Tuntutan #ClimateJustice4Kalimantan: Selesaikan 22 tahun Karhutla Borneo!

0 telah menandatangani. Mari kita ke 35.000.


("#ClimateJustice4Kalimantan: End the 22 years of Borneo Forest Fire now!" English translations can be found below)

Tahukah kamu bahwa dalam kurun waktu 50 tahun, sekitar 7.000.000 hektar HUTAN Borneo terbakar habis? (CIFOR).

Tahukah kamu bahwa masyarakat Kalimantan telah menghirup asap beracun dari karhutla selama 3-5 bulan setiap tahunnya, sejak tahun 1997?

Sudah terlalu lama para pemimpin negeri ini berdiam diri tanpa melakukan sesuatu untuk menghentikan perubahan iklim, menyelamatkan hutan Kalimantan dan melindungi nyawa serta masa depan anak-anak Kalimantan.

Kami, orang-orang muda Kalimantan, seiring dengan gerakan #GlobalClimateStrike di seluruh dunia menjalankan KALIMANTAN CLIMATE STRIKE 20-27 SEPT untuk menuntut agar para pemimpin:

Para Gubernur Kalimantan, Presiden RI Pak Jokowi, Menteri KLHK Ibu Siti Nurbaya Bakar, segera memberikan keadilan iklim bagi Kalimantan!

Tiga tuntutan #ClimateJustice4Kalimantan : 

1. Tindak tegas KORPORASI perusak lingkungan Kalimantan!

Per September 2019, terdapat lebih dari 30.000 titik api di seluruh pulau Kalimantan. Lokasi kebakaran pun terorganisir. Banyak perusahaan yang telah terbukti membakar untuk perkebunan, namun tidak ada tindakan tegas maupun sanksi sama sekali. Wahai pemimpin negeri, Kami tidak butuh janji kalian; kami butuh TINDAKAN NYATA kalian dengan menghukum perusahaan yang terbukti bersalah. Umumkan nama-nama perusahaan tersebut dan buat mereka bertanggung jawab atas kerusakan yang telah diperbuat. Percuma bicara tentang kedaulatan bangsa kalau kalian tidak mampu mengatasi para perusak lingkungan ini. Berikan kami #KeadilanIklim sekarang.

2. Lindungi Pendidikan dan Kesehatan kami dengan menyediakan RUANG BEBAS ASAP di sekolah-sekolah.

Batas aman partikel polutan PM2.5 Nasional adalah 65 ug/m³, sementara pada tanggal 15 September 2019 angka PM2.5 di kota Palangkaraya mencapai 9821.01 ug/m³. Ini merupakan 150 kali lipat dari batas aman. Dampak dari menghirup PM2.5 dalam jangka waktu yang lama adalah berbagai masalah kesehatan; ISPA, diare, kerusakan paru-paru dan kanker nasofaring. Kami telah melihat sendiri bayi, anak-anak kecil dan orang tua meninggal akibat kabut asap. Sekolah-sekolah pun di tutup. Kami harus mengorbankan pendidikan kami. Ini adalah hak kami untuk mendapatkan perlindungan kesehatan yang layak! Berikan kami RUANG BEBAS ASAP di sekolah, sehingga kami tetap mendapatkan hak untuk pendidikan dan kesehatan secara bersamaan. Lindungi masa depan generasi kami.

3. STOP mengkambinghitamkan peladang atau petani lokal!

Dari tahun ke tahun petani Dayak selalu ditempatkan sebagai pelaku pembakaran. Bagaimana dengan korporasi yang menginvasi hutan dan masyarakat adat Kalimantan? Siapa yang sesungguhnya membakar ratusan hektar untuk perkebunan? Kami melihat ayah, paman dan saudara-saudara kami ditangkap dan terancam 10 tahun penjara demi sesuap nasi dan membayar biaya pendidikan kami. Kamilah yang pertama kali memadamkan api di depan mata karena hutan dan ladang adalah sumber kehidupan kami. . Begitu banyak petani lokal yang menderita karena karhutla, kehilangan kebun dan pohon karet yang sudah susah payah dijaga selama bertahun-tahun, namun mereka tetap disalahkan atas segala sesuatu. Kami menuntut pemerintah untuk meminta maaf secara terbuka kepada petani dan peladang, khususnya para petani Dayak.

Sekali lagi,

Kepada para Gubernur Kalimantan;

Kalimantan Tengah: Pak Sugianto Sabran,

Kalimantan Barat: Pak Sutarmidji,

Kalimantan Selatan: Pak Sahbirin Noor,

Kalimantan Timur: Pak Isran Noor,

Kalimantan Utara: Pak Irianto Lambrie,

Serta Pak Presiden RI JOKO WIDODO dan Bu Menteri KHLK SITI NURBAYA BAKAR

Kami, gerakan KALIMANTAN CLIMATE STRIKE menuntut dipenuhinya 3 tuntutan #ClimateJustice4Kalimantan: Selesaikan 22 tahun Karhutla Borneo, sebelum akhir Oktober!

SEGERA akui kesalahan pemerintah dalam penanggulangan dan pencegahan kebakaran hutan yang GAGAL dan laksanakan kewajiban kalian.

Atas nama pelajar dan orang muda Kalimantan.

Kami adalah masa depan kalian. 

Bergabunglah bersama kami di #KalimantanClimateStrike!

--------------------------

#ClimateJustice4Kalimantan: End the 22 years of Borneo Forest Fire now!

---------------------------

Do you know for 50 years until now, around 7 MILLION hectares of Borneo forests have been burnt? (atlas.cifor.org)

And do you know that the people of Kalimantan have been inhaling toxic smoke haze for 3-5 months every year, since 1997?

It’s been a long time that the leaders of this nation keep silent and do nothing to prevent climate change, save Kalimantan forests and protect people’s lives and children’s future. 

We, the youth of Kalimantan are in collective solidarity for KALIMANTAN CLIMATE STRIKE 20 - 27 SEPT to demand that the government: all Kalimantan Governors, President Jokowi, The Ministry of Environment and Forestry Mrs. Siti Nurbaya Bakar to give CLIMATE JUSTICE to Kalimantan IMMEDIATELY.

Three demands of #ClimateJustice4Kalimantan:

1. Release the NAME LIST OF THE COMPANIES that are responsible for fires to public and hold them to account. They are ENVIRONMENT DESTROYERS!

As per September 2019, there are more than 3000 hotspots (LAPAN) throughout the Kalimantan island! The fire locations are organized. There are many companies have been proven to cause the fires for plantation, yet there is no any single publication and punishment. We don't need your vows; we need your actions by punishing the companies that are proven guilty. ANNOUNCE THE NAMES, make them RESPONSIBLE for the damage they have caused. No need to talk about the dignity of the country if you are not able to defeat these destroyers. Give us #ClimateJustice now.

2. Protect our education and health by providing Haze Shelter in schools 

Public don’t know what PM2.5 is. Indonesia’s PM2.5 safe limit is 65 ug/m³, yet on 15 September 2019, the PM2.5 in Palangkaraya city reached 9821.01 ug/m³! It’s 150 times higher. The effects of inhaling PM2.5 over a long period are various health problems; URI (Upper Respiratory Tract Infection), diarrhea, lung failure and even Nasopharynx cancer. We have seen by our own eyes the babies, children and elders die. The schools are closed. It is our rights to get proper health protection and the government MUST give it! By providing HAZE SHELTER (not house of oxygen, but clean room) in schools, we won’t sacrifice our education. We have rights to get education and be healthy at the same time. Protect the future of our generation.

3. STOP blaming the local farmers as the causes of fires

From year to year, as the forest fire and smoke haze crisis gets bigger, DAYAK FARMERS are framed as the main culprit of the mega-fires. But what about corporations that invaded the forests and indigenous peoples of Kalimantan? Who is clearing the land for plantation? First, the government ban them from doing their indigenous tradition. Second, they got often criminalized and threaten to be jailed up to 10 years. Farmers are not criminals. They are ones who protect the environment, as that is their resources of livelihood. We have seen so many farmers suffer because of fires burning their garden, yet they are blamed for everything. We demand government to release official apologize to farmers, especially Dayak farmers, publicly. 

ONCE AGAIN, 

To ALL Kalimantan Governors;

1. SUGIANTO SABRAN (Central Kalimantan),

2. SUTARMIDJI (West Kalimantan),

3. SAHBIRIN NOOR (South Kalimantan),

4. ISRAN NOOR (East Kalimantan),

5. IRIANTO LAMBRIE (North Kalimantan)

Also to PRESIDENT JOKO WIDODO and Minister of Forestry and Environment SITI NURBAYA BAKAR

We, KALIMANTAN CLIMATE STRIKE demand YOUR ACTION  to fulfill the demands of #ClimateJustice4Kalimantan: End the 22 years of Borneo Forest Fires Now! before the end of October. 

Students, youth and the indigenous communities of Kalimantan. 

We are the FUTURE. 

Join us in #KalimantanClimateStrike!