JAGA GEDONG CAI TJIBADAK DEMI KEMASLAHATAN DUNIA


JAGA GEDONG CAI TJIBADAK DEMI KEMASLAHATAN DUNIA
Masalahnya
Hawe Setiawan
Terkepung perumahan elite, kondotel, dan berbagai hunian mewah lainnya, kawasan mata air Cibadak di Jalan Cidadap Girang, RT 3, RW 5, Kelurahan Ledeng, Kecamatan Cidadap, Kota Bandung seperti tengah menunggu ajalnya.
Urat-urat tembok kokoh para pengembang atau pengusaha properti semakin mendesak mata air yang instalasi penampungannya dikenal warga sebagai Gedong Cai tersebut. Pun demikian, ekosistem di sekitarnya.
Bangunan bercat putih itu begitu kentara tuanya. Pada fasadnya tertulis, "Tjibadak-1921". Dengan mengacu pada tanggal peresmian pada pada muka bangunan, usianya tahun ini genap 100 tahun.
Suara gemuruh air yang tertampung di bangunan disebut Gedong Cai oleh warga itu juga terdengar kala berdiri di dekatnya. Sayangnya, keberadaan Gedong Cai yang merupakan salah satu pemasok air PDAM Tirtawening Kota Bandung itu kini terancam.
Tengoklah di sekeliling instalasi penampung air tersebut. Tembok-tembok kokoh pengembang sebagai pembatas wilayah telah memagarinya.
Perumahan-perumahan elite dan kondotel ikut mengepung bangunan penampungan air dari berbagai seke atau mata air kawasan Cibadak. Saat disambangi Minggu 26 September 2021, terlihat barikade berbagai bangunan terhadap kawasan mata air Cibadak. Pagar-pagar kokoh bahkan memanjang hingga ke lembah Sungai Cipaganti di bawahnya.
Budi Nugraha, perwakilan Pemuda RW 5 yang bermukim tidak jauh dari lokasi khawatir akan nasib mata air Cibadak.
Kelestariannya semakin terancam seiring menciutnya kawasan ekosistem Gedong Cai karena kehadiran berbagai bangunan elite serta proyek-proyek properti.
Saat ini, luas area mata air Cibadak tinggal tersisa sekira dua hektare. Keberadaannya belum terganggu karena statusnya milik PDAM atau Pemkot Bandung. Area tersebut terdiri atas hutan dan kebun.
"Dulu ada 7 mata air yang dikelola PDAM, sekarang tinggal 3," kata Budi.
Ancaman hilangnya mata air terjadi lantaran lahan-lahan warga di sekitar Gedong Cai sudah berpindah tangan alias dijual ke pengembang.
Ia mencontohkan adanya satu kondotel yang menguasai lahan satu hektare di dekat lokasi tersebut. Tak hanya itu, sempat pula ada rencana pembangunan jalan tembus yang memapas kawasan mata air itu.
Rencana itu menuai penolakan sejumlah warga. Tak pelak, sejumlah warga yang memperjuangkan kelestarian mata air Cibadak berkeinginan agar status Gedong Cai menjadi cagar budaya.
Keinginan tersebut juga didukung usia Gedong Cai yang telah mencapai satu abad pada 2021. Meski demikian, status itu juga disertai perlindungan ekosistem lingkungannya.
Hal senada dikemukakan Yadi Supriyadi, Ketua Komunitas Cinta Alam Indonesia (CAI). Yadi mengungkapkan, debit air Cibadak yang dulunya mencapai 50 liter per detik, kini tinggal 19 liter perdetik.
Sementara itu, budayawan yang juga dosen Universitas Pasundan Hawe Setiawan mengungkapkan pentingnya menjaga kelestarian mata air Cibadak.
Soalnya, ada puluhan seke serta beragam flora dan fauna yang hidup di kawasan itu.
Hawe merujuk catatan para pegiat CAI terkait kekayaan flora fauna di sana. Kawasan tersebut menjadi habitat bagi satwa semacam lasun, careuh, peusing, meong congkok, hahayaman, landak, heulang, beo, manuk haur, cangkurileung, jogjog, cikblek, kacamata, saeran gunting, cikakeh, manuk madu, tikukur, puter, kalajengking hejo, sero, bayawak, beunteur, lauk sapu (warna pink), udang walungan, torop, monyet ekor panjang, bajing kelemes.
Kawasan itu juga tempat tumbuhnya beragam vegetasi tumbuhan seperti awi/bambu dengan 32 jenis, dadap (3 jenis), asret (4), somsi (5), jati bodas, mahoni (7), loa (8), cangkring (9), caringin (10), patrakomala (11), tarum (12), katapang (13), kopi (14), rambutan (15), lengkeng (16), peuteuy/petai (17), jengkol (18), huni (19) cereme (20), sawo (21), harendong.
Toponimi
Nama kawasan Ledeng tak bisa dilepaskan dari kehadiran Gedong Cai Cibadak. Hawe mengatakan 'Ledeng' berasal dari istilah waterleiding yang dalam bahasa Belanda secara harfiah berarti 'saluran air' atau 'pemasok air'
Menurut Soendasch Woordenboek (1931) susunan L.A. Lezer, padanan istilah waterleiding dalam bahasa Sunda adalah 'ledeng'.
Dengan demikian, nama Ledeng berasal dari keberadaan instalasi penampung dan penyalur air itu.
Hawe juga mengacu peresmian instalasi air Cibadak berita singkat dalam suratkabar Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indié edisi 31 Desember 1921, yang bersumber dari Kantor Berita Aneta.
Berita tersebut mengungkapkan sumbangan sumber air Cibadak bagi Bandung, "Kemarin pagi mata air Cibadak yang terletak di atas Bandung resmi digunakan untuk suplai air, dan sehubungan dengan itu dilakukan kunjungan pejabat kota ke sana. Walikota dan direktur lembaga pemasok air menyampaikan kata sambutan. Bandung saat ini memiliki surplus air 80 persen,"
Instalasi pemasok air Cibadak dibangun pada zaman Bandung dipimpin wali kota SA Reitsma. Pembangunan instalasi itu dilakukan di bawah arahan Ir Heetjans.
Keberadaan puluhan seke di Cibadak juga punya nilai penting untuk dijaga kelestariannya. Istilahnya seke yang dalam bahasa Sunda mengandung sedikitnya dua arti.
Pertama, mata air. Kedua, anak cucu atau keturunan. Dalam arti yang pertama, istilah itu terabadikan dalam banyak toponimi di Bandung seperti Sekeloa, Sekejati, Sekejolang, Sekelimus, Sekepanjang.
Sementara arti kedua, istilah yang sama terungkapkan dalam sebutan, misalnya, seke seler Prabu Siliwangi.
Oleh karena itu, telah menjadi kearifan tersendiri dalam kehidupan di Tatar Sunda mengaitkan pemeliharaan dan perlindungan seke dengan tanggung jawab menjamin hari depan bagi generasi mendatang.
Masalahnya
Hawe Setiawan
Terkepung perumahan elite, kondotel, dan berbagai hunian mewah lainnya, kawasan mata air Cibadak di Jalan Cidadap Girang, RT 3, RW 5, Kelurahan Ledeng, Kecamatan Cidadap, Kota Bandung seperti tengah menunggu ajalnya.
Urat-urat tembok kokoh para pengembang atau pengusaha properti semakin mendesak mata air yang instalasi penampungannya dikenal warga sebagai Gedong Cai tersebut. Pun demikian, ekosistem di sekitarnya.
Bangunan bercat putih itu begitu kentara tuanya. Pada fasadnya tertulis, "Tjibadak-1921". Dengan mengacu pada tanggal peresmian pada pada muka bangunan, usianya tahun ini genap 100 tahun.
Suara gemuruh air yang tertampung di bangunan disebut Gedong Cai oleh warga itu juga terdengar kala berdiri di dekatnya. Sayangnya, keberadaan Gedong Cai yang merupakan salah satu pemasok air PDAM Tirtawening Kota Bandung itu kini terancam.
Tengoklah di sekeliling instalasi penampung air tersebut. Tembok-tembok kokoh pengembang sebagai pembatas wilayah telah memagarinya.
Perumahan-perumahan elite dan kondotel ikut mengepung bangunan penampungan air dari berbagai seke atau mata air kawasan Cibadak. Saat disambangi Minggu 26 September 2021, terlihat barikade berbagai bangunan terhadap kawasan mata air Cibadak. Pagar-pagar kokoh bahkan memanjang hingga ke lembah Sungai Cipaganti di bawahnya.
Budi Nugraha, perwakilan Pemuda RW 5 yang bermukim tidak jauh dari lokasi khawatir akan nasib mata air Cibadak.
Kelestariannya semakin terancam seiring menciutnya kawasan ekosistem Gedong Cai karena kehadiran berbagai bangunan elite serta proyek-proyek properti.
Saat ini, luas area mata air Cibadak tinggal tersisa sekira dua hektare. Keberadaannya belum terganggu karena statusnya milik PDAM atau Pemkot Bandung. Area tersebut terdiri atas hutan dan kebun.
"Dulu ada 7 mata air yang dikelola PDAM, sekarang tinggal 3," kata Budi.
Ancaman hilangnya mata air terjadi lantaran lahan-lahan warga di sekitar Gedong Cai sudah berpindah tangan alias dijual ke pengembang.
Ia mencontohkan adanya satu kondotel yang menguasai lahan satu hektare di dekat lokasi tersebut. Tak hanya itu, sempat pula ada rencana pembangunan jalan tembus yang memapas kawasan mata air itu.
Rencana itu menuai penolakan sejumlah warga. Tak pelak, sejumlah warga yang memperjuangkan kelestarian mata air Cibadak berkeinginan agar status Gedong Cai menjadi cagar budaya.
Keinginan tersebut juga didukung usia Gedong Cai yang telah mencapai satu abad pada 2021. Meski demikian, status itu juga disertai perlindungan ekosistem lingkungannya.
Hal senada dikemukakan Yadi Supriyadi, Ketua Komunitas Cinta Alam Indonesia (CAI). Yadi mengungkapkan, debit air Cibadak yang dulunya mencapai 50 liter per detik, kini tinggal 19 liter perdetik.
Sementara itu, budayawan yang juga dosen Universitas Pasundan Hawe Setiawan mengungkapkan pentingnya menjaga kelestarian mata air Cibadak.
Soalnya, ada puluhan seke serta beragam flora dan fauna yang hidup di kawasan itu.
Hawe merujuk catatan para pegiat CAI terkait kekayaan flora fauna di sana. Kawasan tersebut menjadi habitat bagi satwa semacam lasun, careuh, peusing, meong congkok, hahayaman, landak, heulang, beo, manuk haur, cangkurileung, jogjog, cikblek, kacamata, saeran gunting, cikakeh, manuk madu, tikukur, puter, kalajengking hejo, sero, bayawak, beunteur, lauk sapu (warna pink), udang walungan, torop, monyet ekor panjang, bajing kelemes.
Kawasan itu juga tempat tumbuhnya beragam vegetasi tumbuhan seperti awi/bambu dengan 32 jenis, dadap (3 jenis), asret (4), somsi (5), jati bodas, mahoni (7), loa (8), cangkring (9), caringin (10), patrakomala (11), tarum (12), katapang (13), kopi (14), rambutan (15), lengkeng (16), peuteuy/petai (17), jengkol (18), huni (19) cereme (20), sawo (21), harendong.
Toponimi
Nama kawasan Ledeng tak bisa dilepaskan dari kehadiran Gedong Cai Cibadak. Hawe mengatakan 'Ledeng' berasal dari istilah waterleiding yang dalam bahasa Belanda secara harfiah berarti 'saluran air' atau 'pemasok air'
Menurut Soendasch Woordenboek (1931) susunan L.A. Lezer, padanan istilah waterleiding dalam bahasa Sunda adalah 'ledeng'.
Dengan demikian, nama Ledeng berasal dari keberadaan instalasi penampung dan penyalur air itu.
Hawe juga mengacu peresmian instalasi air Cibadak berita singkat dalam suratkabar Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indié edisi 31 Desember 1921, yang bersumber dari Kantor Berita Aneta.
Berita tersebut mengungkapkan sumbangan sumber air Cibadak bagi Bandung, "Kemarin pagi mata air Cibadak yang terletak di atas Bandung resmi digunakan untuk suplai air, dan sehubungan dengan itu dilakukan kunjungan pejabat kota ke sana. Walikota dan direktur lembaga pemasok air menyampaikan kata sambutan. Bandung saat ini memiliki surplus air 80 persen,"
Instalasi pemasok air Cibadak dibangun pada zaman Bandung dipimpin wali kota SA Reitsma. Pembangunan instalasi itu dilakukan di bawah arahan Ir Heetjans.
Keberadaan puluhan seke di Cibadak juga punya nilai penting untuk dijaga kelestariannya. Istilahnya seke yang dalam bahasa Sunda mengandung sedikitnya dua arti.
Pertama, mata air. Kedua, anak cucu atau keturunan. Dalam arti yang pertama, istilah itu terabadikan dalam banyak toponimi di Bandung seperti Sekeloa, Sekejati, Sekejolang, Sekelimus, Sekepanjang.
Sementara arti kedua, istilah yang sama terungkapkan dalam sebutan, misalnya, seke seler Prabu Siliwangi.
Oleh karena itu, telah menjadi kearifan tersendiri dalam kehidupan di Tatar Sunda mengaitkan pemeliharaan dan perlindungan seke dengan tanggung jawab menjamin hari depan bagi generasi mendatang.
Petisi ditutup
Sebarkan petisi ini
Perkembangan Terakhir Petisi
Bagikan petisi ini
Petisi dibuat pada 27 September 2021