Tolak Pembangunan Perusahaan Sawit di Wilayah Tamambaloh

Penandatangan terbaru:
Nurul Rosalina dan 19 lainnya baru saja menandatanganinya.

Masalahnya

Saya merupakan warga asli Tamambaloh, Embaloh Hulu, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Seperti yang kita ketahui, dampak dari berdirinya perusahaan sawit sangat besar dan seringkali mengakibatkan deforestasi. Hutan adalah paru-paru dunia, deforestasi skala besar dapat membawa dampak yang serius bagi perubahan iklim global. Juga, hutan adalah rumah bagi berbagai spesies flora dan fauna yang dapat terancam punah akibat deforestasi.

Menurut data Greenpeace, Indonesia memiliki tingkat deforestasi tertinggi di dunia dengan 1.3 juta hektar hutan hilang setahun. Resiko yang dihadapi bukan hanya merusak ekosistem lokal, tapi juga berdampak langsung terhadap kehidupan dan mata pencaharian masyarakat sekitar.

Kehadiran perusahaan kelapa sawit di berbagai wilayah Indonesia telah menimbulkan berbagai dampak negatif, terutama terhadap lingkungan hidup, hak-hak masyarakat adat, serta keseimbangan sosial dan ekonomi lokal. Di balik klaim pembangunan dan peningkatan ekonomi, praktik industri sawit sering kali menyisakan jejak kerusakan yang tak tergantikan.

 

Penolakan terhadap perusahaan sawit bukanlah bentuk anti-pembangunan, melainkan sikap kritis atas model pembangunan yang merampas ruang hidup masyarakat dan mengabaikan keberlanjutan lingkungan. Ekspansi sawit sering dilakukan tanpa partisipasi bermakna dari masyarakat, menimbulkan konflik agraria, merusak hutan lindung, mencemari sungai, serta mengancam keanekaragaman hayati.

Di banyak wilayah, lahan adat dan ruang kelola rakyat telah diubah menjadi perkebunan monokultur yang mengurangi ketahanan pangan lokal. Pola-pola ini memperlihatkan bahwa industri sawit lebih menguntungkan korporasi besar daripada masyarakat setempat.

Oleh karena itu, penolakan terhadap perusahaan sawit adalah upaya membela hak atas lingkungan yang sehat, tanah yang adil, dan masa depan yang lestari. Kami menyerukan kepada seluruh pemangku kepentingan untuk menghentikan ekspansi industri sawit yang merusak, serta mendorong pembangunan yang berbasis keadilan ekologis dan kearifan lokal.

Hutan di sekitar kami masih sangat alami — menjadi rumah bagi berbagai jenis satwa liar, sumber air bersih, udara segar, dan tempat kami menggantungkan hidup. Hutan ini bukan hanya sumber kehidupan secara fisik, tapi juga bagian dari identitas, budaya, dan sejarah kami sebagai masyarakat adat/lokal.

 

Rencana pembukaan perkebunan sawit di daerah kami akan mengubah bentang alam yang selama ini lestari menjadi lahan monokultur yang tandus, panas, dan rawan bencana. Pengalaman dari daerah lain membuktikan bahwa ekspansi sawit menyebabkan:

-Deforestasi besar-besaran,
-Hilangnya sumber air dan pencemaran sungai,
-Terpinggirkannya masyarakat adat/lokal dari tanah dan ruang hidupnya,
-Potensi konflik sosial dan kriminalisasi warga
-Ketergantungan ekonomi yang tidak berkelanjutan.
Kami tidak ingin kehancuran yang dialami Daerah lain terjadi di tempat kami. Kami tidak menolak pembangunan, tapi kami menolak pembangunan yang mengorbankan hutan, merusak lingkungan, dan mengabaikan suara rakyat.

 

Hutan kami adalah warisan untuk anak cucu. Menjaganya adalah tanggung jawab kami bersama.

 

Dan kami menolak dengan tegas kehadiran perusahaan sawit di Tanah Banuaka, dan menyerukan kepada pemerintah serta pihak-pihak terkait untuk membatalkan segala bentuk izin, survei, maupun pendekatan korporasi yang mengarah pada konversi hutan alam menjadi kebun sawit.

 

Hutan kami, hidup kami. Sawit bukan masa depan kami.

 

Oleh karena itu, kami memohon segenap masyarakat Embaloh Hulu dan pemerintah Daerah untuk turut mempertimbangkan serta bertindak dalam penolakan berdirinya perusahaan sawit di wilayah kami. Mari kita bersama menjaga hutan Indonesia dan keberlanjutan hidup kita, anak cucu kita di masa mendatang. Mohon dukungan Anda, tandatanganilah petisi ini sebagai bentuk penolakan Segala jenis Deforestasi di tanah kita termasuk oleh perusahaan Sawit.

avatar of the starter
Marsianus YogaPembuka Petisi

835

Penandatangan terbaru:
Nurul Rosalina dan 19 lainnya baru saja menandatanganinya.

Masalahnya

Saya merupakan warga asli Tamambaloh, Embaloh Hulu, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Seperti yang kita ketahui, dampak dari berdirinya perusahaan sawit sangat besar dan seringkali mengakibatkan deforestasi. Hutan adalah paru-paru dunia, deforestasi skala besar dapat membawa dampak yang serius bagi perubahan iklim global. Juga, hutan adalah rumah bagi berbagai spesies flora dan fauna yang dapat terancam punah akibat deforestasi.

Menurut data Greenpeace, Indonesia memiliki tingkat deforestasi tertinggi di dunia dengan 1.3 juta hektar hutan hilang setahun. Resiko yang dihadapi bukan hanya merusak ekosistem lokal, tapi juga berdampak langsung terhadap kehidupan dan mata pencaharian masyarakat sekitar.

Kehadiran perusahaan kelapa sawit di berbagai wilayah Indonesia telah menimbulkan berbagai dampak negatif, terutama terhadap lingkungan hidup, hak-hak masyarakat adat, serta keseimbangan sosial dan ekonomi lokal. Di balik klaim pembangunan dan peningkatan ekonomi, praktik industri sawit sering kali menyisakan jejak kerusakan yang tak tergantikan.

 

Penolakan terhadap perusahaan sawit bukanlah bentuk anti-pembangunan, melainkan sikap kritis atas model pembangunan yang merampas ruang hidup masyarakat dan mengabaikan keberlanjutan lingkungan. Ekspansi sawit sering dilakukan tanpa partisipasi bermakna dari masyarakat, menimbulkan konflik agraria, merusak hutan lindung, mencemari sungai, serta mengancam keanekaragaman hayati.

Di banyak wilayah, lahan adat dan ruang kelola rakyat telah diubah menjadi perkebunan monokultur yang mengurangi ketahanan pangan lokal. Pola-pola ini memperlihatkan bahwa industri sawit lebih menguntungkan korporasi besar daripada masyarakat setempat.

Oleh karena itu, penolakan terhadap perusahaan sawit adalah upaya membela hak atas lingkungan yang sehat, tanah yang adil, dan masa depan yang lestari. Kami menyerukan kepada seluruh pemangku kepentingan untuk menghentikan ekspansi industri sawit yang merusak, serta mendorong pembangunan yang berbasis keadilan ekologis dan kearifan lokal.

Hutan di sekitar kami masih sangat alami — menjadi rumah bagi berbagai jenis satwa liar, sumber air bersih, udara segar, dan tempat kami menggantungkan hidup. Hutan ini bukan hanya sumber kehidupan secara fisik, tapi juga bagian dari identitas, budaya, dan sejarah kami sebagai masyarakat adat/lokal.

 

Rencana pembukaan perkebunan sawit di daerah kami akan mengubah bentang alam yang selama ini lestari menjadi lahan monokultur yang tandus, panas, dan rawan bencana. Pengalaman dari daerah lain membuktikan bahwa ekspansi sawit menyebabkan:

-Deforestasi besar-besaran,
-Hilangnya sumber air dan pencemaran sungai,
-Terpinggirkannya masyarakat adat/lokal dari tanah dan ruang hidupnya,
-Potensi konflik sosial dan kriminalisasi warga
-Ketergantungan ekonomi yang tidak berkelanjutan.
Kami tidak ingin kehancuran yang dialami Daerah lain terjadi di tempat kami. Kami tidak menolak pembangunan, tapi kami menolak pembangunan yang mengorbankan hutan, merusak lingkungan, dan mengabaikan suara rakyat.

 

Hutan kami adalah warisan untuk anak cucu. Menjaganya adalah tanggung jawab kami bersama.

 

Dan kami menolak dengan tegas kehadiran perusahaan sawit di Tanah Banuaka, dan menyerukan kepada pemerintah serta pihak-pihak terkait untuk membatalkan segala bentuk izin, survei, maupun pendekatan korporasi yang mengarah pada konversi hutan alam menjadi kebun sawit.

 

Hutan kami, hidup kami. Sawit bukan masa depan kami.

 

Oleh karena itu, kami memohon segenap masyarakat Embaloh Hulu dan pemerintah Daerah untuk turut mempertimbangkan serta bertindak dalam penolakan berdirinya perusahaan sawit di wilayah kami. Mari kita bersama menjaga hutan Indonesia dan keberlanjutan hidup kita, anak cucu kita di masa mendatang. Mohon dukungan Anda, tandatanganilah petisi ini sebagai bentuk penolakan Segala jenis Deforestasi di tanah kita termasuk oleh perusahaan Sawit.

avatar of the starter
Marsianus YogaPembuka Petisi

Perkembangan Terakhir Petisi