Usut Kerusakan Lingkungan Penyebab Banjir di Sangatta!


Usut Kerusakan Lingkungan Penyebab Banjir di Sangatta!
Masalahnya
Elon, anak ketiga dari lima bersaudara, harus menghadapi kondisi yang pelik. Banjir di Sangatta yang menerjang rumah, memaksa ia membawa ibunya yang sakit stroke ke tempat pengungsian.
Di tempat pengungsian, tidak ada listrik. Obat ibunya juga habis. Ia harus berkeliling menerjang air banjir dan hujan deras. Elon berkeliling selama dua setengah jam untuk mencari apotek yang masih buka, dan ketika ia kembali ke tempat pengungsian, ia harus kembali lagi menerjang air untuk mendapatkan makanan.
Masalah ini tidak hanya dihadapi Elon, namun puluhan ribu warga lainnya di Sangatta yang kini terendam banjir.
Dalam waktu semalam saja, debit air mencapai satu meter lebih. Akhirnya, air merendam Kecamatan Sangatta Utara, dan Sangatta Selatan di Kabupaten Kutai Timur. Banjir ini adalah yang terparah dalam 20 tahun. Penyebabnya bukan saja akibat luapan air dari Sungai Sangatta, curah hujan yang tinggi atau terjadinya kedangkalan pada sungai.
Tetapi terdapat faktor utama adalah karena daya dukung ekosistem kita telah menurun, akibat aktivitas perusakan lingkungan. Terutama penggundulan ribuan hektare hutan, yang dilakukan perusahaan tambang batu bara.
Kerusakan lingkungan itulah akar masalah banjir periodik pada tahun 2013, 2015, 2017, dan 2022. Sekarang, sudah saatnya kita mendesak Pemerintah Kabupaten Kutai Timur untuk melakukan investigasi dan mengusut tuntas dugaan pelanggaran lingkungan. Agar tidak ada lagi warga yang harus mengungsi, kelaparan, jatuh sakit hingga merasakan kehilangan akibat banjir.
Sudah waktunya kita sebagai masyarakat agar tidak lagi menjadi korban atas tindakan pengrusakan lingkungan, yang bukan dilakukan oleh kita.
Salam.

Masalahnya
Elon, anak ketiga dari lima bersaudara, harus menghadapi kondisi yang pelik. Banjir di Sangatta yang menerjang rumah, memaksa ia membawa ibunya yang sakit stroke ke tempat pengungsian.
Di tempat pengungsian, tidak ada listrik. Obat ibunya juga habis. Ia harus berkeliling menerjang air banjir dan hujan deras. Elon berkeliling selama dua setengah jam untuk mencari apotek yang masih buka, dan ketika ia kembali ke tempat pengungsian, ia harus kembali lagi menerjang air untuk mendapatkan makanan.
Masalah ini tidak hanya dihadapi Elon, namun puluhan ribu warga lainnya di Sangatta yang kini terendam banjir.
Dalam waktu semalam saja, debit air mencapai satu meter lebih. Akhirnya, air merendam Kecamatan Sangatta Utara, dan Sangatta Selatan di Kabupaten Kutai Timur. Banjir ini adalah yang terparah dalam 20 tahun. Penyebabnya bukan saja akibat luapan air dari Sungai Sangatta, curah hujan yang tinggi atau terjadinya kedangkalan pada sungai.
Tetapi terdapat faktor utama adalah karena daya dukung ekosistem kita telah menurun, akibat aktivitas perusakan lingkungan. Terutama penggundulan ribuan hektare hutan, yang dilakukan perusahaan tambang batu bara.
Kerusakan lingkungan itulah akar masalah banjir periodik pada tahun 2013, 2015, 2017, dan 2022. Sekarang, sudah saatnya kita mendesak Pemerintah Kabupaten Kutai Timur untuk melakukan investigasi dan mengusut tuntas dugaan pelanggaran lingkungan. Agar tidak ada lagi warga yang harus mengungsi, kelaparan, jatuh sakit hingga merasakan kehilangan akibat banjir.
Sudah waktunya kita sebagai masyarakat agar tidak lagi menjadi korban atas tindakan pengrusakan lingkungan, yang bukan dilakukan oleh kita.
Salam.

Petisi ditutup
Sebarkan petisi ini
Pengambil Keputusan

Petisi dibuat pada 18 Maret 2022