Tolong Ubah Sistem Pendidikan di Negeri Ini dan Hapuskan Sistem UN


Tolong Ubah Sistem Pendidikan di Negeri Ini dan Hapuskan Sistem UN
Masalahnya
Sistem pendidikan di Indonesia saat ini dirasa cukup gila. Apalagi setelah kemunculan kurikulum 2013 dimana untuk jenjang SMA, UN dilaksanakan ketika kelas 2 dan 3 SMA. Serta, sistem pendidikan di Indonesia (SD-SMA/K) dirasa sangat menekan siswa. Siswa terlalu lama berada di dalam ruangan tertutup (sekolah). Rata-rata saat ini siswa pulang sekolah pada sore hari (7jam di sekolah), belum lagi banyak tugas yang harus dikerjakan. Dirasa di Indonesia terlalu banyak jam pelajaran. Jika dibandingkan di Finlandia, tempat yang memiliki sistem pendidikan terbaik di dunia namun jam pelajaran disana juga paling sedikit di dunia. Hal itu karena siswa diberi sedikit pelajaran di sekolah, lalu siswa akan mengembangkan ilmunya sendiri di kehidupannya. Tentunya itu dapat membuat siswa lebih mandiri. Kami tidak menuntut agar kita seperti Finlandia, tapi kami ingin agar para petinggi di bidang pendidikan membuat reformasi pendidikan yaitu membuat sistem yang tepat berdasarkan pengamatan.
Terlalu lama di sekolah juga menyita waktu bermain anak. Dan bila waktu bermain anak tersita, maka sangat merugikan untuk psikologis anak. Ketika masa kecil tidak pernah main petak umpet, ketika dewasa ngumpetin duit orang lain (korupsi). Terlebih saat ini banyak orang berani membayar mahal untuk permainan, siapa bilang Lionel Messi tidak main bola? Dia sebenarnya bermain bola, hanya saja banyak orang mau membayar mahal untuk permainannya (sponsor). Bukan berarti kami disini enggan dengan pendidikan, tapi ketika masa anak-anak waktu bermain bisa menjadi pembelajaran tersendiri untuk mereka.
Dulu, Ki Hajar Dewantara mendirikan Taman Siswa karena ketika itu dia tahu kalau setiap orang bisa belajar dimanapun, baik di lapangan, bawah pohon, atau alam terbuka lainnya. Lalu eropa datang dengan school, bagaimana bisa kita berpandangan luas kalau tempat belajar yang kita memiliki jarak pandang yang sempit.
Berikut kesalahan sistem pendidikan di Indonesia :
1. Terlalu banyak jam pelajaran. Hal ini dapat mengurangi tingkat kemandirian dan kekritisan cara berpikir siswa.
2. Siswa dipaksakan menghapal dan bukan memahami, karena sistem pendidikan di Indonesia tidak bisa membuat siswa minat pada pelajaran
3. Wadah untuk minat siswa sangat kurang.
4. Fasilitas yang didapatkan para pengajar maupun pelajar di negeri ini masih sangat kurang.
5. Membuat generasi yang terlalu patuh, karena bila ada generasi yang terlalu patuh maka mereka tidak berani protes ketika ada kesalahan dan bila itu terjadi maka tidak akan ada perubahan. Jangankan protes, ngomong hal yang berbeda di sekolah saja tidak berani karena di sekolah beda=salah=nakal=bodoh. Dan akhirnya mencetak generasi yang menghindari konflik.
Lalu bagaimana dengan UN? UN senenarnya memiliki maksud baik, namun kini UN malah terkesan mengerikan dan lebih banyak hal negatifnya. Mengapa UN mengerikan dan kurang berdampak positif?
1. Banyak orang biilang “Jangan membuat UN adalah segalanya.”, tapi nyatanya UN adalah segalanya. UN untuk mengukur keberhasilan siswa, menentukan siswa ke jenjang berikutnya, keberhasilan sekolah, keberhasilan guru, dsb. Dan yang membuat UN segalanya adalah Kemendikbud sendiri.
2. Ketika UN selalu ada istigosah bersama atau doa semacamnya. Hal ini terkesan sangat aneh, Karena seakan-akan UN mengandung unsur mistis dan hoki. Bukannya kami tidak mengakui pengaruh doa, tapi kenapa hanya UN saja yang “punya” istigosah? Kenapa ketika kita akan Ulangan Akhir Semester (UAS) atau Ulangan Harian (UH) tidak ada acara semacam istigosah gitu? Apa karena UAS dan UH tidaklah penting sehingga doa tidak lagi diperlukan?
3. UN seperti deskriminasi mata pelajaran. Mata pelajaran yang tidak di-UNkan terkesan tidak dihiraukan. Katakanlah mata pelajaran seni budaya, siswa akan lebih memilih belajar biologi daripada seni budaya, kenapa? Karena biologi adalah pelajaran UN sedangkan seni budaya adalah pelajaran non-UN. Lalu bagaimana dengan anak yang memiliki minat dan bakat pada pelajaran seni budaya? Mau atau tidak, dia harus memprioritaskan pelajaran biologi dan menomerduakan minat dan bakatnya.
4. UN sangat tidak efektif karena tidak diikuti dengan pemerataan pendidikan di pedesaan dan pelosok nusantara, terutama di Indonesia bagian timur.
Albert Einstein pernah berkata, “Seekor ikan akan terlihat bodoh jika disuruh memanjat pohon”. Mungkin itu ungkapan yang cocok untuk pendidikan Indonesia saat ini, dimana ketika pendidikan di tiap daerah tidaklah sama tetapi indikator kelulusannya (dipaksakan) sama. Oleh karena itu kami menuntut “Tolong Ubah Sistem Pendidikan di Negeri Ini dan Hapuskan Sistem UN”

Masalahnya
Sistem pendidikan di Indonesia saat ini dirasa cukup gila. Apalagi setelah kemunculan kurikulum 2013 dimana untuk jenjang SMA, UN dilaksanakan ketika kelas 2 dan 3 SMA. Serta, sistem pendidikan di Indonesia (SD-SMA/K) dirasa sangat menekan siswa. Siswa terlalu lama berada di dalam ruangan tertutup (sekolah). Rata-rata saat ini siswa pulang sekolah pada sore hari (7jam di sekolah), belum lagi banyak tugas yang harus dikerjakan. Dirasa di Indonesia terlalu banyak jam pelajaran. Jika dibandingkan di Finlandia, tempat yang memiliki sistem pendidikan terbaik di dunia namun jam pelajaran disana juga paling sedikit di dunia. Hal itu karena siswa diberi sedikit pelajaran di sekolah, lalu siswa akan mengembangkan ilmunya sendiri di kehidupannya. Tentunya itu dapat membuat siswa lebih mandiri. Kami tidak menuntut agar kita seperti Finlandia, tapi kami ingin agar para petinggi di bidang pendidikan membuat reformasi pendidikan yaitu membuat sistem yang tepat berdasarkan pengamatan.
Terlalu lama di sekolah juga menyita waktu bermain anak. Dan bila waktu bermain anak tersita, maka sangat merugikan untuk psikologis anak. Ketika masa kecil tidak pernah main petak umpet, ketika dewasa ngumpetin duit orang lain (korupsi). Terlebih saat ini banyak orang berani membayar mahal untuk permainan, siapa bilang Lionel Messi tidak main bola? Dia sebenarnya bermain bola, hanya saja banyak orang mau membayar mahal untuk permainannya (sponsor). Bukan berarti kami disini enggan dengan pendidikan, tapi ketika masa anak-anak waktu bermain bisa menjadi pembelajaran tersendiri untuk mereka.
Dulu, Ki Hajar Dewantara mendirikan Taman Siswa karena ketika itu dia tahu kalau setiap orang bisa belajar dimanapun, baik di lapangan, bawah pohon, atau alam terbuka lainnya. Lalu eropa datang dengan school, bagaimana bisa kita berpandangan luas kalau tempat belajar yang kita memiliki jarak pandang yang sempit.
Berikut kesalahan sistem pendidikan di Indonesia :
1. Terlalu banyak jam pelajaran. Hal ini dapat mengurangi tingkat kemandirian dan kekritisan cara berpikir siswa.
2. Siswa dipaksakan menghapal dan bukan memahami, karena sistem pendidikan di Indonesia tidak bisa membuat siswa minat pada pelajaran
3. Wadah untuk minat siswa sangat kurang.
4. Fasilitas yang didapatkan para pengajar maupun pelajar di negeri ini masih sangat kurang.
5. Membuat generasi yang terlalu patuh, karena bila ada generasi yang terlalu patuh maka mereka tidak berani protes ketika ada kesalahan dan bila itu terjadi maka tidak akan ada perubahan. Jangankan protes, ngomong hal yang berbeda di sekolah saja tidak berani karena di sekolah beda=salah=nakal=bodoh. Dan akhirnya mencetak generasi yang menghindari konflik.
Lalu bagaimana dengan UN? UN senenarnya memiliki maksud baik, namun kini UN malah terkesan mengerikan dan lebih banyak hal negatifnya. Mengapa UN mengerikan dan kurang berdampak positif?
1. Banyak orang biilang “Jangan membuat UN adalah segalanya.”, tapi nyatanya UN adalah segalanya. UN untuk mengukur keberhasilan siswa, menentukan siswa ke jenjang berikutnya, keberhasilan sekolah, keberhasilan guru, dsb. Dan yang membuat UN segalanya adalah Kemendikbud sendiri.
2. Ketika UN selalu ada istigosah bersama atau doa semacamnya. Hal ini terkesan sangat aneh, Karena seakan-akan UN mengandung unsur mistis dan hoki. Bukannya kami tidak mengakui pengaruh doa, tapi kenapa hanya UN saja yang “punya” istigosah? Kenapa ketika kita akan Ulangan Akhir Semester (UAS) atau Ulangan Harian (UH) tidak ada acara semacam istigosah gitu? Apa karena UAS dan UH tidaklah penting sehingga doa tidak lagi diperlukan?
3. UN seperti deskriminasi mata pelajaran. Mata pelajaran yang tidak di-UNkan terkesan tidak dihiraukan. Katakanlah mata pelajaran seni budaya, siswa akan lebih memilih belajar biologi daripada seni budaya, kenapa? Karena biologi adalah pelajaran UN sedangkan seni budaya adalah pelajaran non-UN. Lalu bagaimana dengan anak yang memiliki minat dan bakat pada pelajaran seni budaya? Mau atau tidak, dia harus memprioritaskan pelajaran biologi dan menomerduakan minat dan bakatnya.
4. UN sangat tidak efektif karena tidak diikuti dengan pemerataan pendidikan di pedesaan dan pelosok nusantara, terutama di Indonesia bagian timur.
Albert Einstein pernah berkata, “Seekor ikan akan terlihat bodoh jika disuruh memanjat pohon”. Mungkin itu ungkapan yang cocok untuk pendidikan Indonesia saat ini, dimana ketika pendidikan di tiap daerah tidaklah sama tetapi indikator kelulusannya (dipaksakan) sama. Oleh karena itu kami menuntut “Tolong Ubah Sistem Pendidikan di Negeri Ini dan Hapuskan Sistem UN”

Petisi ditutup
Sebarkan petisi ini
Pengambil Keputusan
Perkembangan Terakhir Petisi
Bagikan petisi ini
Petisi dibuat pada 26 Mei 2014