Percepat Pengumuman dan Perbaiki Carut Marut Akreditasi Jurnal Ilmiah Indonesia!

Penandatangan terbaru:
Jurnal Pakem dan 17 lainnya baru saja menandatanganinya.

Masalahnya

Sistem Akreditasi Jurnal Ilmiah Indonesia tampaknya sedang tidak dalam kondisi yang baik. Hampir satu tahun sejak pengajuan akreditasi jurnal untuk tahun 2025, namun hasilnya belum diumumkan secara menyeluruh. Proses yang lama dan tidak jelas ini semakin menambah kegelisahan para pengelola jurnal di Indonesia. Dalam beberapa waktu terakhir, banyak protes dan keluhan muncul terkait sistem akreditasi yang seharusnya menjadi prioritas penting bagi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Masalah yang paling mendasar adalah lamanya proses akreditasi yang telah berlangsung hampir setahun. Sampai saat ini, belum semua jurnal yang mengajukan akreditasi mendapatkan hasilnya. Banyak pengelola jurnal yang merasa kebingungan, karena proses yang seharusnya sudah selesai justru terhambat tanpa ada kejelasan mengenai kapan hasil evaluasi akan diumumkan.

Selain itu, transparansi dan konsistensi dalam sistem akreditasi juga semakin merosot. Dulu, informasi terkait pengajuan dan hasil akreditasi jurnal bisa diakses dengan jelas melalui laman ARJUNA. Pengelola jurnal dapat mengetahui kapan jurnal mereka diajukan, berapa skor evaluasi diri yang diperoleh, dan peringkat yang diharapkan. Namun, setelah beberapa hasil akreditasi diumumkan, banyak kejanggalan yang muncul. Salah satunya adalah jurnal yang diajukan pada Periode 3 namun hasilnya diumumkan dalam SK Periode 2. Tidak hanya itu, terdapat pula jurnal yang seharusnya belum memenuhi kriteria tinggi berdasarkan evaluasi diri, tetapi ternyata mendapatkan peringkat 2. Hal-hal semacam ini tentunya memunculkan keraguan terhadap konsistensi dan keadilan dalam penilaian.

Proses yang lambat ini semakin mencolok ketika dibandingkan dengan sistem akreditasi internasional. Di sistem indeksasi internasional seperti Scopus, jurnal-jurnal dari seluruh dunia dievaluasi dalam waktu yang relatif cepat—beberapa di antaranya bahkan hanya memerlukan waktu beberapa bulan, atau hanya satu bulan untuk tahap tertentu. Sebaliknya, di Indonesia, proses akreditasi jurnal seakan-akan tidak mengalami perkembangan yang signifikan meski sudah lebih dari satu tahun.

Melalui petisi ini, saya mengajak seluruh pengelola jurnal di Indonesia untuk bersama-sama menyuarakan harapan agar pemerintah segera mempercepat proses akreditasi jurnal yang tertunda, serta memastikan sistem ini dijalankan dengan transparansi, konsistensi, dan efisiensi waktu yang lebih baik. Kami meminta agar pengumuman hasil akreditasi tahun 2025 dilakukan secara serentak dan menyeluruh, bukan secara bertahap yang justru memunculkan kecurigaan baru.

Jika sistem akreditasi ini terus berjalan seperti ini, tidak hanya akan mengganggu kredibilitas jurnal ilmiah Indonesia, tetapi juga akan merugikan komunitas akademik secara keseluruhan. Oleh karena itu, kami mendesak pihak terkait untuk segera mengambil langkah nyata untuk memperbaiki sistem akreditasi jurnal di Indonesia, sehingga dapat menjaga kepercayaan dan integritas dunia akademik di tanah air.

avatar of the starter
Ada ApaPembuka Petisi

554

Penandatangan terbaru:
Jurnal Pakem dan 17 lainnya baru saja menandatanganinya.

Masalahnya

Sistem Akreditasi Jurnal Ilmiah Indonesia tampaknya sedang tidak dalam kondisi yang baik. Hampir satu tahun sejak pengajuan akreditasi jurnal untuk tahun 2025, namun hasilnya belum diumumkan secara menyeluruh. Proses yang lama dan tidak jelas ini semakin menambah kegelisahan para pengelola jurnal di Indonesia. Dalam beberapa waktu terakhir, banyak protes dan keluhan muncul terkait sistem akreditasi yang seharusnya menjadi prioritas penting bagi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Masalah yang paling mendasar adalah lamanya proses akreditasi yang telah berlangsung hampir setahun. Sampai saat ini, belum semua jurnal yang mengajukan akreditasi mendapatkan hasilnya. Banyak pengelola jurnal yang merasa kebingungan, karena proses yang seharusnya sudah selesai justru terhambat tanpa ada kejelasan mengenai kapan hasil evaluasi akan diumumkan.

Selain itu, transparansi dan konsistensi dalam sistem akreditasi juga semakin merosot. Dulu, informasi terkait pengajuan dan hasil akreditasi jurnal bisa diakses dengan jelas melalui laman ARJUNA. Pengelola jurnal dapat mengetahui kapan jurnal mereka diajukan, berapa skor evaluasi diri yang diperoleh, dan peringkat yang diharapkan. Namun, setelah beberapa hasil akreditasi diumumkan, banyak kejanggalan yang muncul. Salah satunya adalah jurnal yang diajukan pada Periode 3 namun hasilnya diumumkan dalam SK Periode 2. Tidak hanya itu, terdapat pula jurnal yang seharusnya belum memenuhi kriteria tinggi berdasarkan evaluasi diri, tetapi ternyata mendapatkan peringkat 2. Hal-hal semacam ini tentunya memunculkan keraguan terhadap konsistensi dan keadilan dalam penilaian.

Proses yang lambat ini semakin mencolok ketika dibandingkan dengan sistem akreditasi internasional. Di sistem indeksasi internasional seperti Scopus, jurnal-jurnal dari seluruh dunia dievaluasi dalam waktu yang relatif cepat—beberapa di antaranya bahkan hanya memerlukan waktu beberapa bulan, atau hanya satu bulan untuk tahap tertentu. Sebaliknya, di Indonesia, proses akreditasi jurnal seakan-akan tidak mengalami perkembangan yang signifikan meski sudah lebih dari satu tahun.

Melalui petisi ini, saya mengajak seluruh pengelola jurnal di Indonesia untuk bersama-sama menyuarakan harapan agar pemerintah segera mempercepat proses akreditasi jurnal yang tertunda, serta memastikan sistem ini dijalankan dengan transparansi, konsistensi, dan efisiensi waktu yang lebih baik. Kami meminta agar pengumuman hasil akreditasi tahun 2025 dilakukan secara serentak dan menyeluruh, bukan secara bertahap yang justru memunculkan kecurigaan baru.

Jika sistem akreditasi ini terus berjalan seperti ini, tidak hanya akan mengganggu kredibilitas jurnal ilmiah Indonesia, tetapi juga akan merugikan komunitas akademik secara keseluruhan. Oleh karena itu, kami mendesak pihak terkait untuk segera mengambil langkah nyata untuk memperbaiki sistem akreditasi jurnal di Indonesia, sehingga dapat menjaga kepercayaan dan integritas dunia akademik di tanah air.

avatar of the starter
Ada ApaPembuka Petisi

Pengambil Keputusan

Prof. Dr. Muhadjir Effendy
Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia
Partai Gerindra
Partai Gerindra
Perkembangan terakhir petisi