bahaya Pernikahan Anak Yang Lebih komprehensif

Masalahnya

Hai salam kenal, Saya Aland, mahasiswa biasa. Tapi saya memutuskan untuk gak biasa-biasa aja setelah ada kejadian menimpa temanku.

Temanku masih sekolah tapi udah menikah. Katanya, nikah itu pacaran versi baru. Tapi, setelah anaknya berumur 3 bulan, mereka cerai. Ternyata, ini nggak cuma terjadi sama temanku, tapi udah jadi kayak tren.

Terutama sejak pandemi dan sekolah online. Ternyata, ini gak hanya menimpa temanku. Di Sumatera Utara misalnya, ada sekitar 800 anak SMA/SMK yang menikah. Bahkan, di Gorontalo anak SMP juga menikah, setidaknya 11 anak.

Ini akhirnya ketahuan, ketika Kemdikbud putuskan untuk kembali berlakukan Sekolah Tatap Muka. Pas sekolah buka, banyak siswa-siswi yang gak masuk dan putus sekolah, salah satunya karena sudah menikah.

Memang, sejak pandemi dan diberlakukannya pembelajaran daring, banyak hal yang berubah. Perilaku siswa gak lagi kayak dulu pas sekolah tatap muka. Entah kenapa mereka akhirnya memutuskan untuk menikah di usia yang masih anak-anak, apakah karena ekonomi, dipaksa orangtua, kemauan sendiri. Kami sendiri tidak bisa pastikan.

Tapi satu yang pasti, ini karena kurangnya edukasi dan sosialisasi tentang bahaya pernikahan di usia anak kepada orangtua dan anak-anak itu sendiri

Memang, secara tertulis sudah ada aturan yang membatasi usia pernikahan. Tapi itu seperti gak berguna kalau kita lihat kejadian yang menimpa banyaknya anak-anak menikah setahun ini.

Karena itulah, kami buat petisi ini kepada Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) untuk edukasi bahaya pernikahan di usia anak yang lebih komprehensif.

Bantu kami kumpulkan sebanyak-banyaknya tanda tangan dan sebar tagar #StopPernikahanAnak ya. Dukunganmu akan kami serahkan ke KPPPA dan dinas terkait agar mereka serius membuat program edukasi dan sosialisasi bahaya pernikahan anak.

Kami berharap petisi ini dilihat oleh banyak orang, pelajar, orangtua agar mereka lebih tahu dan paham bahwa pernikahan bukan hal sepele serta orang tua juga tidak memaksakan anak anak menikah.

Anak-anak adalah calon generasi penerus, kalau makin banyak yang putus sekolah dan menikah di usia anak-anak, bagaimana masa depan negeri kita?

Salam,

Aland Christian, Wechen, Alivia, Melyana, & Alwi

https://www.kompas.tv/article/216455/800-siswa-sma-di-sumatera-utara-tak-mau-sekokah-tatap-muka-ternyata-sudah-menikah-hingga-bekerja

https://radartegal.com/terlalu-lama-belajar-online-11-siswa-smp-di-gorontalo-pilih-menikah-muda.14450.html

avatar of the starter
Aland ChristianPembuka Petisi
Petisi ini mencapai 3.380 pendukung

Masalahnya

Hai salam kenal, Saya Aland, mahasiswa biasa. Tapi saya memutuskan untuk gak biasa-biasa aja setelah ada kejadian menimpa temanku.

Temanku masih sekolah tapi udah menikah. Katanya, nikah itu pacaran versi baru. Tapi, setelah anaknya berumur 3 bulan, mereka cerai. Ternyata, ini nggak cuma terjadi sama temanku, tapi udah jadi kayak tren.

Terutama sejak pandemi dan sekolah online. Ternyata, ini gak hanya menimpa temanku. Di Sumatera Utara misalnya, ada sekitar 800 anak SMA/SMK yang menikah. Bahkan, di Gorontalo anak SMP juga menikah, setidaknya 11 anak.

Ini akhirnya ketahuan, ketika Kemdikbud putuskan untuk kembali berlakukan Sekolah Tatap Muka. Pas sekolah buka, banyak siswa-siswi yang gak masuk dan putus sekolah, salah satunya karena sudah menikah.

Memang, sejak pandemi dan diberlakukannya pembelajaran daring, banyak hal yang berubah. Perilaku siswa gak lagi kayak dulu pas sekolah tatap muka. Entah kenapa mereka akhirnya memutuskan untuk menikah di usia yang masih anak-anak, apakah karena ekonomi, dipaksa orangtua, kemauan sendiri. Kami sendiri tidak bisa pastikan.

Tapi satu yang pasti, ini karena kurangnya edukasi dan sosialisasi tentang bahaya pernikahan di usia anak kepada orangtua dan anak-anak itu sendiri

Memang, secara tertulis sudah ada aturan yang membatasi usia pernikahan. Tapi itu seperti gak berguna kalau kita lihat kejadian yang menimpa banyaknya anak-anak menikah setahun ini.

Karena itulah, kami buat petisi ini kepada Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) untuk edukasi bahaya pernikahan di usia anak yang lebih komprehensif.

Bantu kami kumpulkan sebanyak-banyaknya tanda tangan dan sebar tagar #StopPernikahanAnak ya. Dukunganmu akan kami serahkan ke KPPPA dan dinas terkait agar mereka serius membuat program edukasi dan sosialisasi bahaya pernikahan anak.

Kami berharap petisi ini dilihat oleh banyak orang, pelajar, orangtua agar mereka lebih tahu dan paham bahwa pernikahan bukan hal sepele serta orang tua juga tidak memaksakan anak anak menikah.

Anak-anak adalah calon generasi penerus, kalau makin banyak yang putus sekolah dan menikah di usia anak-anak, bagaimana masa depan negeri kita?

Salam,

Aland Christian, Wechen, Alivia, Melyana, & Alwi

https://www.kompas.tv/article/216455/800-siswa-sma-di-sumatera-utara-tak-mau-sekokah-tatap-muka-ternyata-sudah-menikah-hingga-bekerja

https://radartegal.com/terlalu-lama-belajar-online-11-siswa-smp-di-gorontalo-pilih-menikah-muda.14450.html

avatar of the starter
Aland ChristianPembuka Petisi
Perkembangan terakhir petisi