Pak Eri Cahyadi, Bangun Halte Bus yang Layak di Kota Surabaya!

Masalahnya

Saya sadar akan bahaya polusi kota dan ancaman krisis iklim yang menyertainya sehingga saya berniat beralih ke tranportasi umum. Namun yang saya temui malah sebaliknya: akses yang sulit dan ketidaknyamanan dalam menggunakan moda transportasi bus di Surabaya.

Saya Ananta Widi Raihan, salah satu penumpang transportasi umum bus di Surabaya. Hari itu saya ingin pergi menuju area tengah Kota Surabaya dari daerah Rungkut. Halte yang jauh dari tempat tinggal saya mengharuskan saya untuk masih mengandalkan jasa ojek online, daripada berjalan 1 km di siang bolong Kota Surabaya yang terkenal dengan suhu udara yang panas. Sesampainya di halte, saya masih harus menahan panas matahari selama 30 menit lebih dan duduk di kursi dengan dudukan triplek tebal. Keringat jelas bercucuran membasahi pakaian. Saya masuk ke dalam bus dan bus pun melaju. Rupanya saya masih beruntung, halte-halte di sepanjang Jalan MERR saya lihat malah hanya bermodal rambu pemberhentian bus. Tanpa naungan dan tempat duduk yang layak.

Ini tumpangan pertama kali saya dalam memilih bus sebagai moda transportasinya. Saya tak membayangkan ketidaknyamanan yang harus dialami penumpang lain yang secara rutin bergantung pada layanan tranportasi ini. Bagaimana jika siang sangat panas? Bagaimana jika hujan turun saat pagi berangkat bekerja?

Tahun depan (2023), Dishub Kota Surabaya memperoleh penambahan anggaran dana untuk mengoptimalkan pengadaan feeder. Pengadaan feeder ini bertujuan untuk memperluas jangkauan layanan transportasi umum dengan mengantarkan masyarakat yang lokasi keberangkatannya jauh dari halte menuju halte terdekat sehingga dapat menikmati layanan bus. Namun bagaimana masyarakat akan tertarik untuk menggunakan feeder apabila sesampainya di halte, yang mereka temui adalah mereka harus menahan panas dan hujan untuk menunggu bus yang datang?

Maka dari itu, saya meminta Wali Kota Surabaya, Pak Eri Cahyadi, melalui Dinas Perhubungan Kota Surabaya untuk membangun halte bus yang layak khususnya di rute MERR dan TIJ - Terminal Osowilangun, serta beberapa halte tersisa di rute Purabaya - Rajawali dan Lidah Wetan - Kejawan Putih yang belum layak. Tidak muluk-muluk, saya hanya meminta halte yang layak seperti yang diatur dalam Permenhub RI No. PM. 10 Tahun 2012 yakni halte yang mempertimbangkan aspek keamanan, kenyamanan, dan kesetaraan. Penekanan yang utama adalah pengadaan fasilitas halte berupa lampu penerangan, kursi, naungan/atap, rambu petunjuk, dan papan informasi trayek.

Peningkatan penumpang Suroboyo Bus mencapai angka rata-rata 120 ribu orang per bulan harus disambut dengan baik. Situasi kenaikan harga BBM juga dapat menjadi isyarat warga untuk mempertimbangkan beralih ke transportasi masal yang lebih murah. Momentum ini sebaiknya dijawab dengan peningkatan layanan dengan membangun fasilitas pendukung berupa halte yang baik.

Perkembangan transportasi umum di Surabaya cukup tertinggal dibandingkan kota-kota lainnya. Padahal transportasi umum adalah moda transportasi alternatif yang sedari dulu harus dipersiapkan dan dikembangkan sehingga masyarakat tidak seolah diharuskan memiliki kendaraan pribadi apabila ingin menempuh perjalanan yang jauh. Harapannya, dengan layanan yang aman, nyaman, dan teratur, semakin banyak masyarakat yang akan percaya bahwa layanan transportasi umum ini dapat diandalkan. Kemudian perlahan dapat mengurai kemacetan dan mengurangi polusi udara kota.

avatar of the starter
Ananta W. RaihanPembuka Petisi
Petisi ini mencapai 704 pendukung

Masalahnya

Saya sadar akan bahaya polusi kota dan ancaman krisis iklim yang menyertainya sehingga saya berniat beralih ke tranportasi umum. Namun yang saya temui malah sebaliknya: akses yang sulit dan ketidaknyamanan dalam menggunakan moda transportasi bus di Surabaya.

Saya Ananta Widi Raihan, salah satu penumpang transportasi umum bus di Surabaya. Hari itu saya ingin pergi menuju area tengah Kota Surabaya dari daerah Rungkut. Halte yang jauh dari tempat tinggal saya mengharuskan saya untuk masih mengandalkan jasa ojek online, daripada berjalan 1 km di siang bolong Kota Surabaya yang terkenal dengan suhu udara yang panas. Sesampainya di halte, saya masih harus menahan panas matahari selama 30 menit lebih dan duduk di kursi dengan dudukan triplek tebal. Keringat jelas bercucuran membasahi pakaian. Saya masuk ke dalam bus dan bus pun melaju. Rupanya saya masih beruntung, halte-halte di sepanjang Jalan MERR saya lihat malah hanya bermodal rambu pemberhentian bus. Tanpa naungan dan tempat duduk yang layak.

Ini tumpangan pertama kali saya dalam memilih bus sebagai moda transportasinya. Saya tak membayangkan ketidaknyamanan yang harus dialami penumpang lain yang secara rutin bergantung pada layanan tranportasi ini. Bagaimana jika siang sangat panas? Bagaimana jika hujan turun saat pagi berangkat bekerja?

Tahun depan (2023), Dishub Kota Surabaya memperoleh penambahan anggaran dana untuk mengoptimalkan pengadaan feeder. Pengadaan feeder ini bertujuan untuk memperluas jangkauan layanan transportasi umum dengan mengantarkan masyarakat yang lokasi keberangkatannya jauh dari halte menuju halte terdekat sehingga dapat menikmati layanan bus. Namun bagaimana masyarakat akan tertarik untuk menggunakan feeder apabila sesampainya di halte, yang mereka temui adalah mereka harus menahan panas dan hujan untuk menunggu bus yang datang?

Maka dari itu, saya meminta Wali Kota Surabaya, Pak Eri Cahyadi, melalui Dinas Perhubungan Kota Surabaya untuk membangun halte bus yang layak khususnya di rute MERR dan TIJ - Terminal Osowilangun, serta beberapa halte tersisa di rute Purabaya - Rajawali dan Lidah Wetan - Kejawan Putih yang belum layak. Tidak muluk-muluk, saya hanya meminta halte yang layak seperti yang diatur dalam Permenhub RI No. PM. 10 Tahun 2012 yakni halte yang mempertimbangkan aspek keamanan, kenyamanan, dan kesetaraan. Penekanan yang utama adalah pengadaan fasilitas halte berupa lampu penerangan, kursi, naungan/atap, rambu petunjuk, dan papan informasi trayek.

Peningkatan penumpang Suroboyo Bus mencapai angka rata-rata 120 ribu orang per bulan harus disambut dengan baik. Situasi kenaikan harga BBM juga dapat menjadi isyarat warga untuk mempertimbangkan beralih ke transportasi masal yang lebih murah. Momentum ini sebaiknya dijawab dengan peningkatan layanan dengan membangun fasilitas pendukung berupa halte yang baik.

Perkembangan transportasi umum di Surabaya cukup tertinggal dibandingkan kota-kota lainnya. Padahal transportasi umum adalah moda transportasi alternatif yang sedari dulu harus dipersiapkan dan dikembangkan sehingga masyarakat tidak seolah diharuskan memiliki kendaraan pribadi apabila ingin menempuh perjalanan yang jauh. Harapannya, dengan layanan yang aman, nyaman, dan teratur, semakin banyak masyarakat yang akan percaya bahwa layanan transportasi umum ini dapat diandalkan. Kemudian perlahan dapat mengurai kemacetan dan mengurangi polusi udara kota.

avatar of the starter
Ananta W. RaihanPembuka Petisi

Pengambil Keputusan

Eri Cahyadi
Eri Cahyadi
Wali Kota Surabaya
Tundjung Iswandaru
Tundjung Iswandaru
Kepala Dinas Perhubungan Kota Surabaya
Eni Sugiharti Fajarsari
Eni Sugiharti Fajarsari
Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas Pengelolaan Transportasi Umum

Perkembangan Terakhir Petisi