Petition Closed

576
Supporters

Tuntutan Petisi : Kami tak ingin relokasi, kami ingin pulang, dan ingin dilindungi;

“Kami ingin pulang

Telah lebih dari sepuluh bulan kami meninggalkan rumah tinggal dan kampung halaman, di desa Nanggernang, yaitu sejak 26 Agustus tahun 2012 lalu. Pada hari itu, rumah kami dan seisinya dibakar oleh orang-orang yang menuduh kami sesat karena kami meyakini ajaran Syiah.

Selama itu, Gedung Olah Raga (GOR) Sampang menjadi tempat tinggal kami; 188 orang yang terdiri dari [59] laki-laki dewasa, [67] perempuan dewasa, dan [62] anak-anak. Sebelum peristiwa itu, salah satu kerabat kami, Pak Matsiri, dibakar rumahnya pada 02.00 dini hari. Ia harus membuka pintu dengan linggis karena pintu diikat dari luar.

Apakah Islam yang diklaim oleh pelaku benar-benar membolehkan mereka membakar rumah dan harta? Apa benar kami sesat atau atas dasar apa ajaran kami dituduh sesat? Bukankah kami tinggal di Indonesia, negara yang menghormati hukum, bangsa yang mencintai sesama?

Kami mungkin bukan orang pandai. Tapi kami tahu betapa sedih rasanya anak-anak kami saat melihat rumahnya dibakar. Kami tahu betapa ibu-ibu kini kesusahan di tempat pengungsian. Dan kami tak ingin melihat hancurnya masa depan mereka.

Untuk tekad itu, kami rela bersepeda ke Jakarta, ke tempat di mana pejabat-pejabat negara ini berjanji melindungi rakyat. Kami ingin tahu apakah mereka tahu rasa sedih anak-anak kami. Apakah mereka bisa merasakan kesusahan kami?

Untuk itu pula, melalui petisi ini, kami mencari sekaligus ingin menunjukkan betapa orang-orang di negeri ini, masih punya rasa kemanusiaan, rasa yang adil, dan rasa yang beradab.

Saat bersepeda, kami bertemu banyak orang. Di antara mereka, ada yang menerangkan pada kami begini; Syiah bukanlah ajaran sesat. Ajaran ini diakui oleh organisasi besar negara-negara Islam, OKI. Bahkan kesepakatan ulama dunia dalam Risalah Aman, mengakui ajaran Syiah dan melarang untuk menyesatkannya.

Sesudahnya, guru kami, Tajul Muluk, dibakar rumahnya beserta rumah adik dan kakak kandungnya, Hani dan Iklil. Setelah rumahnya dibakar, Ust. Tajul Muluk didakwa sebagai pelaku penodaan agama dan dihukum 2 tahun oleh PN Sampang. Putusan ini ditambah 2 tahun oleh PT Jawa Timur dengan alasan Ust. Tajul telah menyebabkan pembakaran rumah secara massal. Ini betul-betul tak masuk akal. Ia dihukum seperti koruptor, sementara ibu, istri, adik, kakak dan muridnya kehilangan rumah.

Saat ini anak-anak kami harus belajar di sekolah darurat. Pencaharian kami hilang karena kami jauh dari tanah kami. Tembakau yang akan dan sudah panen terbengkalai. Hingga petisi ini, kami belum tahu kapan kami boleh pulang.

Letter to
Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono
Mentri Dalam Negeri Gamawan Fauzi
Menkopolhukam Djoko Suyanto
and 1 other
Mentri Agama Lukman Hakim Syaifuddin
Kami Ingin Pulang Ke Bluuran dan Karanggayam