Kampus Bentuk Tim Pencari Fakta, Tapi Gak Independen


Terima kasih ya, teman-teman. Berkat dukungan petisi dari berbagai pihak, kampus akhirnya bentuk tim pencari fakta dugaan kekerasan seksual di UIN IB Padang.
Tapi, setelah ditelaah, timnya gak independen dan anggota timnya hanya melibatkan pihak kampus. Padahal, terduga pelakunya dosen, apakah mereka bisa objektif dalam mencari fakta?
Seharusnya pihak eksternal yang ahli di bidang kekerasan seksual juga dilibatkan, agar proses investigasinya bisa lebih efektif dan berpihak pada korban. Gara-gara ini, ilumni kampus sampai bikin tim pencari fakta independen, teman-teman.
Dugaan kekerasan seksual ini bermula ketika Melati (nama samaran) memberanikan diri cerita ke kami soal dosen yang ngajak dia karaoke dan berenang. Gak hanya Melati, teman dekatnya juga diajak dosen itu. Mereka pun jadi merasa gak aman tiap kali dosen itu mengajar.
Kasusnya gak hanya itu, teman-teman. Tapi diduga ada dosen lain yang lecehkan mahasiswa. Tapi yang lain masih takut untuk bersuara. Soalnya di kampus UIN IB Padang belum ada aturan dan tata cara pelaporan pelecehan seksual.
Kami menghargai kampus sudah berupaya menjawab tuntutan kami lewat aksi damai depan kampus dan lewat petisi. Tapi yang dilakukan kampus belumlah cukup.
Karena itulah, bantu tandatangan dan sebar petisi ini ya teman-teman, agar kampus membentuk Satgas PPKS independen untuk mengusut kasus-kasus pelecehan di kampus. Sehingga korban bisa merasa lebih aman ketika melaporkan pelecehan seksual.
Jangan sampai aturan pencegahan pelecehan di kampus yang diterbitkan Kemendikbud dan Kemenag jadi sia-sia karena kampus yang gak mau merealisasikannya.
Salam,
Muhammad Jalali