Cari dan Temukan Ayah saya

Masalahnya

Bapak Presiden, 

Apa kabar? Semoga sehat selalu ya. Saya Novridaniar Dinis Puspahati Muhyidin, biasa disapa Dinis. Begini, Pak. Saat berusia 2 tahun, saya kehilangan ayah yang bernama Yadin Muhidin. Tiba-tiba hilang bersama 12 aktivis lainnya. Kabarnya dihilangkan oleh aparat keamanan negara. Saya menulis surat ini tanpa niat apa-apa kecuali meminta Bapak tentang satu hal: mencari kejelasan nasib atau keberadaan ayah saya.

Saya gembira membaca pernyataan bapak dalam peringatan Hari HAM se-dunia tahun 2014 ini. Bapak secara tegas mengatakan: “Pemerintah berkomitmen menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM pada masa lalu secara berkeadilan." Bahkan peringatan kali ini tergolong istimewa, karena bapak Presiden merayakannya di Gedung Senisono Istana Kepresidenan Yogyakarta, Selasa (9/12/2014), seperti dikutip Antara.

Nah, saya berharap sekali penyelesaian kasus-kasus tersebut termasuk untuk mencari kejelasan nasib dan keberadaan ayah saya. Pencarian ini pasti tidak mulai dari Nol, Pak. Dalam sebuah acara talk show di TV One, Bapak Kivlan Zen [Mantan Kepala Staf Kostrad] mengakui bahwa dirinya mengetahui keberadaan ayah dan beberapa nama lainnya yang hilang.

Oya, dari media yang saya baca, Presiden sebelum Bapak, Pak SBY, adalah anggota Dewan Kehormatan Perwira (DKP) yang pernah menyelidiki kasus penculikan aktivis periode 1997-1998 melalui pemeriksaan perwira seperti Prabowo. Ternyata, sepuluh tahun menjabat, Pak SBY tak dapat menjawab pertanyaan saya: di manakah ayah saya? bagaimanakah nasibnya saat ini?

Nah, Pak Jokowi adalah harapan terakhir saya untuk mengetahui keberadaan ayah. Kerinduan saya sudah meluap-luap karena sudah 16 tahun tidak bertemu dengan ayah. Sejauh yang saya baca, UUD 1945 menjamin setiap orang untuk mendapat keadilan.. begitu kan?

Dulu kalau kangen sama ayah, saya hanya bisa bertanya kepada ibu, “Di mana ayah? Tapi kini ibu telah dipanggil Allah. Tak ada lagi yang bisa menenangkan saya ketika pertanyaan tentang ayah muncul dalam benak saya. Saya pun sudah mulai dewasa saat ini. Saya harus berani mencari, mencari keberadaan Ayah Saya. Dengan surat inilah saya memberanikan diri untuk mempertanyakan tanggungjawab negara.

Saya membayangkan anak-anak Bapak Presiden tentu bahagia punya Ayah seperti Bapak yang selalu ada untuk mengayomi, selalu ada untuk memberi jalan keluar atas masalah-masalah yang dihadapi mereka. Nah, saya pun berharap demikian jika ayah saya berada di samping saya. Saya rindu sekali akan kehadiran Ayah saya.

Ayo, Pak Presiden, Cari dan Temukan Ayah saya!

avatar of the starter
danish dinistPembuka Petisi
Petisi ini mencapai 3.423 pendukung

Masalahnya

Bapak Presiden, 

Apa kabar? Semoga sehat selalu ya. Saya Novridaniar Dinis Puspahati Muhyidin, biasa disapa Dinis. Begini, Pak. Saat berusia 2 tahun, saya kehilangan ayah yang bernama Yadin Muhidin. Tiba-tiba hilang bersama 12 aktivis lainnya. Kabarnya dihilangkan oleh aparat keamanan negara. Saya menulis surat ini tanpa niat apa-apa kecuali meminta Bapak tentang satu hal: mencari kejelasan nasib atau keberadaan ayah saya.

Saya gembira membaca pernyataan bapak dalam peringatan Hari HAM se-dunia tahun 2014 ini. Bapak secara tegas mengatakan: “Pemerintah berkomitmen menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM pada masa lalu secara berkeadilan." Bahkan peringatan kali ini tergolong istimewa, karena bapak Presiden merayakannya di Gedung Senisono Istana Kepresidenan Yogyakarta, Selasa (9/12/2014), seperti dikutip Antara.

Nah, saya berharap sekali penyelesaian kasus-kasus tersebut termasuk untuk mencari kejelasan nasib dan keberadaan ayah saya. Pencarian ini pasti tidak mulai dari Nol, Pak. Dalam sebuah acara talk show di TV One, Bapak Kivlan Zen [Mantan Kepala Staf Kostrad] mengakui bahwa dirinya mengetahui keberadaan ayah dan beberapa nama lainnya yang hilang.

Oya, dari media yang saya baca, Presiden sebelum Bapak, Pak SBY, adalah anggota Dewan Kehormatan Perwira (DKP) yang pernah menyelidiki kasus penculikan aktivis periode 1997-1998 melalui pemeriksaan perwira seperti Prabowo. Ternyata, sepuluh tahun menjabat, Pak SBY tak dapat menjawab pertanyaan saya: di manakah ayah saya? bagaimanakah nasibnya saat ini?

Nah, Pak Jokowi adalah harapan terakhir saya untuk mengetahui keberadaan ayah. Kerinduan saya sudah meluap-luap karena sudah 16 tahun tidak bertemu dengan ayah. Sejauh yang saya baca, UUD 1945 menjamin setiap orang untuk mendapat keadilan.. begitu kan?

Dulu kalau kangen sama ayah, saya hanya bisa bertanya kepada ibu, “Di mana ayah? Tapi kini ibu telah dipanggil Allah. Tak ada lagi yang bisa menenangkan saya ketika pertanyaan tentang ayah muncul dalam benak saya. Saya pun sudah mulai dewasa saat ini. Saya harus berani mencari, mencari keberadaan Ayah Saya. Dengan surat inilah saya memberanikan diri untuk mempertanyakan tanggungjawab negara.

Saya membayangkan anak-anak Bapak Presiden tentu bahagia punya Ayah seperti Bapak yang selalu ada untuk mengayomi, selalu ada untuk memberi jalan keluar atas masalah-masalah yang dihadapi mereka. Nah, saya pun berharap demikian jika ayah saya berada di samping saya. Saya rindu sekali akan kehadiran Ayah saya.

Ayo, Pak Presiden, Cari dan Temukan Ayah saya!

avatar of the starter
danish dinistPembuka Petisi

Pengambil Keputusan

Joko Widodo
Presiden Republik Indonesia
Joko Widodo
Presiden Republik Indonesia
Joko Widodo
Presiden Republik Indonesia
Joko Widodo
Joko Widodo
Presiden Republik Indonesia

Perkembangan Terakhir Petisi

Bagikan petisi ini

Petisi dibuat pada 17 Juni 2014