Tutup Pasar Burung di Indonesia!

0 telah menandatangani. Mari kita ke 500.


Pemerintah harus tutup pasar yang memperdagangkan satwa liar di Indonesia!

Hal ini bukan tanpa alasan, pasar burung yang memperdagangkan satwa liar memiliki potensi untuk menjadi titik penyebaran virus di masa depan.

Jangan sampai keberadaan pasar-pasar ini justru mengancam kelangsungan hidup manusia secara global. Terutama bagi masyarakat yang tinggal di sekitar pasar burung.

Kami melihat banyak pasar burung di Indonesia menjadi pusat perdagangan ilegal satwa liar, seperti burung, primata, reptil, dan mamalia.

Parahnya, Satwa-satwa tersebut disimpan dengan kondisi yang tidak layak. Kebanyakan pedagang tidak memperhatikan kesejahteraan satwa dengan mengurung satwa-satwa tersebut dalam kandang yang sempit, kebersihan yang tidak dijaga, serta pakan yang seadanya.

Dengan kondisi lingkungan yang tidak layak itu, memungkinkan satwa-satwa menjadi sakit dan menularkannya pada satwa lain, apesnya lagi menularkannya kepada manusia (Zoonotic disease) seperti yang terjadi di Pasar basah Huanan, Provinsi Wuhan, China.

Menurut penelitian yang banyak dipublikasikan, satwa liar yang dijual di pasar burung memiliki potensi menyebarkan penyakit yang berbahaya. Contohnya, Pandemi Covid-19 berkaitan erat dengan gejala pada kelelawar dan trenggiling. Satwa liar lainnya seperti primata (monyet dan kera), babi, dan kucing juga dapat menjadi perantara perpindahan virus berbahaya ini.

Kami juga memantau pasar-pasar hewan ini, dan menemukan berbagai fakta mengejutkan. Selama tahun 2019, sebanyak 765 ekor satwa dilindungi mulai dari Burung hingga Kucing hutan diperdagangkan secara bebas.

Kami telah memetakan 16 pasar burung besar di berbagai kota yang kerap memperdagangkan satwa dilindungi, yaitu:

  1. Pasar 16 Ilir (Palembang)
  2. Pasar Tanjung Karang (Bandar Lampung)
  3. Pasar Curug (Tangerang)
  4. Pasar Jatinegara (DKI Jakarta)
  5. Pasar Pramuka (DKI Jakarta)
  6. Pasar Barito (DKI Jakarta)
  7. Pasar Kebayoran Lama (DKI Jakarta)
  8. Pasar Sukahaji (Bandung)
  9. Pasar Dadaha (Tasikmalaya)
  10. Pasar Cikurubuk (Tasikmalaya)
  11. Pasar Plered (Cirebon)
  12. Pasar Tawangsari (Sukoharjo)
  13. Pasar Setonobetek (Kediri)
  14. Pasar Pal 7 (Banjarmasin)
  15. Pasar Palapa (Pekanbaru)
  16. Pasar Splendid (Malang)

Selain pasar di atas, tentu masih ada pasar-pasar serupa di wilayah lain. Termasuk satu pasar satwa yang disorot karena mengkhawatirkan adalah Pasar Beriman atau pasar extrem di Tomohon, Sulawesi Utara.

Maraknya perdagangan satwa liar mengancam penurunan populasi satwa besar-besaran di habitatnya, hingga dapat mempengaruhi kestabilan ekosistem secara luas.

Lagipula beberapa pasar burung telah ditutup sementara di masa pandemi Covid-19 ini, kenapa tidak ditutup saja sekalian secara permanen?

Kami mendorong Pemerintah daerah untuk menghentikan kondisi memprihatinkan ini dari sekarang, demi kehidupan generasi ke depan!

Salam, 

PERKUMPULAN PEMBELA SATWA LIAR

Website: https://gardaanimalia.com

Instagram: @pembelasatwaliar

Facebook: http://fb.com/pembelasatwaliar