

Remaja Kerokhanian Sapta Darma Menolak Kekerasan
Masalahnya
Latar Belakang
Pada tanggal 12 Juli, warga Sapta Darma memperingati hari turunnya wahyu ajaran sebagai momen sakral penuh syukur dan refleksi spiritual.
Namun, peringatan yang seharusnya menjadi momen kekhidmatan justru ternoda oleh peristiwa memilukan di Sanggar Agung Candi Busana Kerokhanian Sapta Darma, Pare, Kediri. 12 Juli 2026, Bapak Suyatno, selaku Tuntunan Provinsi Jawa Timur, mengalami intimidasi oleh sekelompok orang yang memaksa pelepasan plang sekretariat tiga lembaga Kerokhanian Sapta Darma Provinsi Jawa Timur untuk digantikan dengan plang Yasrad Cabang Kediri-Pare. Pemaksaan ini disertai tekanan verbal dari banyak orang serta dorongan fisik di lengan Bapak Suyatno, hingga akhirnya beliau terpaksa mengizinkan pelepasan plang tersebut di bawah tekanan.
Tindakan ini adalah bentuk kekerasan dan intimidasi yang secara langsung bertentangan dengan nilai-nilai luhur ajaran Kerokhanian Sapta Darma, yang menjunjung tinggi welas asih. Jika dibiarkan, peristiwa semacam ini berpotensi menjadi preseden buruk yang menormalisasi cara-cara premanisme dalam menyelesaikan perbedaan pendapat di internal organisasi, serta mengancam persatuan warga Sapta Darma di seluruh Indonesia.
Sebagai generasi muda Kerokhanian Sapta Darma, kami tidak bisa tinggal diam. Kami percaya bahwa keadilan, penghormatan terhadap sesama warga, dan perlindungan atas kepentingan bersama tanpa rasa takut dan intimidasi patut diperjuangkan. Melalui petisi ini, kami mengajak seluruh warga Kerokhanian Sapta Darma, khususnya remaja yang peduli terhadap ajaran Kerokhanian Sapta Darma untuk bersama-sama menyatakan sikap tegas menolak kekerasan dan intimidasi dalam bentuk serta alasan apa pun.
Berdasarkan peristiwa tersebut, kami Remaja Kerokhanian Sapta Darma menyatakan sikap sebagai berikut:
- Mengecam keras segala bentuk tindakan kekerasan, intimidasi, maupun pemaksaan. Karena bertolak belakang dengan nilai-nilai luhur ajaran Kerokhanian Sapta Darma.
- Meminta pihak yang terlibat dalam tindakan kekerasan untuk memohon maaf secara langsung kepada Bapak Suyatno selaku Tuntunan Provinsi Jawa Timur.
- Mendorong 3 Lembaga Pusat Kerokhanian Sapta Darma untuk melakukan turba (turun ke bawah) darurat yang melibatkan seluruh elemen Warga Kerokhanian Sapta Darma Jawa Timur dan segera menyelesaikan seluruh konflik di Sanggar Agung Candi Busana Pare Kediri.
- Menolak berkembangnya budaya intimidasi, ancaman, tindakan premanisme, maupun demonstrasi dengan kekerasan di lingkungan internal Kerokhanian Sapta Darma. Karena, berpotensi merusak persatuan dan merusak nilai luhur organisasi.
39
Masalahnya
Latar Belakang
Pada tanggal 12 Juli, warga Sapta Darma memperingati hari turunnya wahyu ajaran sebagai momen sakral penuh syukur dan refleksi spiritual.
Namun, peringatan yang seharusnya menjadi momen kekhidmatan justru ternoda oleh peristiwa memilukan di Sanggar Agung Candi Busana Kerokhanian Sapta Darma, Pare, Kediri. 12 Juli 2026, Bapak Suyatno, selaku Tuntunan Provinsi Jawa Timur, mengalami intimidasi oleh sekelompok orang yang memaksa pelepasan plang sekretariat tiga lembaga Kerokhanian Sapta Darma Provinsi Jawa Timur untuk digantikan dengan plang Yasrad Cabang Kediri-Pare. Pemaksaan ini disertai tekanan verbal dari banyak orang serta dorongan fisik di lengan Bapak Suyatno, hingga akhirnya beliau terpaksa mengizinkan pelepasan plang tersebut di bawah tekanan.
Tindakan ini adalah bentuk kekerasan dan intimidasi yang secara langsung bertentangan dengan nilai-nilai luhur ajaran Kerokhanian Sapta Darma, yang menjunjung tinggi welas asih. Jika dibiarkan, peristiwa semacam ini berpotensi menjadi preseden buruk yang menormalisasi cara-cara premanisme dalam menyelesaikan perbedaan pendapat di internal organisasi, serta mengancam persatuan warga Sapta Darma di seluruh Indonesia.
Sebagai generasi muda Kerokhanian Sapta Darma, kami tidak bisa tinggal diam. Kami percaya bahwa keadilan, penghormatan terhadap sesama warga, dan perlindungan atas kepentingan bersama tanpa rasa takut dan intimidasi patut diperjuangkan. Melalui petisi ini, kami mengajak seluruh warga Kerokhanian Sapta Darma, khususnya remaja yang peduli terhadap ajaran Kerokhanian Sapta Darma untuk bersama-sama menyatakan sikap tegas menolak kekerasan dan intimidasi dalam bentuk serta alasan apa pun.
Berdasarkan peristiwa tersebut, kami Remaja Kerokhanian Sapta Darma menyatakan sikap sebagai berikut:
- Mengecam keras segala bentuk tindakan kekerasan, intimidasi, maupun pemaksaan. Karena bertolak belakang dengan nilai-nilai luhur ajaran Kerokhanian Sapta Darma.
- Meminta pihak yang terlibat dalam tindakan kekerasan untuk memohon maaf secara langsung kepada Bapak Suyatno selaku Tuntunan Provinsi Jawa Timur.
- Mendorong 3 Lembaga Pusat Kerokhanian Sapta Darma untuk melakukan turba (turun ke bawah) darurat yang melibatkan seluruh elemen Warga Kerokhanian Sapta Darma Jawa Timur dan segera menyelesaikan seluruh konflik di Sanggar Agung Candi Busana Pare Kediri.
- Menolak berkembangnya budaya intimidasi, ancaman, tindakan premanisme, maupun demonstrasi dengan kekerasan di lingkungan internal Kerokhanian Sapta Darma. Karena, berpotensi merusak persatuan dan merusak nilai luhur organisasi.
Perkembangan Terakhir Petisi
Bagikan petisi ini
Petisi dibuat pada 17 Juli 2026