Decision Maker

Ganjar Pranowo

  • Gubernur Jawa Tengah

H. Ganjar Pranowo, S.H (lahir di Karanganyar, Jawa Tengah, 28 Oktober 1968; umur 46 tahun) adalah Gubernur Jawa Tengah yang menjabat sejak 23 Agustus 2013.


Does Ganjar Pranowo have the power to decide or influence something you want to change? Start a petition to this decision maker.Start a petition
Petitioning Jokowi, Ganjar Pranowo, Ignasius Johan, Direktorat Jendral Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Tengah, Kepalai Balai Lingkungan H...

Pak @jokowi, Cabut Izin PLTP Baturaden!

Siapa sih yang tidak mengenal Gunung Slamet? Gunung tertinggi di Jawa Tengah yang memiliki hutan tropis alami terakhir di Pulau Jawa ini, terlihat oleh kita setiap hari. Berbagai flora dan fauna hidup di Gunung Slamet. Mulai dari Elang Jawa, Macan Tutul, Anggrek Gunung, hingga spesies Katak yang belum diberi nama pun ada di Gunung Slamet. Kesemuanya dapat hidup lestari di Gunung Slamet karena rapatnya tutupan hutan lindung, yang membuat suhu di sana selalu lembab dengan kondisi tanah yang selalu basah karena serapan air yang baik. Dengan kondisi demikian pun, Gunung Slamet dapat menyediakan pasokan air melalui ratusan aliran sungai untuk keperluan makhluk hidup di sekitarnya. Masyarakat Banyumas terutama, amat bergantung pada keberadaan Gunung Slamet ini, mulai dari untuk air minum sehari-hari, pertanian, perikanan, peternakan, kehutanan, bahkan pariwisata. Akan tetapi berkah titipan Tuhan yang begitu indah ini, kondisinya tak lagi sama sejak datangnya proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP). Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi adalah pembangkit listrik yang memanfaatkan panas bumi sebagai sumber energinya. Untuk membangkitkan listrik dengan panas Bumi dilakukan dengan mengebor tanah di daerah yang memiliki potensi panas bumi tinggi untuk menggerakkan turbin yang tersambung ke generator. Perusahaan pemenang tender Proyek PLTP Baturraden bernama PT. Sejahtera Alam Energy (PT. SAE). Permodalan PT. SAE berasal dari 2 perusahaan. Yang pertama adalah perusahaan asing STEAG PE GmbH asal Jerman dengan saham 75%. Sedangkan 25% sisanya dimiliki oleh PT. Trinergy asal Indonesia. Rencana biaya yang dikeluarkan untuk Pengusahaan Tenaga Panas Bumi sebesar 880 juta US Dollar. Semua ini diperlukan untuk menghasilkan listrik dengan target 220 Mega Watt.PT. SAE memegang Izin Panas Bumi (IPB) berdasarkan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 1557 k/30/MEM/2010, yang kemudian diperbarui menjadi Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. 4577k/30/MEM/2015. Wilayah Kerja Pertambangan (WKP) PLTP Baturraden seluas 24.660 hektar, meliputi Kab. Brebes, Kab. Banyumas, Kab. Purbalingga, Kab. Tegal dan Kab. Pemalang; yang 90% dari lokasi tersebut merupakan kawasan hutan lindung. Maka dari itu, untuk menjalankan operasinya, PT. SAE harus memiliki Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH) yang dikeluarkan oleh Kementerian Kehutanan. Per 22 Agustus 2014, Kementerian Kehutanan mengeluarkan izin seluas 44 hektar. Namun per 5 Oktober 2016, PT. SAE telah mengantongi IPPKH seluas 488,28 hektar. Saat ini, pembangunan PLTP Baturraden memasuki tahap eksplorasi. Tahap ini terdiri dari beberapa kegiatan, antara lain pembangunan landasan sumur, pembangunan jalan untuk akses ke landasan sumur, pembukaan lahan untuk pemasangan pipa, area dispossal, embung, dan bangunan sementara. Berdasarkan Formulir UKL-UPL PT. SAE lokasi yang dibutuhkan untuk tahap eksplorasi ini seluas 6.757.770 meter persegi (675,7 hektar). Luasan lahan tersebut akan digunakan untuk membangun 8 Wellpad yang direncanakan. Saat ini pembangunannya telah memasuki wilayah Kabupaten Banyumas, tepatnya telah mencapai Kecamatan Cilongok. Dampak yang telah terjadi Akhir-akhir ini, celeng (babi hutan) makin sering masuk ke pemukiman masyarakat sekitar lereng Gunung Slamet. Celeng-celeng itu doyan sekali makan umbi-umbian yang ditanami kaum tani. Saat ini untuk bisa makan singkong saja, kaum tani mesti membeli di pasar. Celeng-celeng ini tidak hanya merusak kebun milik kaum tani, tapi juga sampai masuk ke dalam rumah. Beberapa kali masyarakat juga sempat melihat macan mendekati pemukiman, meskipun tidak sesering celeng. Hanya saja, beberapa saksi tidak memahami jenis macan apakah yang sempat mendekati pemukimannya. Kaum tani pinggiran hutan di Dusun Semaya, Desa Sunyalangu, Kec. Karanglewas menjadi saksi atas fenomena ini. Di Desa Kemutug Kidul, Kec. Baturraden bahkan sempat didatangi ratusan kera gunung. Kera-kera tersebut menyerang wilayah pertanian penduduk setempat. Lahan pertanian yang ditanami padi, jagung, dan cabai terancam gagal panen. Peningkatan aktivitas turunnya hewan-hewan ke area masyarakat ini, seiring dengan berlangsungnya proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) di Gunung Slamet. Habitat utama hewan-hewan tersebut ini awalnya ada di hutan lindung Gunung Slamet, terutama di area Rawa Taman Dringo dan Bukit Rata Amba. Namun kedua area tersebut saat ini telah ditebang dan diratakan untuk kegiatan eksplorasi PLTP. Merasa terancam kehilangan sumber penghidupannya, hewan-hewan tersebut masuk ke pemukiman masyarakat. Sepanjang November 2016 sampai Maret 2017 juga telah terjadi pencemaran air sungai di Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas. Hulu Sungai Prukut berubah warnanya menjadi merah kecoklatan. Padahal sungai tersebut selama ini menjadi sumber air bagi Desa Sambirata, Karang Tengah, Gunung Lurah, Panembangan, dan Kalisari. Kegiatan ekonomi produksi di desa tersebut terhambat. Bahkan ada yang berhenti total karena memang mayoritas di desa tersebut kegiatan ekonominya bergantung pada sumber air bersih. Masyarakat di desa tersebut kebanyakan berkegiatan di sektor pertanian, perikanan, peternakan, produksi tahu rumahan (di Desa Kalisari terdapat 283 pengerajin tahu – Sentra produksi tahu terbesar di Banyumas) dan wisata alam seperti curug (air terjun).(2) Berdasarkan temuan lapangan KPH Banyumas Timur, kekeruhan yang terjadi dikarenakan material pohon dan tanah dibuang ke pinggiran kali. Sehingga, saat terjadi hujan lebat material tersebut terbawa ke hilir dan mengakibatkan kekeruhan yang berkepanjangan.(3) Pemenuhan kebutuhan air bersih untuk rumah tangga pun juga terganggu. Air sungai yang biasa digunakan untuk pemenuhan kebutuhan tersebut terlalu kotor untuk diminum, mandi, memasak, ataupun mencuci. Untuk menyiasati cobaan ini, masyarakat akhirnya membeli air bersih kurang lebih 5 sampai 10 dirijen per rumah per hari. Baru setelah keluhan rutin diajukan sepanjang Januari-Februari, pihak perusahaan membuka posko pengaduan dan bersama Pemerintah Kabupaten Banyumas memberi bantuan air bersih. Itu pun bantuannya tidak rutin. Pencemaran ini disebabkan oleh pembukaan hutan dan pembangunan jalan dari kawasan agrowisata Kaligua, Kab. Brebes sampai ke area Taman Dringo (sebuah rawa di hutan lindung Gunung Slamet). Jalan tersebut dibangun untuk memudahkan mobilisasi transportasi dan peralatan yang diperlukan untuk eksplorasi panas bumi. Potensi KerusakanSebagian besar proyek PLTP terletak di Kawasan Hutan Lindung. Kawasan Hutan Lindung merupakan kawasan hutan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya. Hutan ini ditujukan untuk menjalankannya fungsi-fungsi lingkungan khususnya untuk memelihara tutupan vegetasi dan stabilitas tanah di lereng-lereng curam serta melindungi Daerah Aliran Sungai. Dalam sistem Hidrologi panas bumi, kawasan ini merupakan daerah resapan air yang berfungsi sebagai pemasok air ke dalam sistem reservoir. Penyebaran daerah resapan air meliputi hampir di setiap kabupaten (Banyumas, Purbalingga, Pemalang, Tegal, Brebes). Inilah alasan kenapa selama ini Gunung Slamet dianggap sebagai sumber penghidupan, yaitu karena hutan lindungnya yang masih alami. Ketika musim penghujan tiba, hutan lindung di Gunung Slamet mencegah supaya air tidak mengalir deras ke bawah sehingga tidak terjadi banjir. Air tadi disimpan di dalam tanah berkat adanya hutan lindung. Sedangkan ketika kemarau, cadangan air tanah tadi keluar melalui berbagai sumber mata air. Sehingga masyarakat terutama petani yang amat bergantung dengan air, tidak mengalami kekeringan. Kelestarian Gunung Slamet adalah kunci keseimbangan kehidupan alam maupun sosial di sekitarnya. Proyek PLTP ini berpotensi mengancam keseimbangan ekosistem Gunung Slamet. Berbagai fenomena turunnya satwa liar ke wilayah masyarakat akan menjadi lebih sering, dan akan semakin banyak desa yang bisa terdampak. Sistem hidrologi juga sangat terancam, penurunan kuantitas maupun kualitas sumber mata air sangat mungkin terjadi. Kedua hal ini tentu akan berdampak pula pada kegiatan produktif masyarakat, terutama pada sektor-sektor yang mengandalkan keseimbangan alam Gunung Slamet seperti pertanian. Celakanya proyek sebesar 7 Triliun ini hanya diwajibkan Dokumen UKL-UPL, bukan Dokumen AMDAL; yang setara dengan usaha bengkel di Pinggir jalan. Parahnya lagi, proyek ini tidak menjunjung kaidah-kaidah konservasi. Rabu, 24 Mei 2017, PT. SAE melakukan sosialisasi proyek yang mengundang Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, Kepala Dinas ESDM Propinsi Jawa Tengah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Propinsi Jawa tengah, Pemerintah Daerah Banyumas, Tokoh Masyarakat, Organisasi Masyarakat, NGO/LSM, Wartawan media, BEM dan Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) UNSOED. Akan tetapi, sosialiasasi tersebut tidak dihadiri oleh pihak-pihak yang diundang. Beberapa organ yang hadir ada yang Walk-out dari acara Sosialisasi, dan menyatakan MENOLAK dengan keras pembangunan PLTP (geothermal) di Gn. Slamet. Hari ini negara telah terbukti lebih berpihak pada pemodal dan korporasi; bukan kepada masyarakat dan kelestarian alam.Risiko dan bahaya yang besar akan segera dirasakan masyarakat ketika proyek ini diteruskan. Maka dari itu, mari kita galang dukungan demi lestarinya hutan lindung Gn. Slamet! TIDAK ADA KOMPROMI atas hal ini. Proyek PLTP Baturraden harus DIHENTIKAN dari Gunung Slamet. Menjaga alam bukan hanya kewajiban pecinta alam dan aktivis, ini adalah PERJUANGAN dan JIHAD BERSAMA!  Salam lestari!Salam budaya!Kabarkan!

Lindungi Hutan Tegal
110,420 supporters
Petitioning Ganjar Pranowo

Stop Shark Exploitation in Karimunjawa - Please start Investigation!

Dear readers,   As traveler and lover of Indonesian nature/environment I feel that it's my responsiblity to raise the issue of Shark Exploitation/Cruelty in Karimunjawa Island (Jawa Tengah) and ask for a further investigation to improve conditions and if possible: Setting the sharks free!  Please sign this petition to help Indonesia to develop a more responsible, sustainable tourism: For human and animal. The trigger of setting up this petition was that my Instagram post/picture went viral with thousands of reactions and messages to the bad situation I described --> https://www.instagram.com/p/BFs8fSpwOPq/ (Instagram: @FredNeust) Current condition Sharks, different sizes and age-range, are held captive in a small "sea water pool" with the targeting of luring tourists to take pictures with the sharks. (Even me, to be honest, came there initially to take a picture for my Instagram.)  It is a big Unique-Selling-Point for beautiful Karimunjawa as tourism destination and is referred as main attraction, even on Tripadvisor.com  Local workers are casting/angling/leading the Sharks with dead fish in the direction of the tourists to take pictures. The pool does not contain other fish or sea plants, but a bit of waste/rubbish. People are entering the pool with dirty clothes and stressing/provoking the sharks with loud/hectic behavior. Some of the local workers say they breed and raise some of the sharks there, but there is no evidence and the conditions are not fair. There is the suspicion - without proof- that the sharks are caught first and then brought to this place.  Overall the conditions are inappropriate for this species and need to be improved urgently Target I wish that more influential people than me get aware of the problem and help to find a solution. Hopefully, inspiring decision makers as Susi Pudjiastuti, Riyanni Djangkaru, Ridwan Kamil and Ganjar Pranowo will take notice and bring change!  Solution approaches A closure compensation payment to operators might be considered  and/or A donation/fund can be used to improve the overall conditions for the sharks and train the workers how to treat animals right If they increase breeding sharks, the process needs to be regulated and controlled to ensure appropriate treatment.  An investigation has to be made if sharks are getting caught and capture there or not.  Additional comment: Local workers  For me, it is important that not the local workers at this place get criticized. They are just part of an incorrect system that needs to be improved.  I do not want people to lose their jobs, so I do vote for a fair transfer to continue working in Tourism, but Eco-tourism. Maybe they could get a job as "guards "to look after the sea world around the islands. Lots of corals are destroyed and people don't take care if they step on and destroy the sea life.   For the sake of sustainable Ecotourism and that we all and our children's children have something from our beautiful Indonesia, thank you for signing this. #UntukIndonesia   And I need to add, I am thankful for having me "Bule" here. I do not want to act like I know this country best. It's just about giving something positive back with a small change. I do respect Indonesia on the highest level, want to spend my life here, so I am honored to live in this beautiful country that we should be all proud of -  even if some things are not working well yet. I am optimistic for our future!   Dimana ada kemauan, di situ ada jalan! Semangat!  

Frederik Neust
57,591 supporters
Victory
Petitioning PT KAI, Ganjar Pranowo, FX Hadi Rudyatmo

Dukung Pendirian Patung/Memorabilia Didi Kempot Di Stasiun Balapan Solo!

Salam sobat ambyar! Hari ini, tanggal 5 Mei 2020, seorang legenda musik pop telah berpulang, yaitu Didi Kempot. Kepergian beliau tentu sangat mengagetkan, mengingat dua minggu yang lalu beliau melakukan konser amal dengan Kompas TV dan mengumpulkan dana miliaran rupiah untuk disalurkan kepada tim medis yang menangangi COVID-19. Karya beliau juga akhir-akhir ini mampu menembus batas generasi, dengan fakta bahwa setiap shownya selalu dipenuhi anak muda yang berjoget, menangisi dan mentertawakan rasa patah hatinya. Semua kesuksesan mainstream beliau dimulai sejak rilisnya single "Stasiun Balapan" di tahun 1998. Beliau mulai dikenal di luar Jawa, bahkan hingga Suriname.  Sebagai bentuk penghargaan kepada beliau, saya memohon kepada PT KAI, Pemprov Jawa Tengah, Pemkot Surakarta dan siapapun yang terlibat dalam kepengurusan Stasiun Solo Balapan, agar membuatkan sebuah memorabilia Didi Kempot di area stasiun. Bentuknya bisa apa saja, patung Didi Kempot, prasasti lirik lagu Stasiun Balapan, atau apapun. Mengingatkan kita bahwa secara tidak langsung Didi Kempot memperkenalkan kota Solo dan Stasiun Balapan kepada khalayak. Ini tidak terlalu mendesak, mengingat situasi pandemi masih belum berakhir. Tapi, kami mohon agar petisi ini dapat direspon - sebagai wujud kepedulian pada tokoh budaya dan musisi legendaris yang memperkenalkan kota Solo kepada khalayak melalui lagunya. Sebagai penutup, kami juga mengingatkan bahwa petisi ini juga agar masyarakat makin menghargai seniman. Agar karya mereka selalu abadi, dan ketokohan mereka tidak luntur ditelan zaman. Terima kasih, salam ambyar!

Hanindha Cholandha
33,706 supporters
Petitioning Joko Widodo

Hentikan operasi pabrik semen yang menggusur warga di Pegunungan Kendeng, Rembang, Jawa Tengah!

Hari cinta Sedunia, 14 februari 2015 Jam 16.17 waktu setempat.  Hari ke 244 di tenda perlawanan warga, demi rumahnya, melawan pembangunan pabrik Semen Indonesia.  Bersama para ibu yang telah dihina disiksa dan dipukuli secara rutin oleh mafia rakus yang ingin mengambil tanah mereka.  Bertahan.  Setiap jengkal tanah adalah setetes darah dan harga diri.  Saat yang kaya makin jadi kaya, begitu pula si miskin. Sama antara pejabat dan rakyat. Tidak puas "menjual" lahan lahan bagus tanah air, sekarang pegunungan Kendeng Jawa Tengah , Rembang sudah "dilacur" pejabat untuk Semen Indonesia, menyusul daerah daerah lain.  Di Lumbung Padi indonesia, yang sudah berubah menjadi penyumbang bencana terbesar Indonesia. Tanah cantik para petani yang sudah diduduki puluhan pabrik semen yang orientasinya adalah EKSPOR.  Ratusan ribu orang terancam kemiskinan dan penelitian mengatakan kalau ini diteruskan maka per 2050 sebagian Jawa sudah bisa dipastikan hilang dari Peta.  Hari ini, gunung indah dan hijau dengan sumber air alami ini sudah dirubah oleh para mafia rakus menjadi daerah kekeringan. 2 JUTA orang JawaTengah sekarang sudah kekurangan air.  Dengan ledakan besar pemecah batu setiap jam 12 siang 10 menit dari rumah rakyat, mungkin mereka berharap suatu hari kita merubah makanan pokok kita dari nasi menjadi semen.  Kali ini masih ada satu kesempatan untuk kita menghentikan. Karena Seorang Menteri bisa mengeluarkan surat dan begitu juga seorang Gubernur. Karena suara rakyat harus didengar.  Karena kalau tidak, mafia akan terus merajalela di area lain Indonesia.  Karena, kita adalah manusia dan pejabat kita konon adalah manusia punya hati yang bisa membaca dan merasakan.  Buat yang mau baca lengkap kerugian yang bs terjadi kalau ini berjalan bisa buka di : http://melaniesubono.blogdetik.com/2015/03/03/sejengkal-tanah/ Dan kalau kamu setuju, tanda tangani ini yang akan langsung disampaikan ke Ibu Siti Nurbaya dan Pak Ganjar Pranowo sebagai dua wakil suara kita yang bisa menghentikan ini.  Untuk indonesia. Rumah kita. 

melanie subono
28,845 supporters
Petitioning Bupatiwonosobo , Dishubwonosobo , Dinas Perhubungan Wonosobo, Pemda wonosobo, Grabid , bapak Presiden Indonesia, Bapak gubernur jawa tengah, Joko Widodo, Eko Purnomo, Grab Indonesia, pemprov jateng...

Surat Cinta Untuk Bapak Bupati Wonosobo

Surat Cinta Untuk Bapak Bupati Wonosobo Assalamu'alaikum Wr.Wb Pada hari ini, Kamis 3 Januari 2019 Persatuan Ojek Konvensional Dan juga Angkot Se Kab.Wonosobo telah melaksanakan aksi damai Penolakan Terhadap Transportasi Online di Wonosobo. Sekitar -+3000 personil dikerahkan dalam aksi tersebut. Dan pada akhirnya membuahkan hasil secara lisan bahwasannya Kepala Dinas Perhubungan kab.Wonosobo dan instansi terkait menyetujui tuntutan dari para peserta aksi tersebut. Intinya Ojek Online diWonosobo akan "DITUTUP". Kami sebagai masyarakat kab.Wonosobo yang awam akan pengetahuan regulasi hukum maupun aturan-aturan yang ditetapkan tersebut,Kami merasakan "KEKECEWAAN" kepada Pemerintah Kab.Wonosobo yang secara terang menutup Ojek Online diKab.Wonosobo. Sebagai Kota berkembang,apakah salah jika hadir transportasi berbasis online di kab.Wonosobo ini yang pada dasarnya ini adalah menjawab atas tuntutan tekhnologi yang kian maju? Dari info yang didapatkan dari salah satu pengurus driver online wonosobo,setidaknya ada -+800 Driver Bike dan 70 Driver Car yang merasa keberatan atas Kebijakan yang Bapak buat ini. Selain itu ada lebih dari 250 outlet makanan yang bermitra kepada provider transportasi online diwonosobo yang mereka anggap menjadi salah satu fasilitas untuk menambah perekonomian usaha mereka. Coba bapak bayangkan layanan transportasi berbasis online ini sekarang menjadi salah satu layanan yang sangat memudahkan masyarakat kab.Wonosobo, yang seperti kita ketahui bahwasannya sulitnya moda transportasi diWonosobo ini. Tidak semua daerah diWonosobo ini dijangkau transportasi umum, apalagi dimalam hari, Justru malah dihentikan. Hak kebebasan untuk memilih transportasi umum direnggut paksa, masyarakat dipaksa untuk memilih angkutan umum yang penuh ketidakpastian. Ketidakpastian waktu tempuh karena banyak angkutan umum konvensional terutama Angkutan Kota yang mengetem disembarang tempat sehingga waktu tiba di tujuan tidak bisa ditentukan. Kalau perizinan transportasi online dipertanyakan, lantas bagaimana dengan rental mobil atau ojek pangkalan? Bagaimana membedakan transpotasi online dan non-online? Bagaimana membedakan ojek pangkalan dengan ojek online? Bagaimana membedakan mobil rental yang bawa penumpang?  Kalau transportasi online dilarang, itu artinya sama saja kami konsumen dilarang menggunakan ojek pangkalan, dilarang menggunakan becak, dilarang menggunakan mobil rental. Kami meminta kepada Bapak Bupati untuk mempertimbangkan Kebijakan yang telah bapak putuskan ini, Karena bukan hanya berdampak pada pelaku driver saja, sedangkan lapangan pekerjaan yang sulit diKab.Wonosobo ini juga menjadi perhatian khusus yang perlu bapak tuntaskan. Diluar itu bagaimana nasib para pengusaha umkm dikab.Wonosobo yang sudah berjalan dan sangat membantu perekonomian diWonosobo ini. Akankah dengan kebijakan ini akan merubah kab.Wonosobo ini menjadi lebih baik pak? Kami hanya sebagai masyarakat yang ingin merasakan kemudahan tekhnologi seperti dikota-kota maju lainnya pak. Jangan bapak renggut Hak Kami untuk memilih moda transportasi yang kita inginkan. Banyak cara untuk menyelesaikan permasalahan ini tapi tidak untuk mengalahkan salah satu dari mereka pak. Sungguh kami meminta kepada yang terhormat Bapak Bupati Wonosobo,Bapak Eko Purnomo dan Bapak Wakil Bupat,Bapak Agus subagyo sekiranya mengkaji lebih dalam keputusan yang bapak buat.  Kami berharap Bapak sebagai wakil kami "Masyarakat" mempertimbangkan suara masyarakat bapak ini,karena pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mau mendengarkan aspirasi dari masyarakat. Wassalamu'alaikum Wr.Wb.

Raditya Aska
13,807 supporters
Petitioning Ganjar Pranowo, Sujarwanto Dwiatmoko, Prasetyo Aribowo

Bangun PLTS di Kampus, Dukung JaTeng jadi Pelopor Pusat Tenaga Surya di Indonesia

"Panasnya (Jawa Tengah) sekitar 39,6 derajat (Celcius). Saya memiliki keyakinan dengan teknologi, panas tersebut bisa dimanfaatkan menjadi energi listrik yang bersih dan terbarukan," kata Ganjar, saat meresmikan secara virtual Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap pada acara Peresmian PLTS Rooftop Plant Klaten, Selasa (6/10/2020) Potensi energi surya di Jawa Tengah (JaTeng) mencapai 3,27 sampai 4,2 kWh/kWp/hari, atau di atas rata-rata potensi nasional, data tersebut dihasilkan dari perhitungan platform Global Solar Atlas. Ini menjadikan JaTeng sebagai satu dari 10 provinsi di Indonesia dengan potensi energi surya terbesar di Indonesia. Ini pula yang menjadi landasan kuat bagi JaTeng merealisasikan komitmennya menjadi “Solar Province” (provinsi berbasis energi surya) pertama di Indonesia. Dua tahun lalu, JaTeng sudah mengeluarkan Perda No 12 Tahun 2018 tentang Rencana Umum Energi Daerah (RUED) Provinsi Jawa Tengah. Sebagai provinsi pertama yang menyelesaikan RUED, JaTeng memiliki target energi baru terbarukan (EBT) sebesar 21,32% hingga tahun 2025 dan 28,82% di tahun 2050. Sejauh ini, baru 17 provinsi yang telah menyelesaikan RUEDnya dengan target bauran EBT di tahun 2025 dan 2050. Ada 5 provinsi yang memiliki bauran energi baru dan terbarukan terbesar di Indonesia berdasarkan RUED, yaitu Provinsi Kalimantan Utara dengan target 55,9% dan 76,6%, Provinsi Sumatera Barat dengan target 51,7% dan 70,9%, Provinsi Sulawesi Tengah dengan target 30,51% dan 42,09%, Provinsi Jawa Tengah dengan target 21,32% dan 28,82%, Provinsi Sumatera Selatan dengan target 21,06% dan 22,56%. Dibandingkan dengan provinsi lain dengan RUED di Pulau Jawa, target bauran EBT JaTeng hingga 2050 adalah yang tertinggi, jadi penting untuk segera direalisasikan mulai dari sekarang. Kampus, memiliki potensi besar untuk  berperan sebagai pionir dalam proses ini.  Bulan Mei lalu, Ganjar Pranowo sudah menyatakan siap menjadikan Provinsi JaTeng sebagai laboratorium energi surya untuk percepatan pembangunan. Ini juga dinyatakan dalam diskusi  “Green Economic Recovery: Akselerasi Pengembangan Energi Surya Sebagai Strategi Pemulihan Ekonomi Indonesia Pasca-COVID 19”. Dengan adanya inisiatif pemerintah daerah seperti ini, maka penyebaran teknologi energi surya diharapkan bisa dirasakan sampai ke seluruh wilayah JaTeng.  Salah satu hal yang bisa dilakukan anak muda adalah dengan menyuarakan dukungan kita (baca: aspirasi) kepada para pemimpin daerah yang punya komitmen energi bersih, seperti Pemerintah Jawa Tengah yang bekerja sama dengan IESR (Institute for Essential Services Reform) membangun program Jawa Tengah sebagai Solar Province atau provinsi berbasis energi surya. Cek infonya di sini. Lewat petisi ini, dukungan suara kita kepada Pemerintah Provinsi JaTeng akan juga memotivasi mereka agar mampu mencapai target yang sudah dibuat, sekaligus menginspirasi para pemimpin daerah provinsi lain untuk melakukan hal serupa.  Gubernur JaTeng Bapak Ganjar Pranowo, beserta Kepala Dinas ESDM Jawa Tengah Bapak Sujarwanto Dwiatmoko, dan Kepala BAPPEDA Jawa Tengah Bapak Prasetyo Aribowo, kami yang menandatangani petisi ini adalah anak muda Indonesia yang mendukung kebijakan Pemerintah Provinsi JaTeng mencapai target sebagai provinsi berbasis energi surya, dan yang berharap agar keberhasilan pemerintahan kalian dapat menginspirasi para pemimpin daerah provinsi lain untuk melakukan hal serupa.  Kedua, kami mohon agar Pemerintah Provinsi JaTeng juga menyampaikan aspirasi kami bahwa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan perlu mendekatkan pengetahuan dan pembelajaran soal energi terbarukan kepada anak muda lewat institusi pendidikan, dimulai dengan mendukung  target JaTeng sebagai laboratorium energi surya berbasis kampus. Hal ini bisa dimulai dari kampus-kampus yang telah masuk dalam kategori Kampus Hijau Terbaik di Indonesia, seperti Universitas Diponegoro, Universitas Negeri Semarang, dan Universitas Sebelas Maret. Lagipula, sudah banyak gerakan anak muda di JaTeng yang juga mendukung hal ini, seperti Society of Renewable Energy (SRE) pada beberapa kampus di JaTeng dan Dewan Energi Mahasiswa (DEM) Semarang yang merupakan gabungan mahasiswa dari berbagai kampus di JaTeng.  Biar bagaimanapun juga kolaborasi antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan pemerintah daerah akan menjadi penggerak pengembangan energi terbarukan di Indonesia, seperti mengembangkan teknologi energi terbarukan yang sesuai dengan potensi daerah, mencetak anak muda Indonesia yang mampu menjadi teknisi hingga ahli dalam energi terbarukan, dan menyebarkan teknologi dan SDM yang berkualitas tersebut ke berbagai wilayah di Indonesia.  Ayo Kawan, kita dukung, tanda tangani, dan sebar petisi ini!  Salam,

Coaction Indonesia
6,695 supporters
Petitioning Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), kementerian PUPR, Ganjar Pranowo, Khofifah Indar Parawansa, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo

Cleanse Bengawan Solo River From Microplastic, Before it's too Late!

ID Bengawan Solooo, your history is now…. full of microplastics! This is a fact, friends. Early 2020, we conducted research there. The result is that the Bengawan Solo river water contains microplastics. Bengawan Solo has great benefits for people's lives in East Java and Central Java. This river is very important for survival there, including as a source of drinking water, clean water, industrial raw materials and irrigation for thousands of hectares of ponds and agricultural land. If the water is contaminated with microplastics, it means that the fish and shrimp in the river have eaten microplastics. Exactly the results of research from the TCC (Trash Control Community) Sunan Ampel State Islamic University (UINSA) community in Surabaya. They said that the fish and shrimp in the Bengawan Solo river were contaminated with microplastics. In a fish, we found 28 microplastic particles and in a shrimp found 16 microplastic particles. What are microplastics? Small plastics with size less then <5mm. It come from industries that produce microlastics, secondly from large plastic crumbs. What is the danger? If consumed, it can interfere with metabolism and hormones because there are Endocrine-Disrupting Chemicals (EDCs). The mildest effect is diarrhea, and the most severe can trigger cervical cancer, breast, lymph nodes, skin and nasopharynx. What is the source? Plastic waste and textile factories. When we did research with Biology students of Airlangga University (UNAIR) Surabaya, the results were surprising. 180 microplastic particles were found in 100 liters of water in the Bengawan Solo river. Microplastics are found in many types of Fragments, Filaments, and Fibers. The types of fragments and filaments come from the generation of plastic waste, sachets, plastic bottled drinking water, diapers along the outskirts of Bengawan Solo. Meanwhile, the fiber comes from a textile company which is in the process of making fabrics using synthetic polyester and cotton which contribute to fiber pollutants. We think the results of this research are enough for the government to seriously handle and clean the Bengawan Solo river. That's why through this petition we ask the Ministry of Environment and Forestry (KLHK), the Ministry of Public Works and Public Housing (PUPR), the Bengawan Solo River Basin Center (BBWS), the Governor of East Java and the Governor of Central Java to immediately handle microplastics in the river. By create a regulation about Standard Quality Microplastic Content in liquid waste in industry, especially the textile industry in Indonesia. Not only that. It is time for the Ministry of Environment and Forestry to require every producer whose producing sachets, single use product, and disposable diapers to provide special bins through its Extended Producer Responsibility (EPR) policy. The above demands are not without a legal basis, because they are part of the concrete steps of the JAKTRANAS program which refers to Presidential Decree No. 97/2017 concerning National Policies and Strategies for the Management of Household Waste and Similar Household Waste and Government Regulation No 82/2001 on Water Pollution Control and Water Quality Management. We need your support to sign and distribute this petition for Bengawan Solo Without, before it's too late! #BengawanSoloWithoutMicroplastics. Regards, ECOTON

ECOTON FOUNDATION
5,572 supporters