Petition update

Masyarakat Kota Palu Tumpah Ruah dalam Penutupan Acara Festival Palu Nomoni

Husnul Maarif Sadam
Palu, Indonesia

Sep 28, 2017 — TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Gelaran p‎ekan Budaya Indonesia (PBI) dan Festival Pesona Palu Nomoni (FPPN) di Anjungan Nusantara, Teluk Palu, Sulawesi Tengah ‎yang digelar 22-27 September 2017, resmi ditutup pada rabu malam.
Gelaran acara hasil kerjasama Ditjen Kebudayaan kemendikbud dan Pemerintah kota Palu tersebut resmi ditutup dengan deklarasi Revitalisasi Nilai-nilai Budaya Bangsa Dalam Rangka Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia‎.
Acara penutupan dimeriahkan kesenian khas Palu Teku-teku tombilo dan tarian khas Kerajaan Pahiyang.
Sejumlah pejabat hadir termasuk dari pemerintah pusat yakni perwakilan Kemendagri dan kemendikbud, Lembaga Adat seluruh Indonesia, Raja dan Sultan seluruh Indonesia.
Walikota Palu Hidayat kepada Tribunnews mengatakan sangat bertemikasih kepada Ditjen kebudayaan kemendikbud yang telah mempelopori pekan budaya dengan menggelar pesona palu Nomoni.
Kegiatan tersebut menurut Hidayat mengembalikan kerinduan masyarakat terhadap budaya leluhur.
"Sekarang ini banyak festival festival tapi konsepnya modern. Kita ingin festival yang digelar membuat masyarakat ingat kembali dengan adat dan budayanya, sehingga digelar acara ini," kata Hidayat.
Menurut Hidaya banyak ritual budaya yang sudah ratusan tahun ‎tidak pernah dilihat. Pertama yakni ritual balian, yakni ritual penyembuhan serta penolakan bala.
"Ada juga festival menyambuta panen yang juga sudah lama tidak dilihat kita tampilkan di sini," katanya.
Sementara itu Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid mengatakan gelaran acara pekan budaya di palu merupakan bentuk komitmen pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam memperkuat kebudayaan di Sulawesi Tengah.
Hilmar berharap gelaran festival Pesnona Palu Nomoni kedepannya tidak hanya berskala nasional melainkan juga internasional. Acara pekan budaya tidak hanya berpusat di Kota Palu melainkan sulawesi tenggara.
“Tahun depan mungkin levelnya sudah tidak lagi di Palu, namun sudah di Sulawesi Tengah. Hanya saja Palu sebagai jantungnya atau mutiaranya. Dan ini (PBI-FPPN 2017) kita anggap sebagai latihan, tahun 2019 kita maju bukan lagi ‘Dari Palu Untuk Indonesia yang Berbudaya dan Beradat’ tetapi ‘Palu Untuk Dunia’. Nanti kita buat festival internasional tentu keterlibatan dari semua pihak, tidak hanya satu-dua. Saya kira kita sudah punya Undang-undang Permajuan Kebudayaan yang mendukung untuk itu,” ‎pungkas Hilmar.
Dalam acara penutupan, ribuan masyarakat Kota Palu tumpah ruah di Pantai Talise. Selain menonton gelaran budaya mereka juga menonton gelaran musik yang dimeriahkan Band Ungu, Iis Dahlia, dan Nassar.

Laporan Wartawan Tribunnews, Taufik Ismail


Keep fighting for people power!

Politicians and rich CEOs shouldn't make all the decisions. Today we ask you to help keep Change.org free and independent. Our job as a public benefit company is to help petitions like this one fight back and get heard. If everyone who saw this chipped in monthly we'd secure Change.org's future today. Help us hold the powerful to account. Can you spare a minute to become a member today?

I'll power Change with $5 monthlyPayment method

Discussion

Please enter a comment.

We were unable to post your comment. Please try again.