Petisi ditutup
Mempetisi individu & kelompok

Tolak Teroris ISIS di Indonesia! Untuk Presiden, Kepala Daerah, TNI, POLRI, Ulama-Ulama, Mohon Tindak Tegas Teroris ISIS, Jangan Tunggu Indonesia Berdarah-darah Seperti Irak dan Suriah

Menyoal Sikap Pemerintah: Mengapa Kelompok Pro-Teroris Dibiarkan Saja?

Menguasai seluruh  wilayah Timur Tengah hingga Afrika bagian utara – dan memanjang hingga ke Asia Tenggara, adalah mimpi besar dari jihadis yang menamakan dirinya  Islamic State of Irak and Sham atau ISIS. Ciri khasnya: rata-rata berjenggot lebat, bercelana  gantung, dan menutup wajahnya rapat-rapat. Mereka siap membasmi siapa saja – yang dianggapnya sebagai musuh. Musuhnya bisa siapa saja. Mulai dari tentara, pemerintah, ulama, penduduk sipil, dengan alasan apa saja, seperti menegakkan tauhid dan membela agama Allah.

Dan perlahan tetapi pasti, jaringan ISIS menyebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia.

Pertikaian Jihadis, ISIS vs Al-Nusra

Di Timur Tengah, perlahan angin jihad berubah ketika kelompok ISIS, terjun ke dalam perang Suriah. Awalnya, kedatangannya disambut gembira karena memberikan “tambahan tenaga” bagi kelompok anti-Assad. Namun perlahan, lantaran ketidak sepahaman ideologi dan nafsu untuk berkuasa semakin besar, mereka pun berpecah. ISIS menjadi musuh Al-Nusra dan FSA.

Perpecahan di Suriah, juga berimbas dengan perpecahan media-media jihad di Indonesia. Arrahmah, masih setia pada Al-Qaeda dan affiliasinya. Sedangkan Voa-Islam, Shotussalam, Kiblatnet, mereka setia kepada ISIS.

Lalu pada awal tahun, Indonesia dikejutkan dengan penggerebekan terhadap ‘terduga’ teroris di Ciputat pada malam Tahun Baru oleh Densus 88 yang mengakibatkan kematian enam orang. Diantara yang tewas, ternyata terungkap bahwa ia tengah bersiap berangkat ke Suriah untuk berjihad. Dari hasil investigasi dari pihak kepolisian, terduga teroris ini juga telah melakukan perampokan pada salah satu bank, dan menganggap perampokan bukan suatu kejahatan karena harta dari “pemerintah yang thagut” hukumnya halal (bagi mereka, tentu saja). Dan setelah digeledah, teroris ini juga ternyata menyimpan dalam jumlah besar buku “merah” terbitan MUI yang masif disebarkan oleh kelompok-kelompok Takfiri untuk menyebarkan kebencian kepada Muslim Syiah.

Baiat Kepada ISIS dari Indonesia

Dari pantauan Liputan Islam, baiat kepada ISIS ditunjukkan pertama kali pada bulan Februari 2014, yang merupakan imbas dari jatuhnya kota Fallujah di Irak ke tangan ISIS. Saat itu juga, ISIS mengumumkan Islamic Emirat (kepemimpinan Islam) pada bulan Januari 2014.

Seperti dilansir Shotussalam, bertempat di Jakarta, ratusan orang yang tergabung dalam Forum Aktifis Syariat Islam (FAKSI) menggelar multaqod da’awi mendukung Daulah Islamiyyah di Iraq dan Syam (ISIS) di masjid Fathullah Universitas Negeri Jakarta (UIN) pada Sabtu malam (08/02/14). Dengan semangat dan penuh euforia kemenangan mereka hadir dari ibu kota Jakarta dan sekitarnya untuk membacakan deklarasi dukungan kepada ISIS dan siap berbai’at kepada Amirul Mukminin ISIS, Syaikh Abu Bakar al-Baghadadi.  http://liputanislam.com/tabayun/jihad-palsu-suriah-mengancam-indonesia/

Sebulan kemudian,secara terbuka kelompok ini melakukan deklarasi baiat di Bundaran HI, Jakarta. Dalam acara yang bertajuk “Tabligh Akbar:Menyongsong Kehadiran Khilafah ‘Ala Minhajin Nubuwwah;  Support & Solidarity for ISIS”, kelompok ini melakukan baiat (janji setia) kepada Al-Baghdadi dan mendukung sepenuhnya “Sang Khalifah”. http://liputanislam.com/liputan/deklarasi-baiat-organisasi-teroris-transnasional/

Kehadiran Bendera ISIS di CFD Solo dan Aksi Peduli Palestina

Menjelang bulan puasa kemarin, tepatnya pada tanggal 15 Juni 2014, Car Free Day Solo digegerkan dengan kehadiran kelompok sekelompok orang dengan atribut bendera hitam ala ISIS, yang menganggu jalannya sebuah pentas musik, bertindak anarkis kepada pengunjung  dan menimbulkan keresahan warga. Mereka membubarkan acara, memukul, dan meludahi. Dari penuturan saksi mata yang berada di tempat tersebut, kelompok ini juga sempat mengadakan semacam acara baris-baris di sudut jalan. http://liputanislam.com/berita/bendera-hitam-al-qaeda-gegerkan-cfd-solo-ini-kronologis-kejadiannya/

Tak lama berselang, bendera hitam ISIS ini kembali berkibar. Kali ini, mereka hadir dalam acara solidaritas kepada Palestina di Bundaran HI, pada 11 Juli 2014. Kemunculan mereka, berbarengan dengan kehadiran anggota FPI. Tidak diketahui dengan jelas, apakah dalam aksi peduli Palestina ini mereka melakukan semacam intimidasi sebagaimana di CFD Solo – namun yang pasti: mereka benar-benar ada.

Atau singkatnya: cabang kelompok teroris, baik yang pro- ISIS maupun pro-Al-Qaeda, mereka sudah ada di Indonesia.

Lalu yang menjadi tanda tanya besar adalah: “Mengapa pemerintah terkesan membiarkan saja, dan tidak mengambil tindakan tegas?”

Padahal, Kepala BNPT Ansyaad Mbai mengatakan, ada sejumlah bukti menunjukkan indikasi ISIS melakukan perekrutan di Indonesia ataupun akan berangkat di Irak atau Suriah.

“Dari penangkapan-penangkapan akhir-akhir ini, sudah ada indikasi mereka itu sedang berusaha untuk berangkat ke sana. Mereka ini yang terkait dengan satu atau lebih dari satu aksi-aksi teroris yang terjadi di sini, ada daerah konflik, ada perang di situ. Itu bagi mereka kesempatan, peluang emas bagi mereka untuk melakukan jihad, sama saja JAT, JI, NII,” kata Ansyaad Mbai seperti dikutip dari Kompas, 12 Juli 2014.

Memangnya, apa yang dilakukan ISIS di Suriah dan Irak?

  1. 1. Mereka berusaha merebut wilayah dan menggulingkan pemerintahan yang sah.
  2. 2. Mereka berusaha menguasai tempat-tempat strategis seperti kilang minyak, untuk kemudian menjual ke negara yang bersedia membeli dengan harga murah.
  3. 3. Ketika menguasai kota, mereka merampok bank, menebar teror kepada rakyat sipil, memberlakukan aturan-aturan kaku yang menyulitkan penduduk.
  4. 4. Ketika menguasai kota, mereka merampok bank, menebar teror kepada rakyat sipil, memberlakukan aturan-aturan kaku yang menyulitkan penduduk.
  5. 5. Melakukan eksekusi dengan cara-cara yang sangat kejam dan bengis, dan mempertontonkannya ke seluruh dunia.
  6. 6. Menzalimi para perempuan, memaksa menikahi walaupun si perempuan tidak bersedia.
  7. 7. Merekrut anak-anak kecil dibawah umur untuk menjadi jihadis yang turut berperang.
  8. 8. Membongkar makam, meledakkan masjid, merobohkan gereja, merusakkan tempat-tempat bersejarah dengan alasan mencegah umat dari bahaya syirik.
  9. 9. Membunuh ulama-ulama hanif.
  10. 10. Tidak segan segan menghabisi lawan, kendati berasal dari “rahim” yang sama, sebagaimana yang terjadi di Suriah, terjadi pertikaian ISIS vs Al-Nusra, yang keduanya adalah turunan Al-Qaeda.
  11. 11. Karena teror yang mereka lakukan, ribuan jiwa melayang dan jutaan warga terpaksa harus mengungsi.

Dengan semua “prestasi” ISIS tersebut, Yordania mulai ketar ketir dan meminta kepada dunia internasional untuk membantunya. Arab Saudi, menurunkan puluhan ribu pasukannya untuk menjaga perbatasannya dengan Irak. Negara-negara Barat, sudah memberlakukan larangan pada warganya untuk bepergian ke Suriah dan Irak, bahkan di Perancis, seperti yang dilaporkan Rusia Today, warga negara yang kepergok berkomunikasi dengan jihadis di jejaring sosial pun segera diciduk dan diamankan, karena mereka memahami betul, betapa berbahayanya kelompok ini bagi keutuhan suatu negara.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia?

Tentunya kita masih ingat, saat Akhmad Sahal, seorang cendekiawan Nahdliyin yang menanyakan tanggapan Tifatul Sembiring terkait Boko Haram (cabang Al-Qaeda di Nigeria) — yang oleh Arrahmah disebut “mujahidin” – ternyata hanya ditanggapi dengan bercanda oleh Menkoinfo tersebut. Padahal, seluruh dunia mengutuk keras aksi teror yang dilakukan Boko Haram yang menebarkan teror serupa dengan Al-Qaeda di negara lainnya. Bahkan, kelompok ini juga menculik ratusan pelajar puteri.

Sampai hari ini, media-media penyeru jihad masih bebas bersuara. Mereka lantang mengajak berjihad dan menumpahkan darah – di negara-negara mayoritas Muslim. Mereka menghasut dan menebarkan kebencian, mereka menyebarkan propaganda dan fitnah, mereka anti perbedaan – dan sayangnya, mereka dibiarkan saja. Mereka ada di Indonesia, dan mereka anti NKRI, anti Pancasila, dan istimewanya, mereka juga dibiarkan tumbuh dan besar oleh pemerintah yang sangat mereka musuhi. Ironis.

Petisi ini dikirim ke:
  • individu & kelompok

    Majelis Taklim Al Mukhlisin Bjm telah mulai petisi ini dengan satu tanda tangan dan sekarang memiliki 30.050 pendukung. Mulai petisi hari ini untuk mengubah sesuatu yang kamu pedulikan.




    Hari ini: Majelis Taklim Al Mukhlisin Bjm mengandalkanmu

    Majelis Taklim Al Mukhlisin Bjm membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "Tolak Teroris ISIS di Indonesia! Jangan Tunggu Indonesia Berdarah-darah Seperti Irak dan Suriah.". Bergabunglah dengan Majelis Taklim Al Mukhlisin Bjm dan 30.049 pendukung lainnya hari ini.