Petition Closed

Free Neil Bantleman and Ferdinant Tjiong! Bebaskan Neil Bantleman dan Ferdinant Tjiong!

This petition had 12,348 supporters


 

 

Note: Petition description was updated July 19, 2015 to include recent facts about the case.

Catatan: Petisi diperbaharui pada tanggal 19 Juli 2015 untuk menyertakan fakta-fakta terbaru mengenai kasus ini.

On April 3, 2014, the Jakarta International School (aka Jakarta Intercultural School or JIS) community was shocked by the news that a child was allegedly sexually assaulted at the school. At the time, five male and one female JIS cleaning personnel were accused as perpetrators.

Pada tanggal 3 April 2014, keluarga besar Jakarta International School (juga dikenal dengan Jakarta Intercultural School atau JIS) dikejutkan oleh berita bahwa telah terjadi tindakan kekerasan seksual terhadap seorang anak di sekolah. Saat itu, yang tertuduh sebagai pelaku adalah petugas kebersihan sekolah yang terdiri dari lima laki-laki dan satu perempuan. 

We were initially supportive of the mother of the alleged victim, although surprised when she sued the school for US$ 12.5 million dollars. When she increased her claim to US$ 125 million, we were shocked. Regrettably, there are questions as to whether she is really interested in finding the truth, or perhaps just interested in money.

Pada awalnya, kami mendukung ibu dari anak yang diduga menjadi korban, walaupun kami terkejut pada saat ibu tersebut mengajukan tuntutan terhadap sekolah sebesar US$ 12,5 juta. Ketika ibu tersebut menaikkan tuntutan menjadi US$ 125 juta, kami lebih terkejut lagi. Dengan sangat menyesal, kami kini mempertanyakan apakah memang beliau ingin mencari kebenaran, atau barangkali hanya tertarik dengan uangnya.

The parents of two more kindergarteners later made allegations against the school's staff and threatened more civil claims. Following their lead, the mother of the first alleged victim changed her claims to include JIS staff.

Orang tua dari dua murid TK juga telah membuat tuduhan terhadap staf sekolah dan juga menyatakan kemungkinan membawa hal ini dalam ranah hukum perdata. Setelah hal itu dilakukan, ibu dari anak yang diduga menjadi korban pertama, telah mengubah tuntutannya dan menyertakan staf JIS. 

School administrator Neil Bantleman (a citizen of Canada) and teaching assistant Ferdinant (Ferdi) Tjiong (a citizen of Indonesia) were listed as perpetrators to even more alleged crimes of sexual abuse.

Administrator sekolah, Neil Bantleman (Warga Negara Kanada) dan asisten guru Ferdinant Tjiong (Warga Negara Indonesia) disertakan sebagai pelaku dalam berbagai kegiatan pelecehan seksual yang terduga.

Neil and Ferdi are highly respected educators from the international school community. They have exemplary professional records and we reject the baseless allegations made against them.

Neil dan Ferdi adalah tenaga pendidik yang sangat disegani dari lingkungan sekolah internasional. Mereka memiliki rekam jejak profesional yang sangat baik dan kami menolak tuduhan tanpa dasar yang telah dilancarkan kepada mereka.

On July 10, 2014, Neil and Ferdi were named as suspects.

Pada tanggal 10 Juli 2014, Neil dan Ferdi ditentukan sebagai tersangka.

On July 14, 2014, Neil and Ferdi were summoned to Jakarta Police Headquarters for questioning. They were joined by representatives from the U.S. Embassy, Canadian Embassy, and Australian Embassy, legal counsel, along with dozens of staff and families from the JIS community, as well as their spouses. Contrary to promises made by the Police, Neil and Ferdi were subsequently detained by the Police to await trial.

Pada tanggal 14 Juli 2014, Neil dan Ferdi dipanggil oleh Polda Metro Jaya untuk dimintai keterangan. Mereka didampingi oleh wakil dari Kedutaan Amerika, Kedutaan Kanada, Kedutaan Australia, pengacara, staf maupun keluarga dari komunitas JIS, dan oleh istri masing-masing. Berlawanan dengan janji yang diberikan oleh pihak Kepolisian, Neil dan Ferdi kemudian ditangkap oleh Polisi untuk menunggu proses pengadilan.

In closed trials, where the media, the accused’s family members, and representatives from the Canadian and British embassies were denied access, all credible medical testimony produced by the defense was disregarded, in favor of testimony from the prosecution that included children being “delivered” during the regular school day to the molesters who had their way with them in what would have had to be full view of the rest of the school, then returned to their classrooms, exhibiting no negative effects from their ordeal. The testimony of classroom teachers who claimed no incidences of the children being removed from their classrooms, went the way of all credible medical testimony. Also admitted into evidence was children’s testimony, supported by both mothers’ and the presiding judges’ suggestive questions, of a magic stone produced from thin air by Mr. Bantleman, used to anesthetize the child from the waist down, so he would not object to the horrors he was about to experience. That magic stone disappeared in the same way it was produced.

Dalam persidangan yang tertutup, dimana media, keluarga pihak tertuduh, dan wakil dari Kedutaan Kanada dan Inggris tidak diberikan akses, semua testimoni medis yang dapat dipercaya dari pihak pembela diabaikan, dan mendukung testimoni pihak penuntut termasuk testimoni bahwa, saat sekolah sedang berjalan seperti biasa, anak-anak “dikirim” ke para penganiaya dan kemudian anak-anak tersebut dikembalikan ke kelasnya, dimana anak-anak ini tidak memperlihatkan tanda-tanda negative sebagai dampak dari perlakuan yang baru mereka terima. Testimoni dari guru-guru kelas yang mengatakan bahwa anak-anak tidak pernah dikeluarkan dari kelas juga diabaikan seperti pengabaian semua testimoni medis yang kredibel. Yang diterima sebagai bukti adalah testimoni anak yang didukung oleh ke dua ibu dan pertanyaan yang sugestif dari para hakim, mengenai “magic stone” yang secara tiba-tiba muncul di udara dan diambil oleh Mr. Bantleman, dan digunakan untuk membius anak tersebut dari bagian pinggang ke bawah, sehingga dia tidak bisa menolak semua tindakan horror yang akan terjadi padanya. “Magic stone“  kemudian menghilang dengan cara yang sama seperti cara barang tersebut muncul.   

On December 22, 2014, despite a lack of any objective and credible evidence that any crime occurred, five JIS cleaners were sentenced to seven and eight years, one cleaner, Azwar, died under suspect circumstances while police custody, and on April 2, 2015 Neil and Ferdi were sentenced to 10 years in prison. “Today is a miscarriage of justice," Neil said immediately after his verdict." We will continue to fight until the truth comes out."

Pada tanggal 22 Desember 2014, walaupun tanpa didukung dengan bukti yang obyektif dan dapat dipercaya bahwa sebuah kejahatan telah terjadi, lima petugas kebersihan JIS divonis bersalah dan diberikan hukuman selama tujuh dan delapan tahun penjara. Salah satu petugas kebersihan, Azwar, meninggal di dalam keadaan yang tidak jelas saat berada dalam tahanan polisi. Dan pada tanggal 2 April 2015, Neil dan Ferdi divonis bersalah dan mendapatkan hukuman selama 10 tahun penjara. “Hari ini merupakan kegagalan dalam proses keadilan,” Neil menyatakan setelah keputusan dibacakan. “Kita akan terus berjuang hingga kebenaran akhirnya muncul.”

U.S. Ambassador to Indonesia, Robert Blake, said in a subsequent statement. “We are deeply disappointed with this outcome...The outcome of the legal process and what it reveals about the rule of law in Indonesia will have a significant impact on Indonesia's reputation abroad."

Duta Besar Amerika untuk Indonesia, Robert Blake, menyatakan dalam pernyataannya, “Kami sangat kecewa dengan putusan ini… Hasil putusan terhadap proses hukum tersebut, yang juga mencerminkan aturan hukum di Indonesia, akan sangat berpengaruh terhadap reputasi Indonesia di luar negeri.

Tracy Bantleman declared in a press conference soon after the verdict, that her husband and Ferdinant Tjiong were victims of a "malicious make-believe story with a multi-million dollar price tag." All the accused are appealing their convictions.

Tracy Bantleman menyatakan dalam konferensi pers tidak lama setelah keputusan tersebut bahwa suaminya dan Ferdinant Tjiong adalah korban dari “cerita sangat jahat yang dikarang dan memiliki harga berjuta-juta dollar.” Semua yang tertuduh sedang mengajukan naik banding untuk keputusan tersebut.

We seek justice for Neil, Ferdi, the five JIS cleaners, Afrischa, Agun, Awan, Syahrial, and Zainal and demand that the Indonesian government rectify this clear violation of human rights.

Kami mencari keadilan untuk Neil, Ferdi, dan ke lima petugas kebersihan yaitu Afrischa, Agun, Awan, Syahrial, dan Zainal. Kami menuntut Pemerintah Indonesia untuk memperbaiki pelanggaran hak asasi manusia yang jelas telah terjadi ini.   

Parents, students, alumni, staff of the Jakarta International School, and general public.

Orang tua murid, murid, alumni, staff Jakarta International School, dan masyarakat umum.

19 Juli 2015

July 19, 2015

 

 

 

 

 

 



Today: Community of JIS is counting on you

Community of JIS Keluarga Besar JIS needs your help with “Indonesian President, House of Representatives, National Police, MoFA, MoEC.: Free Neil Bantleman and Ferdinant Tjiong! Bebaskan Neil Bantleman dan Ferdinant Tjiong!”. Join Community of JIS and 12,347 supporters today.