

Tolak Penggabungan Wisuda dengan Kegiatan Lain di Universitas Ngudi Waluyo
Masalahnya

Mahasiswa Universitas Ngudi Waluyo sedang menghadapi keputusan kampus yang menetapkan pelaksanaan wisuda digabungkan dengan kegiatan lain di luar prosesi akademik. Kebijakan ini tidak hanya mengecewakan, tetapi juga mengurangi makna sakral momen kelulusan yang telah diperjuangkan selama bertahun-tahun. Bagi kami dan keluarga, ini adalah momen penuh kebanggaan yang seharusnya dihormati dan difokuskan sepenuhnya.
Wisuda bukan sekadar acara seremonial. Ini adalah puncak dari perjalanan akademik kami. Sebuah simbol atas kerja keras, begadang menyusun tugas akhir, melewati ujian berkali-kali, dan bertahan dalam tekanan akademik maupun finansial. Banyak dari kami berasal dari latar belakang keluarga sederhana. Bagi orang tua kami, melihat anaknya diwisuda secara layak adalah kebahagiaan dan kebanggaan yang tidak ternilai. Tidak sedikit yang harus menabung selama berbulan-bulan agar bisa datang langsung menyaksikan momen itu.
Jika kebijakan ini tetap diberlakukan, prosesi wisuda akan kehilangan esensinya sebagai simbol pencapaian akademik. Ini bukan hanya merugikan mahasiswa, tetapi juga berisiko menurunkan citra universitas di mata masyarakat. Wisuda yang dilakukan tanpa porsi yang layak berpotensi menimbulkan persepsi bahwa kampus kurang menghargai perjuangan mahasiswanya. Kami percaya bahwa Universitas Ngudi Waluyo semestinya menjadi institusi yang menjunjung tinggi nilai akademik dan penghargaan atas perjuangan mahasiswanya.
Lebih jauh lagi, terdapat informasi bahwa pelaksanaan wisuda akan dilakukan secara outdoor. Kami menilai hal ini tidak ideal, bahkan cenderung merugikan. Outdoor berarti sangat tergantung pada cuaca, yang bisa saja hujan, panas terik, atau berangin. Tidak hanya berdampak pada kenyamanan, tetapi juga bisa mengganggu jalannya acara. Padahal, wisuda akan dihadiri oleh banyak orang tua atau wali, termasuk mereka yang lanjut usia atau memiliki keterbatasan fisik. Mereka layak mendapatkan tempat yang teduh, nyaman, dan aman serta bukan terpaksa duduk di bawah terik matahari atau hujan dengan kondisi seadanya.
Kami tidak menolak pelaksanaan wisuda, justru kami sangat menghargainya. Tapi kami menolak cara pelaksanaan yang terkesan kurang memperhatikan nilai-nilai sakral dan kenyamanan para peserta. Kami menuntut agar wisuda diselenggarakan secara khusus, terpisah dari kegiatan lain, dan berlokasi indoor yang representatif dan layak. Kami juga mendesak agar kampus ke depan melibatkan mahasiswa dan wali dalam proses kebijakan yang berdampak langsung pada mereka.
Petisi ini bukan bentuk penentangan, melainkan bentuk cinta dan kepedulian terhadap almamater kami. Kami percaya Universitas Ngudi Waluyo dapat menjadi contoh kampus yang mengedepankan dialog, menghargai aspirasi mahasiswa, dan menjunjung tinggi kualitas penyelenggaraan acara akademik. Wisuda adalah momen yang hanya datang sekali. Biarkan itu menjadi kenangan yang manis, bukan momen yang disesali.
1
Masalahnya

Mahasiswa Universitas Ngudi Waluyo sedang menghadapi keputusan kampus yang menetapkan pelaksanaan wisuda digabungkan dengan kegiatan lain di luar prosesi akademik. Kebijakan ini tidak hanya mengecewakan, tetapi juga mengurangi makna sakral momen kelulusan yang telah diperjuangkan selama bertahun-tahun. Bagi kami dan keluarga, ini adalah momen penuh kebanggaan yang seharusnya dihormati dan difokuskan sepenuhnya.
Wisuda bukan sekadar acara seremonial. Ini adalah puncak dari perjalanan akademik kami. Sebuah simbol atas kerja keras, begadang menyusun tugas akhir, melewati ujian berkali-kali, dan bertahan dalam tekanan akademik maupun finansial. Banyak dari kami berasal dari latar belakang keluarga sederhana. Bagi orang tua kami, melihat anaknya diwisuda secara layak adalah kebahagiaan dan kebanggaan yang tidak ternilai. Tidak sedikit yang harus menabung selama berbulan-bulan agar bisa datang langsung menyaksikan momen itu.
Jika kebijakan ini tetap diberlakukan, prosesi wisuda akan kehilangan esensinya sebagai simbol pencapaian akademik. Ini bukan hanya merugikan mahasiswa, tetapi juga berisiko menurunkan citra universitas di mata masyarakat. Wisuda yang dilakukan tanpa porsi yang layak berpotensi menimbulkan persepsi bahwa kampus kurang menghargai perjuangan mahasiswanya. Kami percaya bahwa Universitas Ngudi Waluyo semestinya menjadi institusi yang menjunjung tinggi nilai akademik dan penghargaan atas perjuangan mahasiswanya.
Lebih jauh lagi, terdapat informasi bahwa pelaksanaan wisuda akan dilakukan secara outdoor. Kami menilai hal ini tidak ideal, bahkan cenderung merugikan. Outdoor berarti sangat tergantung pada cuaca, yang bisa saja hujan, panas terik, atau berangin. Tidak hanya berdampak pada kenyamanan, tetapi juga bisa mengganggu jalannya acara. Padahal, wisuda akan dihadiri oleh banyak orang tua atau wali, termasuk mereka yang lanjut usia atau memiliki keterbatasan fisik. Mereka layak mendapatkan tempat yang teduh, nyaman, dan aman serta bukan terpaksa duduk di bawah terik matahari atau hujan dengan kondisi seadanya.
Kami tidak menolak pelaksanaan wisuda, justru kami sangat menghargainya. Tapi kami menolak cara pelaksanaan yang terkesan kurang memperhatikan nilai-nilai sakral dan kenyamanan para peserta. Kami menuntut agar wisuda diselenggarakan secara khusus, terpisah dari kegiatan lain, dan berlokasi indoor yang representatif dan layak. Kami juga mendesak agar kampus ke depan melibatkan mahasiswa dan wali dalam proses kebijakan yang berdampak langsung pada mereka.
Petisi ini bukan bentuk penentangan, melainkan bentuk cinta dan kepedulian terhadap almamater kami. Kami percaya Universitas Ngudi Waluyo dapat menjadi contoh kampus yang mengedepankan dialog, menghargai aspirasi mahasiswa, dan menjunjung tinggi kualitas penyelenggaraan acara akademik. Wisuda adalah momen yang hanya datang sekali. Biarkan itu menjadi kenangan yang manis, bukan momen yang disesali.
Pengambil Keputusan
Perkembangan Terakhir Petisi
Bagikan petisi ini
Petisi dibuat pada 8 September 2025