TOLAK MODIFIKASI BUS TRANSJAKARTA T11-T12 MENJADI UNIT METROTRANS!

TOLAK MODIFIKASI BUS TRANSJAKARTA T11-T12 MENJADI UNIT METROTRANS!

Masalahnya

Salam pejuang nafkah!

 

 

 

 

 

Penyesuaian Rute T11-12

 

Tepat di awal bulan Ramadhan ini, kita semua dikejutkan dengan sebuah berita yang SANGAT TIDAK MENGENAKKAN, khususnya bagi warga Tangerang yang setiap harinya bergantung pada bus Transjakarta rute T11 (Terminal Poris Plawad - Slipi Petamburan via Karawaci) dan T12 (Terminal Poris Plawad - Juanda via Kebon Nanas dan Tomang Mandala) yang rencananya akan dilakukan pergantian bus dari yang sebelumnya unit spek BRT DMR Hino RK8 menjadi unit low entry bus (selanjutnya akan penulis sebut dengan LODEK) terhitung mulai hari Sabtu, 6 April 2024.

Jika Transjakarta di kemudian hari tetap memaksakan perubahan pola operasional ini, akan banyak kekurangan bahkan membuat rute ini kehilangan penumpang setianya dikarenakan beberapa hal yang akan penulis sebutkan di sini :

1. KATANYA #INTEGRASI, TAPI KOK BAYAR LAGI?

Inilah poin pertama yang patut dikritisi. Pergantian jenis bus menjadi LODEK membuat penumpang yang biasa menggunakan rute ini tidak bisa mengakses layanan BRT Transjakarta secara langsung, dikarenakan semua penumpang harus "bayar dua kali" jika ingin berpindah layanan. Memang sih selama ini ada kartu Jak Lingko dimana setiap penumpang bisa berpindah layanan Transjakarta hanya cukup membayar Rp5000 saja per 3 jam dihitung dari jam tap in. Tapi apakah semua penumpang punya kartu itu? Kami rasa tidak. Semua penumpang dipaksa untuk mengeluarkan ongkos lebih tinggi dari biasanya. Okelah jika semisal yang naik adalah kaum berduit. Tapi bagaimana  dengan kaum gaji mentok UMK, atau pegawai harian lepas? Penulis rasa semuanya pasti keberatan.

2. "MENENDANG" SEMUA PENUMPANG SETIANYA KE BUS STOP YANG JAUH DARI KATA LAYAK

 

Antrian pnp T11

 

 

 

Jika layanan T11 berubah menggunakan LODEK, maka semua penumpang setianya diharuskan untuk keluar dari halte Slipi Petamburan hanya untuk berganti bus di bus stop/halte pinggir jalan yang sangat jauh dari kata layak. Bisa dipastikan, kepadatan penumpang tidak akan tertampung oleh "tenda biru" Transjakarta yang ada di seberang halte Slipi Petamburan, tepatnya di Jl S Parman. Pasalnya halte Slipi Petamburan selama ini juga sudah penuh sesak dengan antrian penumpang T11 yang sudah mengular hingga dibelokkan ke depan toilet. Jika semua penumpang dipindahkan kesana, tidak terbayangkan bagaimana para penumpang yang kepanasan atau bahkan kehujanan disaat menunggu kedatangan bus. Hal yang sama juga berlaku di rute T12 di halte Juanda, yang mungkin masih dianggap "ah cuma bawa angin doang", sehingga tidak perlu bus stop atau halte pinggir jalan yang layak. Sepanjang jalan Suryopranoto hingga Tomang Raya, penulis tidak menemukan sama sekali adanya halte bus pinggir jalan yang dapat mengakomodir penumpang untuk menunggu bus dengan nyaman. Semuanya hanya plang bus stop saja.

 

3. "PENGUSIRAN" PENUMPANG KE BUS STOP PINGGIR JALAN HANYA AKAN MENAMBAH MASALAH BARU

Selain itu juga pemindahan ini akan menimbulkan kemacetan lalu lintas yang sangat panjang, hanya karena jalanan dan trotoar dipenuhi penumpang yang mengular untuk menunggu bus di trotoar, apalagi ini dari titik penaikan awal yang berada di Jl. S. Parman yang sudah terkenal dengan kesemrawutan macet lalu lintasnya. Jadwal kedatangan bus yang tidak pasti, ditambah antrian penumpang yang setiap menit selalu mengular sangat mengganggu lalu lalang pejalan kaki ataupun kendaraan di sekitarnya. Jika dari titik penaikan awal saja sudah penuh dan memperparah kemacetan, bagaimana dengan penumpang yang menunggu di perhentian selanjutnya dengan jumlah yang sama? Seperti di Jl Tomang Raya yang juga terkenal macet parah pada hari kerja.

Pergantian unit LODEK juga hanya menambah masalah baru dimana unit ini SANGAT TIDAK COCOK bagi penumpang yang sedang mengejar waktu. Dengan berpindahnya titik pemberhentian full di pinggir jalan, bisa dipastikan bus akan terjebak djtengah kemacetan parah yang membuat layanan ini sangat tidak efektif dan tidak dapat diandalkan.

4. TIPE BUS YANG DIGUNAKAN (LAGI-LAGI) TAK SEBANDING DENGAN JUMLAH PENUMPANG HARIAN, UNIT LODEK PUN JUGA DIANGGAP TIDAK EFEKTIF

Selama ini, layanan T11-T12 menggunakan bus pintu tunggal DMR pun yang mana kapasitasnya masih dianggap tidak sebanding dengan jumlah penumpang harian. Banyak yang mengusulkan jika T11 harus diganti pakai bus gandeng atau bus berpintu ganda, tetapi sayangnya terbentur regulasi bahwa bus gandeng atau berpintu ganda hanya bisa digunakan pada layanan BRT atau NBRT yang tidak keluar dari provinsi DKI Jakarta. Kenapa kami berani mengusulkan itu? Karena penulis sendiri pernah mendapati rute perbatasan 7C (BKN-Cibubur) 

 

 

menggunakan bus gandeng.

Meskipun kapasitas bus pintu tunggal DMR ini terbatas, tapi bus ini memiliki kelebihan yaitu bisa memuat penumpang lebih banyak dan bisa melaju lebih cepat saat melintas di jalan tol (hingga 80 km/jam), karena bus ini tidak memiliki pembatas kecepatan atau limiter. Penulis juga pernah merasakan sendiri, jika lalu lintas lengang, perjalanan dari Slipi hingga Karawaci cukup memakan waktu setengah jam saja! Bayangkan jika unit DMR ini harus diganti dengan unit LODEK, yang sepengamatan kami hanya bisa membawa sedikit penumpang berdiri, sehingga kapasitas penumpang yang ditampung jauh berkurang. Selain itu juga, unit LODEK kecepatan operasionalnya hanya dibatasi sampai 50 km/jam saja, sehingga hanya menjadi "keong" di jalan tol yang akan memperparah kemacetan lalu lintas di tol Jakarta-Merak segmen Jakarta-Tangerang (Janger) yang benar-benar sudah sangat parah dalam hal kemacetan pada hari kerja.

 

Interior bus DMR highdeck yang selama ini menjadi armada T11-12

 

Interior low entry bus (LODEK) yang rencananya akan digunakan T11-12

 

 

 

 

KESIMPULAN

Mengapa kami menolak perubahan ini? Selama ini kami menilai pelayanan T11-T12 sendiri belum terlalu memuaskan penumpang, tapi sayangnya penumpang tak punya pilihan lain untuk sampai ke Jakarta dengan cepat dan murah. Jangan lupakan juga kasus saldo terpotong dua kali yang kadang masih terjadi di mesin TOB armada NBRT atau bahkan di halte BRT sekalipun, dimana masih banyak saldo terpotong ganda yang tak dikembalikan. Penulis sendiri masih mengalami masalah serupa yang selalu berulang, bahkan setiap kali penulis naik dari halte Sumur Bor (koridor 3) sepulang kerja, kartu uang elektronik penulis selalu menampilkan "TAP IN" di mesin TOB kuning, sehingga mengalami kendala reset kartu pada hari berikutnya. Hal yang sama terjadi jika penulis melakukan tap kartu di mesin TOB hitam jumbo, yang langsung memotong saldo saat tap in. Meski secara mekanisme penumpang sudah tap out, tapi kartu uang elektronik akan kembali bermasalah dan minta reset saat tap in di perangkat TOB atau halte BRT yang berbeda.

 

Akhir kata, kami menilai masih ada waktu untuk menyelamatkan layanan T11-12 dari keterpurukan. Dibutuhkan keseriusan dari operator dan pemangku kebijakan untuk memperbaiki layanan ini supaya bisa dinikmati dengan mudah. Semoga pihak Transjakarta terketuk pintu hatinya untuk mendengar suara hati kami, pejuang nafkah dari Tangerang.

 

 

avatar of the starter
Muhamad Gabriel MioloPembuka Petisi
Petisi ini mencapai 196 pendukung

Masalahnya

Salam pejuang nafkah!

 

 

 

 

 

Penyesuaian Rute T11-12

 

Tepat di awal bulan Ramadhan ini, kita semua dikejutkan dengan sebuah berita yang SANGAT TIDAK MENGENAKKAN, khususnya bagi warga Tangerang yang setiap harinya bergantung pada bus Transjakarta rute T11 (Terminal Poris Plawad - Slipi Petamburan via Karawaci) dan T12 (Terminal Poris Plawad - Juanda via Kebon Nanas dan Tomang Mandala) yang rencananya akan dilakukan pergantian bus dari yang sebelumnya unit spek BRT DMR Hino RK8 menjadi unit low entry bus (selanjutnya akan penulis sebut dengan LODEK) terhitung mulai hari Sabtu, 6 April 2024.

Jika Transjakarta di kemudian hari tetap memaksakan perubahan pola operasional ini, akan banyak kekurangan bahkan membuat rute ini kehilangan penumpang setianya dikarenakan beberapa hal yang akan penulis sebutkan di sini :

1. KATANYA #INTEGRASI, TAPI KOK BAYAR LAGI?

Inilah poin pertama yang patut dikritisi. Pergantian jenis bus menjadi LODEK membuat penumpang yang biasa menggunakan rute ini tidak bisa mengakses layanan BRT Transjakarta secara langsung, dikarenakan semua penumpang harus "bayar dua kali" jika ingin berpindah layanan. Memang sih selama ini ada kartu Jak Lingko dimana setiap penumpang bisa berpindah layanan Transjakarta hanya cukup membayar Rp5000 saja per 3 jam dihitung dari jam tap in. Tapi apakah semua penumpang punya kartu itu? Kami rasa tidak. Semua penumpang dipaksa untuk mengeluarkan ongkos lebih tinggi dari biasanya. Okelah jika semisal yang naik adalah kaum berduit. Tapi bagaimana  dengan kaum gaji mentok UMK, atau pegawai harian lepas? Penulis rasa semuanya pasti keberatan.

2. "MENENDANG" SEMUA PENUMPANG SETIANYA KE BUS STOP YANG JAUH DARI KATA LAYAK

 

Antrian pnp T11

 

 

 

Jika layanan T11 berubah menggunakan LODEK, maka semua penumpang setianya diharuskan untuk keluar dari halte Slipi Petamburan hanya untuk berganti bus di bus stop/halte pinggir jalan yang sangat jauh dari kata layak. Bisa dipastikan, kepadatan penumpang tidak akan tertampung oleh "tenda biru" Transjakarta yang ada di seberang halte Slipi Petamburan, tepatnya di Jl S Parman. Pasalnya halte Slipi Petamburan selama ini juga sudah penuh sesak dengan antrian penumpang T11 yang sudah mengular hingga dibelokkan ke depan toilet. Jika semua penumpang dipindahkan kesana, tidak terbayangkan bagaimana para penumpang yang kepanasan atau bahkan kehujanan disaat menunggu kedatangan bus. Hal yang sama juga berlaku di rute T12 di halte Juanda, yang mungkin masih dianggap "ah cuma bawa angin doang", sehingga tidak perlu bus stop atau halte pinggir jalan yang layak. Sepanjang jalan Suryopranoto hingga Tomang Raya, penulis tidak menemukan sama sekali adanya halte bus pinggir jalan yang dapat mengakomodir penumpang untuk menunggu bus dengan nyaman. Semuanya hanya plang bus stop saja.

 

3. "PENGUSIRAN" PENUMPANG KE BUS STOP PINGGIR JALAN HANYA AKAN MENAMBAH MASALAH BARU

Selain itu juga pemindahan ini akan menimbulkan kemacetan lalu lintas yang sangat panjang, hanya karena jalanan dan trotoar dipenuhi penumpang yang mengular untuk menunggu bus di trotoar, apalagi ini dari titik penaikan awal yang berada di Jl. S. Parman yang sudah terkenal dengan kesemrawutan macet lalu lintasnya. Jadwal kedatangan bus yang tidak pasti, ditambah antrian penumpang yang setiap menit selalu mengular sangat mengganggu lalu lalang pejalan kaki ataupun kendaraan di sekitarnya. Jika dari titik penaikan awal saja sudah penuh dan memperparah kemacetan, bagaimana dengan penumpang yang menunggu di perhentian selanjutnya dengan jumlah yang sama? Seperti di Jl Tomang Raya yang juga terkenal macet parah pada hari kerja.

Pergantian unit LODEK juga hanya menambah masalah baru dimana unit ini SANGAT TIDAK COCOK bagi penumpang yang sedang mengejar waktu. Dengan berpindahnya titik pemberhentian full di pinggir jalan, bisa dipastikan bus akan terjebak djtengah kemacetan parah yang membuat layanan ini sangat tidak efektif dan tidak dapat diandalkan.

4. TIPE BUS YANG DIGUNAKAN (LAGI-LAGI) TAK SEBANDING DENGAN JUMLAH PENUMPANG HARIAN, UNIT LODEK PUN JUGA DIANGGAP TIDAK EFEKTIF

Selama ini, layanan T11-T12 menggunakan bus pintu tunggal DMR pun yang mana kapasitasnya masih dianggap tidak sebanding dengan jumlah penumpang harian. Banyak yang mengusulkan jika T11 harus diganti pakai bus gandeng atau bus berpintu ganda, tetapi sayangnya terbentur regulasi bahwa bus gandeng atau berpintu ganda hanya bisa digunakan pada layanan BRT atau NBRT yang tidak keluar dari provinsi DKI Jakarta. Kenapa kami berani mengusulkan itu? Karena penulis sendiri pernah mendapati rute perbatasan 7C (BKN-Cibubur) 

 

 

menggunakan bus gandeng.

Meskipun kapasitas bus pintu tunggal DMR ini terbatas, tapi bus ini memiliki kelebihan yaitu bisa memuat penumpang lebih banyak dan bisa melaju lebih cepat saat melintas di jalan tol (hingga 80 km/jam), karena bus ini tidak memiliki pembatas kecepatan atau limiter. Penulis juga pernah merasakan sendiri, jika lalu lintas lengang, perjalanan dari Slipi hingga Karawaci cukup memakan waktu setengah jam saja! Bayangkan jika unit DMR ini harus diganti dengan unit LODEK, yang sepengamatan kami hanya bisa membawa sedikit penumpang berdiri, sehingga kapasitas penumpang yang ditampung jauh berkurang. Selain itu juga, unit LODEK kecepatan operasionalnya hanya dibatasi sampai 50 km/jam saja, sehingga hanya menjadi "keong" di jalan tol yang akan memperparah kemacetan lalu lintas di tol Jakarta-Merak segmen Jakarta-Tangerang (Janger) yang benar-benar sudah sangat parah dalam hal kemacetan pada hari kerja.

 

Interior bus DMR highdeck yang selama ini menjadi armada T11-12

 

Interior low entry bus (LODEK) yang rencananya akan digunakan T11-12

 

 

 

 

KESIMPULAN

Mengapa kami menolak perubahan ini? Selama ini kami menilai pelayanan T11-T12 sendiri belum terlalu memuaskan penumpang, tapi sayangnya penumpang tak punya pilihan lain untuk sampai ke Jakarta dengan cepat dan murah. Jangan lupakan juga kasus saldo terpotong dua kali yang kadang masih terjadi di mesin TOB armada NBRT atau bahkan di halte BRT sekalipun, dimana masih banyak saldo terpotong ganda yang tak dikembalikan. Penulis sendiri masih mengalami masalah serupa yang selalu berulang, bahkan setiap kali penulis naik dari halte Sumur Bor (koridor 3) sepulang kerja, kartu uang elektronik penulis selalu menampilkan "TAP IN" di mesin TOB kuning, sehingga mengalami kendala reset kartu pada hari berikutnya. Hal yang sama terjadi jika penulis melakukan tap kartu di mesin TOB hitam jumbo, yang langsung memotong saldo saat tap in. Meski secara mekanisme penumpang sudah tap out, tapi kartu uang elektronik akan kembali bermasalah dan minta reset saat tap in di perangkat TOB atau halte BRT yang berbeda.

 

Akhir kata, kami menilai masih ada waktu untuk menyelamatkan layanan T11-12 dari keterpurukan. Dibutuhkan keseriusan dari operator dan pemangku kebijakan untuk memperbaiki layanan ini supaya bisa dinikmati dengan mudah. Semoga pihak Transjakarta terketuk pintu hatinya untuk mendengar suara hati kami, pejuang nafkah dari Tangerang.

 

 

avatar of the starter
Muhamad Gabriel MioloPembuka Petisi

Pengambil Keputusan

Dishub Kota Tangerang
Dishub Kota Tangerang
BPTJ Kemenhub
BPTJ Kemenhub
Forum Diskusi Transportasi Jakarta
Forum Diskusi Transportasi Jakarta
PT Transportasi Jakarta (Transjakarta)
PT Transportasi Jakarta (Transjakarta)

Perkembangan Terakhir Petisi