Aggiornamento sulla petizionePanduan Konsumen Cerdas untuk Kelestarian BumiBerikan Orangutan “Kemerdekaan”dari Kebun Sawit Tak Lestari
Earth Hour IndonesiaIndonesia
18 Aug 2015
Salah satu mahluk yang belum “merdeka” hidupnya di alam liar adalah orangutan. Ada dua jenis orangutan di Indonesia, yaitu yang hidup di Pulau Sumatera (Pongo abelii) dan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Belum merdeka, dalam artian kebebasan hidup mereka di alam bebas telah terenggut dari perubahan fungsi lahan, dari hutan menjadi kebun sawit. Hal ini dibuktikan dari banyak kasus pembantaian orangutan, yang dapat disimak di pelbagai media massa beberapa waktu lalu. Jelas saja konflik ini terjadi, sebab tingginya angka perubahan fungsi lahan. Berdasarkan Indonesia Palm Oil Advocacy Team tahun 2010, ada 10 juta hektare lahan di Kalimantan yang merupakan “rumah” bagi orangutan telah berubah menjadi perkebunan kelapa sawit. Pembantaian orang utan jelas merupakan tindakan pelanggaran hukum, pelaku pembantaian oang utan telah melanggar UU No 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tanaman dan Satwa dan UU No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Hayati dan Ekosistemnya dapat dikenai sanksi penjara 5 tahun dan denda Rp lOO juta. Tak hanya perubahan lahan, perburuan juga menjadi salah satu ancaman. Sebagai gambaran menurut beberapa ahli dan aktivis sekitar 1000 orang utan telah diburu dari hutan hutan di Kalimantan pada 2002 dan 9000 orang utan telah terjual hanya dalam waktu empat bulan pada 2001 (Jatna Supriatna, dalam Sinar Harapan). Fakta lain menunjukkan bahwa setiap tahun sekitar 1000 orang utan Kalimantan dibantai untuk diambil bayinya dan diperdagangkan di Indonesia maupun diselundupkan ke luar negeri. Padahal untuk menangkap bayi orangutan pemburu akan membunuh induknya terlebih dahulu dan mengambil bayinya. Populasi Orangutan di Alam Liar Orangutan, baik Sumatera maupun Kalimantan berada dalam status konservasi yang sangat terancam. Berdasarkan status yang diberikan oleh Lembaga Konservasi Satwa Internasional- IUCN, orangutan Kalimantan dikategorikan spesies genting endangered sedangkan orang utan Sumatera lebih terancam karena masuk dalam kategori kritis atau critically endangered. Kedua spesies tersebut juga terdaftar dalam Apendiks l CITES Convention on International Trade in Endangerd of Wild Species of Fauna and Flora atau Konvensi Perdagangan Internasional Satwa dan Tumbuhan Liar Terancam Punah yang berarti orangutan termasuk bagian tubuhnya tidak boleh diperdagangkan dimana pun di dunia. Pada 1993 diperkirakan jumlah orang utan di Indonesia dan Malaysia turun 30-50 persen dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir sementara habitatnya menyusut 80 persen dalam kurun waktu 20 tahun terakhir Menurut para pakar orangutan saat ini diperkirakan populasi orangutan di Indonesia hanya tersisa 60,000 individu yang tersebar di Kalimantan dan Sumatera Untuk Sumatera diperkirakan populasi yang ada sekitar 7,000- 11,000. Bantu Kami, Berikan Kemerdekaan Buat Orangutan. Indonesia merupakan Negara terbesar dalam memproduksi minyak sawit dan turunannya, pada tahun 2008 saja, 6,8 juta dollar US yang merupakan hasil penjualan 17,4 juta ton. Sektor perkebunan sawit juga telah menyumbang 8 milyar USD dari total nilai ekspor dari Indonesia dan mempekerjakan 3 juta orang pada tahun 2007. Tak usah khawatir, Anda masih dapat membantu memerdekakan orangutan, tapi masih bisa pakai produk-produk dari minyak sawit, caranya dengan membeli produk sawit dengan logo RSPO, atau sawit yang sudah mendapat sertifikasinya, sehingga “halal” dari pembantaian orangutan. Minyak sawit yang sudah mendapat sertifikasi RSPO ini mengatur segala hal, termasuk jika didalam kebunnya ada populasi orangutan, yaitu dengan meneliti terlebih dahulu “kantong-kantong” orangutan dan membentuk HCV, High Conservation Value Forest, atau hutan dengan nilai konservasi tinggi, sehingga hutan di lokasi ini tidak dikonversi menjadi perkebunan. 19 Agustus dicanangkan hari Orangutan se-dunia, ayo sudah saatnya kita berikan Orangutan kehidupan yang Bebas Merdeka di alam liar. Diah R. Sulistiowati, Forest and Species Campaign Coordinator
Copia il link
WhatsApp
Facebook
Nextdoor
E-mail
X