Selamatkan Rimba Terakhir Lompobattang-Bawakaraeng!

0 telah menandatangani. Mari kita ke 25.000.


Pernah dengar binatang namanya Anoa, gak? Dia adalah binatang endemik dari Sulawesi. Artinya, gak bisa ditemukan di tempat lainnya.

Dulu, jejak-jejak anoa masih bisa ditemukan di sekitar kampung Ma’ra dan Tahura Abdul Latief. Bahkan bisa kita lihat di sekitar kebun dan pemukiman warga. Tapi, sejak aktivitas manusia mulai intens di kawasan tersebut, jejak anoa cuma bisa ditemukan jauh di hutan alam Lompobattang-Bawakaraeng. Soalnya, anoa emang sensitif terhadap manusia. 

Kini, kondisi anoa makin terancam. Rumah mereka yang tersisa di Tahura Abdul Latief itu sedang dibangun bumi perkemahan dan jalur sepeda gunung. Kalau habitatnya dirusak, situasi anoa yang udah masuk kategori terancam punah, makin terancam, dong? 

Saat ini, 1,2 Ha vegetasi alam telah diubah bentang alamnya menjadi terasering untuk bumi perkemahan. Terdapat jalan rintisan sepanjang 400 m dengan lebar 3 m menuju lokasi tersebut, dengan kemiringan sampai 17 derajat, dan berada di sisi jurang yang rawan longsor. Selain itu, Bupati Sinjai juga membangun jalur sepeda gunung yang menjamah keaslian hutan alam yang tersisa di kawasan tersebut sepanjang 2 km dengan lebar jalur 2 m. 

Jika mengacu pada desain tapak pengembangan Tahura yang digagas pemerintah Kab. Sinjai, masih ada beberapa fasilitas yang akan dibangun, seperti outbond dan pojok kuliner. Berarti, kawasan konservasi yang seharusnya memprioritaskan anoa akan kembali kehilangan hutan alam dan semakin menyempitkan habitat anoa

Selain merugikan anoa, masyarakat di sekitar sana juga terancam. Kawasan ini merupakan daerah hulu dari beberapa sungai yang melintasi Kabupaten Sinjai dan Kabupaten Bulukumba. Ia merupakan sumber air bersih dan penyangga utama pengairan pertanian masyarakat. Kalau sampai rusak, masyarakat bisa kekurangan air bersih.

Ditambah lagi, berdasarkan hasil penelitian, kawasan ini juga masuk ke kategori rawan longsor. Apalagi, kalau diperhatikan tingkat curah hujan, kondisi geografis lereng pegunungan, serta jenis tanahnya.

Makanya, kami minta Bupati Sinjai Andi Seto Gadista Asafa  supaya memberhentikan proyek bumi perkemahan dan trek sepeda gunung ini. 

Sudah jelas, pembangunan yang sedang berlangsung di Tahura Abdul Latief Sinjai ini untuk kepentingan segelintir elit. Tanpa adanya pertimbangan untuk kelestarian lingkungan, potensi bencana longsor, kekeringan dan kebakaran hutan, serta mengabaikan keberadaan anoa sebagai prioritas konservasi pada kawasan tersebut. 

Bantu tanda tangani petisi ini dan sebarkan ke teman-temanmu, ya.

Salam,

Aliansi Tahura Menggugat