ROBOHKAN PANGGUNGNYA! Menuntut tindakan hukum terhadap moren worth dan pembatasan platform

Penandatangan terbaru:
Ela Santiani Rapami dan 19 lainnya baru saja menandatanganinya.

Masalahnya

Saya berbicara sebagai seorang Perempuan Papua yang peduli, dan saya merasa tergugah untuk mengangkat kasus ini demi masa depan generasi muda kita. Baru-baru ini, kita telah menyaksikan bagaimana tindakan asusila publik dan konten tidak senonoh mulai merajalela di media sosial, terutama terkait dengan kasus yang melibatkan Moren Worth. Perilaku ini tidak hanya melanggar norma sosial, tetapi juga berdampak negatif terhadap anak-anak dan remaja di Papua, yang menjadi sasaran normalisasi perilaku amoral tersebut.

Pada kasus pertama, tindakan asusila publik yang dilakukan oleh Moren Worth melalui "Live Challenge tak senonoh" tidak dapat dianggap remeh. Kejadian ini, seperti yang kita lihat di platform TikTok dengan insiden "Ompay", menunjukkan betapa rapuhnya batasan moralitas di ranah digital kita saat ini.

Lebih lanjut, kasus kedua menyoroti penyebaran konten pornografi yang nyata dengan VCS berdurasi 6 menit, yang secara luas disebarluaskan dan mempengaruhi cara pandang generasi muda terhadap hubungan intim dan seksualitas. Hal ini bukan hanya soal pelanggaran hukum tetapi juga menyangkut masa depan moral generasi papua.

Fenomena seperti 'kuku palsu' yang beredar di antara anak-anak adalah sebuah contoh bagaimana lelucon yang tampak sepele ini dapat merusak pola pikir generasi muda, membuat mereka berpikir bahwa perilaku semacam ini adalah sesuatu yang normal.

Yang paling menyakitkan bagi kami adalah sikap saudara Moren Worth setelah kedua kasus ini viral. Tidak ada sedikit pun kata maaf yang terucap. Sebaliknya:

• Menghujat Netizen: Ia justru menyerang balik dan menghujat netizen yang mencoba menegur atau mengingatkannya.

• Membenarkan Perilaku Amoral: Dalam siaran langsung terbaru di akun rekannya, Moren secara terang-terangan menyatakan bahwa aksi VCS tersebut adalah "hal wajar" karena dilakukan dengan pacarnya. Ia seolah menutup mata bahwa video tersebut telah tersebar di TikTok, FB, IG, hingga Twitter dan disaksikan jutaan pasang mata, termasuk anak-anak di bawah umur.

Kami menuntut pihak kepolisian untuk menegakkan hukum dengan tegas terhadap Moren Worth dan agar platform media sosial yang memfasilitasi distribusi konten tidak layak ini segera mengambil tindakan berupa pemblokiran permanen terhadap individu tersebut. Dengan cara ini, kita dapat memerangi perusakan moral tersebut dan melindungi generasi muda Papua dari pengaruh negatif yang destruktif.

Mari berdiri bersama dalam usaha ini dan wujudkan perubahan dengan menandatangani petisi ini untuk mendesak tindakan hukum serta perlindungan yang nyata dalam dunia digital kita.

avatar of the starter
Ansanay MonalisaPembuka PetisiSaya Seorang Ibu Tunggal dengan 2 Anak Gadis,Saya Bekerja Sebagai ASN di Satuan Polisi Pamong Praja Provinsi Papua
Kemenangan
Petisi ini membuat perubahan dengan 5.485 pendukung!
Penandatangan terbaru:
Ela Santiani Rapami dan 19 lainnya baru saja menandatanganinya.

Masalahnya

Saya berbicara sebagai seorang Perempuan Papua yang peduli, dan saya merasa tergugah untuk mengangkat kasus ini demi masa depan generasi muda kita. Baru-baru ini, kita telah menyaksikan bagaimana tindakan asusila publik dan konten tidak senonoh mulai merajalela di media sosial, terutama terkait dengan kasus yang melibatkan Moren Worth. Perilaku ini tidak hanya melanggar norma sosial, tetapi juga berdampak negatif terhadap anak-anak dan remaja di Papua, yang menjadi sasaran normalisasi perilaku amoral tersebut.

Pada kasus pertama, tindakan asusila publik yang dilakukan oleh Moren Worth melalui "Live Challenge tak senonoh" tidak dapat dianggap remeh. Kejadian ini, seperti yang kita lihat di platform TikTok dengan insiden "Ompay", menunjukkan betapa rapuhnya batasan moralitas di ranah digital kita saat ini.

Lebih lanjut, kasus kedua menyoroti penyebaran konten pornografi yang nyata dengan VCS berdurasi 6 menit, yang secara luas disebarluaskan dan mempengaruhi cara pandang generasi muda terhadap hubungan intim dan seksualitas. Hal ini bukan hanya soal pelanggaran hukum tetapi juga menyangkut masa depan moral generasi papua.

Fenomena seperti 'kuku palsu' yang beredar di antara anak-anak adalah sebuah contoh bagaimana lelucon yang tampak sepele ini dapat merusak pola pikir generasi muda, membuat mereka berpikir bahwa perilaku semacam ini adalah sesuatu yang normal.

Yang paling menyakitkan bagi kami adalah sikap saudara Moren Worth setelah kedua kasus ini viral. Tidak ada sedikit pun kata maaf yang terucap. Sebaliknya:

• Menghujat Netizen: Ia justru menyerang balik dan menghujat netizen yang mencoba menegur atau mengingatkannya.

• Membenarkan Perilaku Amoral: Dalam siaran langsung terbaru di akun rekannya, Moren secara terang-terangan menyatakan bahwa aksi VCS tersebut adalah "hal wajar" karena dilakukan dengan pacarnya. Ia seolah menutup mata bahwa video tersebut telah tersebar di TikTok, FB, IG, hingga Twitter dan disaksikan jutaan pasang mata, termasuk anak-anak di bawah umur.

Kami menuntut pihak kepolisian untuk menegakkan hukum dengan tegas terhadap Moren Worth dan agar platform media sosial yang memfasilitasi distribusi konten tidak layak ini segera mengambil tindakan berupa pemblokiran permanen terhadap individu tersebut. Dengan cara ini, kita dapat memerangi perusakan moral tersebut dan melindungi generasi muda Papua dari pengaruh negatif yang destruktif.

Mari berdiri bersama dalam usaha ini dan wujudkan perubahan dengan menandatangani petisi ini untuk mendesak tindakan hukum serta perlindungan yang nyata dalam dunia digital kita.

avatar of the starter
Ansanay MonalisaPembuka PetisiSaya Seorang Ibu Tunggal dengan 2 Anak Gadis,Saya Bekerja Sebagai ASN di Satuan Polisi Pamong Praja Provinsi Papua
Perkembangan terakhir petisi