Kegagalan KPU Institut PTIQ Jakarta dalam PEMIRA 2020/2021

0 telah menandatangani. Mari kita ke 100.


Pesta demokrasi sudah tentu menjadi ajang kontestasi dalam pemilihan umum dimana pun tempatnya, tidak hanya dalam pemerintahan di Negara Indonesia sendiri namun juga dalam Perguruan Tinggi hingga SMA pun ikut andil dalam pesta demokrasi ini.

Salah satu ajang pesta demokrasi yang ada di Perguruan Tinggi adalah PEMIRA (Pemilihan Umum Raya) untuk menentukan siapa Calon Presiden dan Wakil Presiden yang akan memimpin mahasiswa dalam satu periode ke depan, seperti yang terjadi dalam Institut PTIQ Jakarta. Sayangnya dalam PEMIRA tahun 2020/2021 ini banyak kejanggalan-kejanggalan yang dimunculkan oleh pihak KPU (Komisi Pemilihan Umum). Mulai dari edukasi yang tidak jelas, sosialisasi yang mendadak, sistem pemilihan yang tidak jelas. Dan bahkan pada hari Jum'at 27 November kemarin, pihak KPU telah menyatakan AKLAMASI atas paslon tunggal yang belum sama sekali menyampaikan visi dan misi, berkampanye dan lebih kronisnya lagi tidak ada voting suara pemilihan oleh pihak KPU terhadap mahasiswa PTIQ sendiri.

Oleh karena itu, kita sebagai mahasiswa PTIQ yang peduli dengan kampus harus ikut andil dalam menegakkan keadilan dengan menanda tangani petisi untuk mengajukan gugatan. Bahwa KPU PEMIRA PTIQ 2020/2021 GAGAL dalam menjalankan PEMIRA, dan menggugat untuk mencabut surat ketetapan atas BEM terpilih dan juga membubarkan KPU serta Bawaslu Institut PTIQ Jakarta agar melakukan PEMIRA ulang, menguji coba terlebih dahulu mengenai sistem pemilihan ONLINE agar terjaga asas LUBER JURDIL-nya, dan mengundur PEMIRA hingga telah terujinya sistem pemilihan online yang sesuai dengan asas LUBER JURDIL yang berlaku.

Ayo isi petisi ini, karena suaramu menentukan masa depan kampus kita yang tercinta.