BPJS Kesehatan Jangan Sampai Mati

0 telah menandatangani. Mari kita ke 5.000.


“Bubarkan BPJS Kesehatan!”

Mereka yang kencang berteriak seperti itu, mungkin tidak pernah merasakan nyawanya jadi taruhan. Mereka tidak tahu, ada banyak orang yang batal menggadaikan rumah atau tanah mereka untuk membayar operasi jantung berkat BPJS Kesehatan.

Mereka tidak paham ada keluarga nelayan yang menangis lega saat tahu ayah mereka, seorang tulang punggung keluarga, bisa terbebas dari himpitan biaya cuci darah seumur hidup karena sudah ditanggung BPJS Kesehatan.

Ada ibu pencuci baju yang berdoa setiap malam agar Program JKN yang dikelola BPJS Kesehatan bisa terus berjalan, karena hidup anaknya bergantung pada obat hemofilia yang harga satu ampulnya bisa mencapai belasan juta.

Setiap harinya, ada ratusan ribu peserta BPJS Kesehatan yang mengakses layanan di seluruh Indonesia.

BPJS Kesehatan telah menjadi tumpuan banyak orang karena telah menyelamatkan mereka dari jeratan mahalnya biaya berobat.

Sekarang sudikah kita ganti menyelamatkan BPJS Kesehatan?

Dari awal, Program JKN ini sudah berjalan tertatih-tatih karena iuran yang ditetapkan belum sesuai dengan perhitungan yang seharusnya. Bahkan iuran BPJS Kesehatan dibilang sebagai iuran jaminan kesehatan termurah sedunia. Negara-negara lain sampai kaget. Berani-beraninya memberikan manfaat jaminan kesehatan yang sedemikian besar dengan iuran serendah itu. Karena besaran iuran BPJS Kesehatan belum ideal sampai dengan sekarang, maka defisitnya pun membengkak dari tahun ke tahun.

Di sisi lain, ada mereka yang mampu beli rokok sebungkus tiap hari, mampu beli kopi St*rb*ck tiap hari, mampu beli barang-barang branded, tapi giliran ditagih bayar iuran BPJS Kesehatan, bilangnya nggak punya duit. “Nggak pernah dipakai, ngapain bayar?” kata mereka. Lha, terus BPJS Kesehatan bayar rumah sakit pakai duit siapa kalau bukan pakai iuran peserta yang sehat?

Ada juga mereka yang dari sisi finansial sudah sangat mapan, sangat mampu untuk bayar iuran peserta BPJS Kesehatan kelas 1, tapi malah memilih kelas 3. “Kalau sakit terus dirawat, kan gampang tinggal naik kelas ke VIP saja,” katanya. Ada yang di halaman rumahnya berjejer mobil, tapi ngotot minta surat keterangan tidak mampu agar bisa jadi peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) yang iuran BPJS Kesehatannya ditanggung pemerintah.

Kasihan masyarakat. Sudah pembayaran  BPJS Kesehatan yang sekarang masih bermasalah, ditambah lagi harus menghadapi attitude sejumlah orang bermental kere seperti itu. Karena nggak ada duit buat bayar rumah sakit, pelayanan di rumah sakit jadi terhambat, imbasnya pun dirasakan peserta. Salah siapa?

Intinya, masalahnya BPJS Kesehatan ini ada di besaran iuran. Bahkan seandainya seluruh peserta JKN-KIS sudah rajin bayar iuran pun, kalau besarannya masih segitu-segitu saja, masih tetap tidak akan cukup untuk menutup biaya pelayanan kesehatan untuk peserta yang sakit.

Sekarang iuran mau dinaikkan. Tujuannya agar Program JKN ini bisa terus berjalan dengan semestinya, tidak membawa beban defisit yang terus menggunung jika dibiarkan.

“Naiknya nggak kira-kira, dua kali lipat!”

Jangan salah. Untuk iuran kelas 3, sebenarnya tidak sampai 2.000 rupiah per hari. Sama seperti bayar parkir motor atau ke toilet. Bahkan kelas 1, iurannya tidak lebih dari 5.000 rupiah per hari. Bandingkan dengan buat beli rokok per hari yang bisa menghabiskan lebih dari 5.000 rupiah. Dan lagi, besaran iuran BPJS Kesehatan yang akan ditetapkan nanti, tidak sebanding dengan besarnya manfaat yang dirasakan masyarakat.

Jadi, please buka pikiran kita seluas-luasnya. Jangan egois, jangan memilih bungkam. Kita punya suara untuk menyelamatkan BPJS Kesehatan. Satu klik dari kamu yang ikut mendukung petisi ini, menentukan masa depan jutaan orang yang menggantungkan hidup mereka pada keberlangsungan program ini.