Kemenangan

Patuhi Putusan PTUN, #BukaInformasi Publik dan Lakukan Transparansi di Sektor Kehutanan

Petisi ini membuat perubahan dengan 139 pendukung!


Hingga saat ini Indonesia masih dikenal sebagai paru-parunya dunia. Hutan Indonesia mempunyai peranan dan kontribusi yang sangat penting dalam menunjang sumber kehidupan di Bumi. Tercatat hingga tahun 2013, Indonesia masih memiliki hutan seluas 82 juta ha atau 46% dari luas daratan. Dalam publikasi buku “Potret Keadaan Hutan Indonesia 2013” mengungkapkan fakta bahwa Indonesia kehilangan hutan seluas 4,5 juta hektar pada rentan waktu 2009-2013 dengan laju kehilangan hutan 1,13 juta ha/tahun. Jika diilustrasikan, Indonesia kehilangan hutan seluas 3 kali lapangan sepak bola setiap menitnya. Jika laju kehilangan hutan tersebut masih saja terjadi, pada tahun 2043 tidak ada lagi hutan alam di Sumatera, Jawa, dan Bali Nusra. 

Setiap Menit, Hutan Indonesia Hilang Seluas 3 KALI Lapangan Sepak Bola

Maraknya kegiatan investasi berbasis hutan dan lahan dinilai menjadi salah satu faktor yang menyebabkan masih tingginya laju kehilangan hutan. Di tahun 2013, tercatat ada sekitar 30,5 juta Ha kawasan hutan di Indonesia terlah dikuasai oleh kegiatan investasi berbasis hutan dan lahan baik HPH maupun HTI. Pengelolaan hutan dan lahan juga erat kaitannya dengan kepentingan politik dan korupsi. di sektor kehutanan, potensi korupsi sudah dimulai dari rantai perizinan dan regulasi, rantai pasokan kayu, rantai penerimaan, hingga rantai pelaporan atau sertifikasi. Hal ini dipertegas oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melalui kajian corruption impact assessment (CIA) yang menyebutkan bahwa peraturan perizinan kehutanan rentan menimbulkan suap dan korupsi.

Terbitnya UU No.14/2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik menjadi harapan baru dalam perbaikan tata kelola disektor Kehutanan. Namun pada prakteknya, tidak sedikit badan publik yang mau terbuka dalam hal akses data dan informasi. Sulitnya mendapatkan akses data dan informasi terkait pengeloaan hutan di Indonesia semakin mengindikasikan bahwa ada hal yang sengaja ditutup-tutupi oleh KLHK. Padahal sejatinya data dan informasi tersebut merupakan data publik yang menyangkut kehidupan seluruh umat manusia.

Pada bulan maret 2015, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya meluncurkan portal pengaduan masyarakat terkait pelanggaran-pelanggaran disektor lingkungan hidup dan kehutanan. diacara tersebut Menteri KLHK memaparkan bahwa masyarakat memiliki peranan penting sebagai pengontrol dan pelapor dalam pelanggaran pengelolaan hutan. Namun yang sangat disayangkan, ungkapan tersebut tidak disertai dengan adanya implementasi UU tentang keterbukaan informasi di Kementerian tersebut. Data dan informasi terkait pengelolaan hutan di Indonesia menjadi hal yang sangat sulit untuk didapatkan. Tidak adanya data dan informasi membuat masyarat tidak dapat membedakan mana aktifitas yang legal dan mana yang illegal dalam pengelolaan hutan di Indonesia.

Daftar Informasi yang diminta. Putusan Komisi Informasi Pusat (KIP) dan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) sebagai dokumen publik

Untuk memperbaiki tata pengelolaan hutan yang lebih baik, KLHK harus memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk berpartisipasi dalam pengelolaan, pemanfaatan dan pengawasan hutan. Mendorong semua pihak dapat aktif terlibat memerangi illegal logging, membantu penyelesaian konflik tenurial, mencegah kerugian negara akibat korupsi di sektor kehutanan, dan memberi ruang bagi masyarakat lokal atau adat untuk menentukan pilihannya atas pembangunan kehutanan. Untuk mewujudkan itu semua, sudah sewajarnya KLHK menjalankan prinsip transparansi  agar semua pihak dapat terlibat aktif mengawasi pembangunan di sektor kehutanan.

Proses perjuangan mendapatkan data dan informasi di sektor kehutanan sudah di mulai oleh “Forest Watch Indonesia (FWI)” sejak tahun 2013. Dengan mengikuti aturan dan tahapan yang ada di UU No.14/2008, tahap demi tahap dilalui hingga sampai ke putusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). Walaupun putusan PTUN memerintahkan KLHK membuka dan menyerahkan data yang diminta, hingga saat ini proses tersebut menemui jalan buntu dengan tidak maunya KLHK membuka diri terkait data dan informasi pengelolaan hutan.

 3 tahun proses perjuangan keterbukaan informasi di sektor Kehutanan

Argumentasi-argumentasi yang dipaparkan oleh KLHK justru semakin memperlihatkan bahwa pembangunan disektor kehutanan semata-mata bukan untuk kemakmuran rakyat sesuai dengan amanat UUD 1945. Alibi menghindari persaingan bisnis yang tidak sehat semakin mempertegas bahwa pengelolaan hutan yang dilakukan saat ini hanya demi kepetingan bisnis dan kalangan tertentu.  Paradigma ini harus segera kita rubah bahwa pengelolaan sumberdaya alam yang menyangkut hajat hidup orang banyak harus bertujuan untuk kemakmuran dan kesejahteraan seluruh masyarakat Indonesia. Salah satu caranya dengan menjalankan prinsip-prinsip transparansi disektor kehutanan.

Bantu kami dengan cara menandatangani petisi ini agar KLHK mau menerapkan prinsip trasnparansi dan mematuhi putusan PTUN.

“Hutan Sumber Air, Hutan Sumber Hidup, Hutan Milik Warga”

#StopDeforestasi #BukaInformasi

Forest Watch Indonesia (FWI)

Link Berita Terkait:

http://www.mongabay.co.id/2015/05/08/menang-sengketa-informasi-atas-klhk-fwi-sepatutnya-keterbukaan-informasi-ditegakkan/

http://www.gresnews.com/berita/hukum/932116-tolak-beri-informasi-dan-ajukan-banding-kementerian-kehutanan-dikecam/0/



Hari ini: Forest Watch Indonesia mengandalkanmu

Forest Watch Indonesia membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "Presiden @jokowi Menteri @bravonur, #BukaInformasi Publik di Sektor Kehutanan". Bergabunglah dengan Forest Watch Indonesia dan 138 pendukung lainnya hari ini.