TOLAK PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DI LEMBAH KEBAR KABUPATEN TAMBRAUW PAPUA BARAT

0 have signed. Let’s get to 10,000!



Nama saya Jan, baru-baru ini dapat kabar sangat mengejutkan dari kampung halaman saya di Kebar, Kabupaten Tambrauw, Papua Barat.

Kata masyarakat sana, tanah kami mau dijadikan perkebunan kelapa sawit. Saya langsung ingat almarhum ayah saya. Kalau beliau masih hidup, tentu ia akan tegas menolak.

Almarhum ayah saya dan juga kebanyakan warga Tambrauw adalah petani nomaden (berpindah-pindah) dan campur sari. Mungkin banyak yang kira cara ini sudah ketinggalan karena nggak pakai teknologi pertanian. Tapi bagi kami, menjaga hubungan dekat dengan alam sangatlah penting. Dari alamlah kami dapat makan.

Waktu saya kecil, keluarga kami ternak sapi. Sapinya kami biarkan merumput sendiri di padang rumput. Musim kemarau, kami sering habiskan waktu di pinggir sungai untuk mancing, menjaring ikan, menyelam dan hanya sekadar bersantai. Kami juga kadang ke dusun sagu untuk menebang sagu. Kalau musim hujan, kami mulai menanam kacang tanah, jagung, singkong alias kasbi, tebu, sayur sayuran tanpa pupuk kimia. Ada beberapa keluarga dan masyarakat di sana yang ternak ayam, bebek, kambing dan babi.

Bayangkan jika nanti tanah adat kami diubah jadi perkebunan sawit. Banyak orang akan kehilangan tempat bertani dan penghidupan lain seperti berburu, beternak unggas dan ikan. Selain itu kami juga akan kehilangan tanah adat yang sudah diwariskan turun temurun dari leluhur. Kami juga takut bahasa dan kearifan lokal menghilang.

Apalagi kami percaya, perkebunan sawit tak akan membawa manfaat yang banyak bagi masyarakat adat. Jadi ini untuk siapa?

Saat ini saya kuliah di Jogja. Warga Tambrauw menghubungi kami mahasiswa di sini agar bisa cari info tentang perkebunan sawit ini. Ternyata ini awalnya dari rekomendasi Bupati Tambraw No. 551/296/2015 tentang Izin Lokasi Budidaya Tanaman Pangan dan Pengolahan lahan seluas 19.368 ha di Distrik Kebar dan Senopi kepada PT Bintuni Agro Prima Perkasa yang termasuk dalam Salim Group.

Tapi lantas Menteri Kehutanan beri izin untuk mengubah (konversi) lahan yang harusnya untuk tanaman pangan jadi perkebunan sawit melalui SK Menteri Kehutanan No. 873/Menhut-II/2014. Ini kan seperti lelucon.

Di mana letak leluconnya? Izin bupati keluar tahun 2015, sedangkan SK Menhut keluar tahun 2014. Ngerti kan kenapa kami berpikir ada permainan kotor dalam penerbitan izin perkebunan kelapa sawit di Kebar.

Pemerintah sewenang-wenang datangkan investasi besar-besaran yang tidak mempertimbangkan ancaman bagi kehidupan di bumi. Terutama masyarakat adat yang mendiami dan sebagai pemilik hak atas tanah adat di Lembah Kebar.
Kami tidak mau diam dan menyesal kemudian jika tanah kami rusak seperti yang terjadi di rumah saudara kami di Sumatra, Sulawesi, dan Kalimantan. Karena itu kami dari IPMT (Ikatan Pelajar Mahasiswa Tambrauw) mengajak kalian yang peduli lingkungan dan masyarakat adat agar dukung petisi ini. Desak Menteri Kehutanan Siti Nurbaya untuk cabut izin Perkebunan kelapa Sawit di Kebar Kabupaten Tambrauw Papua Barat.

ENGLISH



Today: Jan is counting on you

Jan Sedik needs your help with “@SitiNurbayaLHK, Jangan rusak alam Tambrauw Papua Barat dengan perkebunan sawit!”. Join Jan and 9,842 supporters today.