Tuntut Nestle dan Mars untuk Melindungi Gambut Aceh dari Kejahatan Korporasi Sawit

0 telah menandatangani. Mari kita ke 25.000.


ENGLISH / BAHASA 

Provinsi Aceh memiliki lebih dari 200.000 hektar hutan rawa gambut yang keseimbangan iklim dunia dengan mencegah karbon keluar dari atmosfer, mengendalikan banjir, mempertahankan sistem perikanan, dan memiliki potensi luar biasa untuk ekowisata; namun potensi ini telah dirusak oleh perusahaan-perusahaan yang merusak keseimbangan Kawasan Ekosistem Leuser dengan membuka lahan gambut untuk perkebunan kelapa sawit.

“Sebelum tahun 90-an, sawah milik masyarakat pernah mencapai puncak panen yang membuat warga mampu membayar zakat. Namun itu cerita lama, sekarang sawah itu sudah menjadi rawa berair. Bukan hanya sawah, ikan pun semakin sulit didapatkan. Ikan-ikan sungai dan rawa menjadi langka di musim kemarau. Sawit datang, sawah Tenggelam,” ungkap Arianto, Geuchik Gampong Teluk Rumbia, Kecamatan Singkil.

Pembukaan hutan rawa gambut oleh pemegang izin Hak Guna Usaha (HGU) juga menjadi ancaman serius bagi pelestarian kawasan hutan rawa gambut di Aceh, kawasan yang seharusnya menjadi penjaga keseimbangan ekosistem dan iklim dunia kini dikeringkan untuk kanal-kanal drainase dan beralih fungsi menjadi lahan perkebunan, meningkatkan risiko bencana banjir, kebakaran hutan dan lahan serta krisis iklim.

Laporan investigasi Rainforest Action Network (RAN) mengungkap adanya perkebunan kelapa sawit ilegal yang bertanggung jawab atas perusakan habitat satwa liar dan sumber mata pencaharian masyarakat lokal. Laporan tersebut telah menelusuri Minyak Sawit Bermasalah yang dipanen dari kawasan lindung Suaka Margasatwa Rawa Singkil disuplai untuk merek-merek besar dunia seperti Nestlé dan Mars.

Penyelidikan lebih lanjut mengungkapkan mengungkap bahwa perusahaan minyak kelapa sawit nakal PT. Kallista Alam yang telah mendapatkan sanksi dari pengadilan karena secara ilegal sengaja membakar lahan gambut yang menjadi habitat orangutan Sumatra di lahan gambut Tripa, masih mensuplai minyak sawit ke pasar global meski bertahun-tahun setelah dinyatakan bersalah oleh pengadilan. Nestlé dan Mars merupakan merek-merek internasional yang sekali lagi, tidak menempatkan perusahaan, PT Kallista Alam, dalam daftar 'Tidak Dibeli' dan masih mengambil risiko terus mensuplai dari sumber minyak sawit bermasalah yang bertanggung jawab atas penghancuran hutan gambut dataran rendah yang kaya karbon di Kawasan Ekosistem Leuser.

Investigasi ini jadi bukti jelas bahwa merek-merek besar dunia seperti Nestle dan Mars TIDAK bisa menjalani komitmen mereka sendiri untuk tidak melakukan deforestasi, tidak merusak lahan gambut dan tidak melakukan eksploitasi bahkan mereka belum bisa menjamin kelapa sawit dalam produk mereka bebas deforestasi!

Bergabung bersama kami untuk menuntut Nestle dan Mars melindungi lahan gambut Aceh di dalam Kawasan Ekosistem Leuser dari Minyak Kelapa Sawit Bermasalah!

#LindungiGambutAceh #LindungiEkosistemLeuser