Selamatkan gunung Rinjani kami

Selamatkan gunung Rinjani kami

Masalahnya

Belum habis masalah sampah yang menumpuk, masalah ingin menaikkan tiket masuk, masalah ingin membuat jalur trail, lalu masalah ketimpangan volunteer antara Sembalun-Senaru, Rinjani kemudian muncul satu masalah baru. Mengapa kita selalu membuat masalah di Rinjani?? Sementara Rinjani selalu bermurah hati kepada kita.

Ada batas dimana kawasan wisata yang dibentuk dengan konsep GEOPARK seharusnya tetap mengedepankan konsep ECOTOURISM dalam pengelolaannya. Pembatasan jumlah dan pengaturan kunjungan pendaki seharusnya menjadi hal PENTING dalam pengelolaan Rinjani. Penumpukan sampah yang terjadi di pos pendakian, pelawangan maupun Danau Segara Anak adalah bukti bahwa pengelolaan Rinjani tidak "ECO" lagi namun sudah bergerak ke arah "MASS".
Satu hal yang ABSURD dimana sebuah kawasan terbatas/minat khusus tapi dikelola dengan sistem massal.

Pengelola kawasan, Kementerian Kehutanan melalui Balai Taman Nasional Gunung Rinjani semestinya jangan bertindak arogan dengan mengeluarkan kebijakan "TIDAK POPULIS" seperti ini. Mau dibawa kemana gunung Rinjani 20-30 tahun mendatang jika kebijakan seperti ini dilaksanakan ? Sadar atau tidak, ini adalah blunder dan menjadi bom waktu bagi gunung Rinjani itu sendiri. Think-thank dalam pengelolaan sebuah kawasan destinasi itu hendaknya mengajak elemen lain seperti pengusaha, pers, akademisi dan masyarakat, bukan hanya milik pemerintah saja. Sebijaknya pemerintah melalui TNGR lah yang seharusnya menjadi filter utama, bukan sebagai awal bencana bagi Rinjani.

Taman Nasional Gunung Rinjani adalah sumber kehidupan bagi masyarakat tapi bagi para "PENGUASA"menjadi sumber pendapatan. Kami menyatakan: 
1. MENOLAK dengan keras letter board di danau segara anak.
2. BONGKAR dan TURUNKAN LETTER BOARD tersebut

Salam Lestari

 

avatar of the starter
herwin prabawanandaPembuka Petisi
Kemenangan
Petisi ini membuat perubahan dengan 1.364 pendukung!

Masalahnya

Belum habis masalah sampah yang menumpuk, masalah ingin menaikkan tiket masuk, masalah ingin membuat jalur trail, lalu masalah ketimpangan volunteer antara Sembalun-Senaru, Rinjani kemudian muncul satu masalah baru. Mengapa kita selalu membuat masalah di Rinjani?? Sementara Rinjani selalu bermurah hati kepada kita.

Ada batas dimana kawasan wisata yang dibentuk dengan konsep GEOPARK seharusnya tetap mengedepankan konsep ECOTOURISM dalam pengelolaannya. Pembatasan jumlah dan pengaturan kunjungan pendaki seharusnya menjadi hal PENTING dalam pengelolaan Rinjani. Penumpukan sampah yang terjadi di pos pendakian, pelawangan maupun Danau Segara Anak adalah bukti bahwa pengelolaan Rinjani tidak "ECO" lagi namun sudah bergerak ke arah "MASS".
Satu hal yang ABSURD dimana sebuah kawasan terbatas/minat khusus tapi dikelola dengan sistem massal.

Pengelola kawasan, Kementerian Kehutanan melalui Balai Taman Nasional Gunung Rinjani semestinya jangan bertindak arogan dengan mengeluarkan kebijakan "TIDAK POPULIS" seperti ini. Mau dibawa kemana gunung Rinjani 20-30 tahun mendatang jika kebijakan seperti ini dilaksanakan ? Sadar atau tidak, ini adalah blunder dan menjadi bom waktu bagi gunung Rinjani itu sendiri. Think-thank dalam pengelolaan sebuah kawasan destinasi itu hendaknya mengajak elemen lain seperti pengusaha, pers, akademisi dan masyarakat, bukan hanya milik pemerintah saja. Sebijaknya pemerintah melalui TNGR lah yang seharusnya menjadi filter utama, bukan sebagai awal bencana bagi Rinjani.

Taman Nasional Gunung Rinjani adalah sumber kehidupan bagi masyarakat tapi bagi para "PENGUASA"menjadi sumber pendapatan. Kami menyatakan: 
1. MENOLAK dengan keras letter board di danau segara anak.
2. BONGKAR dan TURUNKAN LETTER BOARD tersebut

Salam Lestari

 

avatar of the starter
herwin prabawanandaPembuka Petisi

Pengambil Keputusan

Joko Widodo
Presiden Republik Indonesia
Menteri Kehutanan RI
Menteri Kehutanan RI

Perkembangan Terakhir Petisi

Bagikan petisi ini

Petisi dibuat pada 24 Juni 2016