PERLINDUNGAN Wilayah Kelola Rakyat RANO POSO untuk Kehidupan Berkelanjutan!

0 telah menandatangani. Mari kita ke 500.


Dari sisi ekologi, Pengelolaan Danau Poso tidak bisa lepas dari daya dukung ekologisnya dimana keberadaan Danau Poso bagi masyarakat Poso memiliki peran penting dalam berbagai aspek kehidupan serta memiliki multi fungsi baik sebagai salah satu penyanggah kehidupan bagi masyarakat serta sistem penyanggah kehidupan biota air/ikan air tawar dan mahluk hidup lainnya juga sebagai penyerasi dan penyeimbang lingkungan serta merupakan unsur ekosistem asli dari Lingkungan Hidup Kabupaten Poso. Fungsi penting lainnya yaitu sebagai muara DAS Poso dimana terdapat beberapa sungai yang bermuara di Danau Poso dan sekaligus menjadi hulu dari Sungai Poso itu sendiri. Kondisi Danau Poso kini menunjukan penurunan setiap tahunnya baik secara kualitas maupun kuantitas potensinya.

Praktek pembangunan sarana dan prasarana umum di sekitar wilayah penyanggah atau kawasan Wilayah Kelola Rakyat Danau Poso dalam 10 tahun terakhir sangat memprihatinkan karena mengabaikan kondisi ekologi, sosial dan budaya masyarakat sekitar kawasan Danau Poso.

Sebut saja pembangunan Dermaga ASDP Tentena tahun 2014, yang lokasinya sangat dekat dengan lokasi situs Watu Mpangasa Angga yang selama ini menjadi salah satu daya tarik objek wisata di Danau Poso. Tentu saja hal ini tidak dibenarkan karena lokasi ini merupakan wilayah penyanggah utama Danau Poso dan habitat asli ikan-ikan endemik Danau Poso  seperti rono (Egg carrying buntingi) dan bungu (Weberogobius amadi) yang saat ini mulai terancam keberadaannya. Selain itu, bagi para nelayan, tak jauh dari situ adalah lokasi pemancingan strategis dimana mereka menggantungkan hidupnya sehari-hari. Kini dermaga itu tak berfungsi seperti layaknya dermaga dan pembangunannya telah dihentikan karena memang sejak awal tidak memenuhi syarat.

Tak Jera dengan pengalaman di atas, saat ini Pemerintah Daerah kabupaten Poso bekerja sama dengan PT. Poso Energy pelaksana Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Poso 1, 2 dan 3 akan melakukan proyek Renovasi Jembatan Tua Pamona dan Pembangunan Taman Air Dongi.

Jembatan Tua Pamona atau YONDOMPAMONA merupakan warisan leluhur yang telah terpelihara puluhan tahun sejak dibangun oleh para pendahulu yang bermukim di kawasan Danau Poso ratusan tahun silam. Selain itu YONDOMPAMONA juga merupakan simbol dari Budaya 'Sintuwu Maroso' atau semangat gotong royong di Tana Poso (Kabupaten Poso) hingga menjadikan jembatan ini sebagai saksi sejarah bahwa di masa lampau atau para pendahulu telah mencucurkan keringat dan darah membangun secara gotong royong sebuah jembatan yang menghubungkan sisi Timur dan Barat Tentena yang terpisah oleh sungai Poso. Nilai Sejarah dan budaya inilah yang harusnya menjadi pertimbangan agar YONDOMPAMONA seharusnya dipertahankan dalam hal ini dijaga, dirawat dan dilestarikan bukan di utak-atik untuk kepentingan ambisi pembangunan yang membabi buta. 

Lokasi rencana pembangunan taman air dongi pun tak jauh berbeda, lokasi ini merupakan wilayah kelola rakyat sekitar kawasan Rano Poso (Danau Poso) yang sehari-harinya disebut Mosango, Monyilo, Momeka, Mobubu, Mokaramba dan Mowaya yang adalah kearifan lokal masyarakat sekitar kawasan Rano Poso yang diwariskan turun temurun bahkan ditularkan dari generasi ke generasi. Jika proyek ini tetap di paksakan, maka itu sama halnya dengan penghilangan paksa kearifan lokal masyarakat kawasan Rano Poso dan penghapusan sumber mata pencaharian masyarakat sekitarnya.

Dari sisi lingkungan, rencana mega proyek ini belum memiliki AMDAL apapun, kalopun sedang di upayakan, pelibatan masyarakat sekitar kawasan tidak dilakukan dan sangat mencurigakan jika proses AMDAL dilakukan kemudian atau malah berbarengan dengan proses pengerjaan proyek. Alasan apa yang begitu mendesak sehingga proyek ini terkesan harus segera di 'action' di lapangan dengan mengesampingkan bahkan mengabaikan berbagai dampak yang akan ditimbulkan di kemudian hari.

Kembali, ke pertanyaan awal, kenapa harus ikon YONDOMPAMONA itu yang dibongkar ? Jawabannya pada rencana keruk untuk pendalaman 4 meter, perluasan kedalaman selebar 40 meter, dan perluasan jangkauan kedalaman sejauh 12,8 km. 

Dengan adanya pengerukan, sudah pasti meminggikan pagar sogili (waya masapi). Meminggirkan dalam arti sebenarnya, karena pagarnya berpindah tempat ke pinggirann sungai dan tak mungkin ditengah sungai yang kedalaman 2 + 4m (hasil pengerukan). Belum lagi urusan Karamba. Betapa banyaknya yang harus kita korbankan demi kepentingan proyek tersebut.

Oleh karena itu, kami dari Front Aksi untuk Rano Poso menyatakan sikap :

1. Lestarikan YONDOMPAMONA (Jembatan Tua Pamona) sebagai warisan cagar budaya Tana Poso (Kabupaten Poso)

2. Selamatkan dan lestarikan Danau Poso sebagai Wilayah Kelola Rakyat Rano Poso 

3. Lindungi Kearifan lokal masyarakat sekitar kawasan wilayah kelola rakyat Rano Poso

4. Hentikan segala upaya pengrusakan terhadap warisan cagar budaya dan kawasan wilayah kelola rakyat Rano Poso yang berkedok pembangunan

5. Segala bentuk rencana pembangunan di Kabupaten Poso sebaiknya mengedepankan semua aspek terutama sejarah dan Budaya Tana Poso tidak hanya aspek ekonomi semata



Hari ini: FRONT AKSI untuK RANO POSO mengandalkanmu

FRONT AKSI untuK RANO POSO FARP TENTENA membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "SAVE RANO POSO!". Bergabunglah dengan FRONT AKSI untuK RANO POSO dan 491 pendukung lainnya hari ini.