STOP PEMBANGUNAN PROYEK PLTA BATANG TORU, #SAVETAPANULIORANGUTAN

0 telah menandatangani. Mari kita ke 15.000.


Pada November 2017, sepasang orangutan kembar ditemukan di hutan Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Orangutan tersebut diidentifikasi sebagai Orangutan Tapanuli (Pongo Tapanuliensis). Spesies yang pertama kali ditemukan pada tahun 1997 ini dinyatakan oleh para ilmuwan sebagai spesies baru, berbeda dengan orangutan Sumatra dan Kalimantan lainnya. Penampakan si kembar di hutan Batang Toru adalah tanda positif harapan bahwa kera besar langka ini masih berkembang biak di alam liar. Orangutan Tapanuli adalah yang paling langka dari semua spesies orangutan yang dikenal, dengan hanya sekitar 800 yang tersisa, dengan tingkat kematian 25 spesies per hari. Namun, tanda penuh harapan ini dipengaruhi oleh fakta bahwa Orangutan Tapanuli sekarang menghadapi ancaman eksistensial. Petisi ini menawarkan kesempatan bagi kita untuk membantu menyelamatkan spesies yang terancam punah ini dari kepunahan total.

Fakta situasi terkini dari habitat Orangutan dapat dilihat melalui link ini https://twitter.com/tictoc/status/1103235332143828993

Dengan ancaman eksistensial yang sudah dihadapi orangutan ini, datang berita tentang bendungan kontroversial dan proyek pembangkit listrik tenaga air yang akan dibangun di jantung habitat hutan mereka yang sudah retak. Proyek yang sedang dibangun oleh PT North Sumatra Hydro Energy (NSHE), bekerja sama dengan perusahaan energi raksasa yang berbasis di China, Sinohydro dan didanai oleh Bank of China, telah memicu protes keras dan tanpa henti dari para pakar lingkungan, organisasi satwa liar dan kelompok warga setempat. Kegagalan kita untuk bertindak sekarang dapat menjadi akhir dari makhluk langka ini.

Meningkatnya kritik terhadap pengembangan proyek PLTA Batang Toru tidak hanya karena kekhawatiran tentang orangutan semata. Selain ancaman kepunahan spesies langka ini, yang hanya dapat bertahan hidup di hutan Batang Toru, proyek bendungan senilai US $ 1,6 miliar juga telah ditempatkan untuk pembangunan di daerah yang rawan bencana alam yang berpotensi bencana. Kota ini terletak tidak hanya di 'zona merah' gempa bumi, tetapi juga di tengah-tengah daerah hilir sungai Batang Toru, dimana terdapat tingkat kerentanan banjir yang tinggi dan berkurangnya debit air untuk masyarakat tepi sungai.

Risiko potensial yang tidak sepadan dengan manfaat yang dihasilkan dari PLTA ini telah diketahui sejak awal. Namun, proyek ini berlanjut, tidak peduli dengan semua data dan pendapat para ahli dan ilmiah. Yang lebih membingungkan yakni fakta bahwa Tapanuli adalah rumah bagi Pembangkit Listirk Tenaga Bumi (PLTP) Sarulla, salah satu jenis pembangkit listrik terbesar di dunia, yang sangat dapat diperluas untuk memenuhi semua kebutuhan listrik penduduk Sumatera Utara tanpa menimbulkan bahaya ekologis pada hutan alam yang berdekatan.

Fakta bahwa Indonesia adalah satu-satunya negara di dunia yang memiliki habitat alami yang cukup untuk salah satu primata terbesar di dunia, harus menjadi sumber kebanggaan bagi bangsa. Sementara Australia memiliki kanguru yang ikonik, dan China memiliki panda-pandanya, orangutan telah lama menjadi simbol unik keanekaragaman hayati Indonesia yang luas dan satwa liar yang eksotis. Tidaklah cukup untuk menyatakan cinta kita kepada Indonesia, atau cinta kedaulatan nasional kita, jika cinta itu tidak disertai dengan cinta akan semua kekayaan alam kita, termasuk Orangutan Tapanuli di hutan Batang Toru.

Melalui aksi kecil ini, kita bisa mencegah orangutan Tapanuli hilang selamanya. Kelangsungan hidup mereka bukan hanya tanggung jawab rakyat Tapanuli, tetapi semua warga negara Indonesia dan bahkan semua manusia di muka bumi ini.

Bersama dengan Koalisi Perlindungan Orangutan Tapanuli yang terdiri dari Mighty Earth, Orangutan Information Center (OIC), Center of Orangutan Protection (COP) dan Program Sumatran Orangutan Conservation Program (SOCP) dan didukung oleh puluhan pengamat lingkungan dan lembaga, mari kita bantu lindungi Batang Toru. Mari bantu menyelamatkan habitat Orangutan Tapanuli. Mari Selamatkan warisan unik Indonesia.

Kami bersama orangutan! Kami untuk Indonesia!

#savetapanuliorangutan

---------------------------

STOP THE DAM PROJECT, #SAVETAPANULIORANGUTAN

In November of 2017, the Tapanuli Orangutans (PongoTapanuliensis) a species only first discovered in 1997 was declared by scientists to be a new species, differing substantially from the other existing Sumatran and Borneo orangutans. The sighting of Tapanuli twins, born in mid 2018 in the Batang Toru forest is a positive sign of hope that these rare great apes are still breeding in the wild.  The Tapanuli Orangutans are the rarest of any known orangutan species, with only around 800 remaining in existence. However, this hopeful sign is tempered by the fact that the Tapanuli Orangutans are now facing an existential threat. This petition initiative offers the opportunity for us to help save this endangered species from total extinction.

Please see the fact of recent situation in habitat of Tapanuli Orangutan through this link https://twitter.com/tictoc/status/1103235332143828993

Adding to the existential threat already facing these orangutans comes news of a controversial dam and hydroelectric power generation project to be built in the very heart of their already fractured forest habitat.  The project, being built by PT North Sumatra Hydro Energy (NSHE), in cooperation with giant China-based energy company, Sinohydro and funded by the Bank of China, has sparked vehement and relentless protests from environmental experts, wildlife organizations and local citizen groups. Our failure to act now could spell the end of these rare creatures.

The mounting criticism of the development of the Batang Toru hydroelectric dam project is not limited only to concerns about the orangutans.  Aside from the threat of extinction of this rare species, which can only survive in the Batang Toru forest, the US$ 1.6 billion dam project has also carelessly been located for construction in an area vulnerable to potentially catastrophic natural disasters. It is situated not only in an earthquake ‘red zone’, but also in the middle of the downstream area of the Batang Toru river, where there is a high level of flood vulnerability and reduced water discharge for the riverbank communities.

These potential risks, which are not commensurate to any possible benefits from the hydroelectric dam, have been known from the very start.  Yet, the project continues, flying in the face of all the expert and scientific data and opinion. Even more puzzling is the fact that Tapanuli is home to the Sarulla geothermal power plant, one of the largest of its kind in the world, which is more than capable of being expanded to fulfill all the electricity needs of the population of North Sumatra without posing any ecological danger to the adjacent natural forests.

The fact that Indonesia is the only country in the world possessing sufficient natural habitat for one of the world’s oldest species of orangutans should be a source of pride to the nation.  While Australia has its iconic kangaroos, and China has its pandas, the orangutan has long been a unique symbol of Indonesia’s vast biodiversity and exotic wildlife. It is not enough to proclaim our love for Indonesia, or our national sovereignty, if that love is not accompanied by a love of all our natural wealth, including the Tapanuli Orangutan in the forests of Batang Toru.

Through this small action, we can prevent the Tapanuli orangutans from being lost forever. Their survival is not only the responsibility of the people of Tapanuli, but of all Indonesian citizens and even all the humans on this earth.


Let's help protect Batang Toru. Let’s help save the Tapanuli Orangutan habitat. Let’s Save Indonesia's unique heritage.

 

We’re with the orangutans! We’re for Indonesia!

#savetapanuliorangutan

--------------------------