#KembaliKeAkar: Jadikan Olahraga Tradisional Ajang Kompetisi Antar Sekolah!


#KembaliKeAkar: Jadikan Olahraga Tradisional Ajang Kompetisi Antar Sekolah!
The Issue
Rasa cinta dan hobi adalah sesuatu yang muncul secara natural. Seperti yang kita tahu, rasa cinta tidak akan mungkin dikondisikan dengan paksaan. Ada beberapa aspek dalam lingkungan seseorang yang patut dicintai. Akan tetapi, identity crisis merupakan sesuatu yang sangat kerap terjadi. Padahal, identitas diri merupakan bagian krusial dalam kehidupan seseorang, tetapi karena lupa atau tidak berani "be yourself", manusia sering beranjak mencari hal baru sambil menghapus masa lalunya.
Masalah ini pun sangat nyata terjadi dalam hal kebudayaan, dimana seringkali masyarakat belum bisa menghubungkan aspek-aspek budaya setempat dalam kehidupannya. Memang, konteks budaya tradisional sudah sangat berbeda dengan keadaan masyarakat zaman sekarang yang sudah jauh lebih modern. Akan tetapi, nilai-nilai kebudayaan negara ini patut dipertahankan melalui hal-hal kecil; permainan tradisional misalnya.
Tradisi semacam ini sebenarnya sudah sering dihidupkan kembali oleh masyarakat pada acara perayaan hari kemerdekaan; permainan rakyat seperti lomba balap karung dan sepak bola di lumpur sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari banyak komunitas sekitar kita -- terutama perkampungan di daerah suburban. Seakan permainan-permainan ini mengingatkan kita kembali tentang masa lalu, keluarga, dan bahwa gembiranya orang Indonesia itu sederhana.
Lalu, apakah rasa cinta dan rindu akan sifat dan identitas dasar kita ini pantas untuk dirayakan hanya setahun sekali? Maka atas dasar itu, kami hendak mengusulkan agar permainan tradisional semacam ini agar dipertandingkan secara antar sekolah.
Permainan Tradisional Populer:
- Tarik Tambang
- Balap Karung
- Congklak
- Egrang
- Sepak Bola Kampung
Bukankah nilai-nilai nasionalisme patut juga ditumbuhkan melalui permainan-permainan sederhana semacam ini? Bahkan, cara berpikir seperti ini patut dilatih sejak usia dini. Jika begitulah kebutuhan generasi muda kita, apakah bukan ide yang tepat jika permainan tradisional dipertandingkan secara antar sekolah sejak kelas SD?
Selain itu, bukankah pelestarian kebudayaan sudah menjadi salah satu akar bangsa kita sejak masa kemerdekaan? Dalam UUD, pasal ke-32 sudah menyatakan dengan jelas bahwa "negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya". Hal ini secara tidak langsung membuktikan pentingnya penghidupan nilai-nilai tradisional masyarakat yang positif melalui segala macam program yang bersifat memelihara dan mengembangkan -- di bawah naungan negara tentunya.
Ide ini pun sejalan dengan pernyataan yang tertera dalam Undang-Undang Pemajuan Budaya Nomor 5 tahun 2017. Pada pasalnya yang ke-5, disebutkan bahwa "objek pemajuan kebudayaan meliputi pengembangan permainan rakyat dan olahraga tradisional." Oleh karena itu, permainan tradisional memang sudah menjadi bagian dari agenda bangsa untuk dikembangkan dan dijadikan program. Namun selama ini, belum ada program yang secara signifikan menggaris bawahi permainan tradisional.
Untuk merealisasikan visi tersebut (dan menjadikannya sebagai bagian dari sistem edukasi dan sekolah wajib), tentu dibutuhkan modal dan waktu yang lumayan banyak. Walau begitu, rintangan seperti itu tidak akan memberhentikan kami untuk berbagi dan mensosialisasikan visi ini.
Kami bisa mengekspresikan visi kami dengan sangat menarik dan penuh dengan nostalgia. Namun, petisi ini tidak bisa berdampak besar tanpa adanya dukungan dari masyarakat; untuk setidaknya menandatangani petisi ini. Oleh sebab itu, Anda bisa ikut serta dalam pembangunan dan perealisasian ide ini. Tanda tanganilah petisi ini dan bantu negeri kami melawan lupa!
The Issue
Rasa cinta dan hobi adalah sesuatu yang muncul secara natural. Seperti yang kita tahu, rasa cinta tidak akan mungkin dikondisikan dengan paksaan. Ada beberapa aspek dalam lingkungan seseorang yang patut dicintai. Akan tetapi, identity crisis merupakan sesuatu yang sangat kerap terjadi. Padahal, identitas diri merupakan bagian krusial dalam kehidupan seseorang, tetapi karena lupa atau tidak berani "be yourself", manusia sering beranjak mencari hal baru sambil menghapus masa lalunya.
Masalah ini pun sangat nyata terjadi dalam hal kebudayaan, dimana seringkali masyarakat belum bisa menghubungkan aspek-aspek budaya setempat dalam kehidupannya. Memang, konteks budaya tradisional sudah sangat berbeda dengan keadaan masyarakat zaman sekarang yang sudah jauh lebih modern. Akan tetapi, nilai-nilai kebudayaan negara ini patut dipertahankan melalui hal-hal kecil; permainan tradisional misalnya.
Tradisi semacam ini sebenarnya sudah sering dihidupkan kembali oleh masyarakat pada acara perayaan hari kemerdekaan; permainan rakyat seperti lomba balap karung dan sepak bola di lumpur sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari banyak komunitas sekitar kita -- terutama perkampungan di daerah suburban. Seakan permainan-permainan ini mengingatkan kita kembali tentang masa lalu, keluarga, dan bahwa gembiranya orang Indonesia itu sederhana.
Lalu, apakah rasa cinta dan rindu akan sifat dan identitas dasar kita ini pantas untuk dirayakan hanya setahun sekali? Maka atas dasar itu, kami hendak mengusulkan agar permainan tradisional semacam ini agar dipertandingkan secara antar sekolah.
Permainan Tradisional Populer:
- Tarik Tambang
- Balap Karung
- Congklak
- Egrang
- Sepak Bola Kampung
Bukankah nilai-nilai nasionalisme patut juga ditumbuhkan melalui permainan-permainan sederhana semacam ini? Bahkan, cara berpikir seperti ini patut dilatih sejak usia dini. Jika begitulah kebutuhan generasi muda kita, apakah bukan ide yang tepat jika permainan tradisional dipertandingkan secara antar sekolah sejak kelas SD?
Selain itu, bukankah pelestarian kebudayaan sudah menjadi salah satu akar bangsa kita sejak masa kemerdekaan? Dalam UUD, pasal ke-32 sudah menyatakan dengan jelas bahwa "negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya". Hal ini secara tidak langsung membuktikan pentingnya penghidupan nilai-nilai tradisional masyarakat yang positif melalui segala macam program yang bersifat memelihara dan mengembangkan -- di bawah naungan negara tentunya.
Ide ini pun sejalan dengan pernyataan yang tertera dalam Undang-Undang Pemajuan Budaya Nomor 5 tahun 2017. Pada pasalnya yang ke-5, disebutkan bahwa "objek pemajuan kebudayaan meliputi pengembangan permainan rakyat dan olahraga tradisional." Oleh karena itu, permainan tradisional memang sudah menjadi bagian dari agenda bangsa untuk dikembangkan dan dijadikan program. Namun selama ini, belum ada program yang secara signifikan menggaris bawahi permainan tradisional.
Untuk merealisasikan visi tersebut (dan menjadikannya sebagai bagian dari sistem edukasi dan sekolah wajib), tentu dibutuhkan modal dan waktu yang lumayan banyak. Walau begitu, rintangan seperti itu tidak akan memberhentikan kami untuk berbagi dan mensosialisasikan visi ini.
Kami bisa mengekspresikan visi kami dengan sangat menarik dan penuh dengan nostalgia. Namun, petisi ini tidak bisa berdampak besar tanpa adanya dukungan dari masyarakat; untuk setidaknya menandatangani petisi ini. Oleh sebab itu, Anda bisa ikut serta dalam pembangunan dan perealisasian ide ini. Tanda tanganilah petisi ini dan bantu negeri kami melawan lupa!
Petition Closed
Share this petition
Petition created on February 21, 2019
