#PangalenganMemanggil: Desak Bupati Perkuat Regulasi Pariwisata Berkelanjutan


#PangalenganMemanggil: Desak Bupati Perkuat Regulasi Pariwisata Berkelanjutan
Masalahnya
Saya Qnosh, pribadi yang lahir dan besar di Pangalengan. Tempat di mana cerita hidup dimulai, dan di mana cinta saya pada lingkungan pertama kali tumbuh.
Pangalengan, merupakan suatu kecamatan yang terletak 40 kilometer dari Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat, atau 29 kilometer dari pusat Kabupaten Bandung, Soreang.
Keindahan alam Pangalengan telah lama menjadi daya tarik bagi siapa pun yang ingin melarikan diri dari hiruk pikuk perkotaan. Pegunungan menjulang tinggi, perkebunan teh yang hijau terhampar luas, danau-danau yang memesona, dan sungai-sungai yang mengalir dengan tenang membentuk lanskap yang tidak hanya memikat mata, tetapi juga merangkul jiwa.
Namun, ijinkan saya memperluas pandangan ini. Ini bukan hanya cerita tentang saya. Ini adalah kisah tentang kami. Masyarakat yang tumbuh dari berbagai latar belakang dan generasi, yang memiliki satu kesamaan, yaitu cinta yang dalam pada tempat yang kami sebut sebagai rumah.
Dalam beberapa tahun terakhir, kami telah menyaksikan perubahan dramatis di sini. Tempat-tempat wisata muncul begitu cepatnya, seperti jamur yang tumbuh di musim hujan. Lonjakan jumlah wisatawan telah membawa konsekuensi yang tidak dapat diabaikan. Fenomena over-tourism, kerumunan yang semakin meresahkan, kemacetan lalu lintas yang parah, dan konsumsi sumber daya alam yang berlebihan telah menjadi kenyataan yang harus kami hadapi.
Di tengah semua perubahan ini, Nimo Highland muncul sebagai simbol yang sulit kami terima. Ini adalah bukti nyata bagaimana pariwisata yang tidak berpihak pada alam dapat mengubah lanskap dan identitas suatu daerah.
Berdiri megah di atas tanah milik PT. Perkebunan Nusantara VIII dengan luas sekitar 25 hektar. Beton dingin tak bernyawa telah menggantikan peninggalan sejarah di mana pada awalnya tempat ini merupakan sebuah bukit yang disebut “Gunung Nini,” yang pada masa kolonial Belanda digunakan sebagai Tea Plantation Observation Tower oleh Karel Albert Rudolf Bosscha. Lokasinya berdekatan dengan situs sejarah Makam K.A.R. Bosscha.
Kami sangat khawatir bahwa dampak dari pertumbuhan pariwisata yang cepat dan tak terkendali di Pangalengan tidak terbatas pada perubahan fisik saja. Identitas budaya, sejarah, dan tradisi lokal kami juga akan terancam. Tekanan untuk beradaptasi dengan selera dan kebiasaan wisatawan seringkali menghilangkan ciri khas dan esensi yang membuat Pangalengan istimewa.
Ancaman terhadap keanekaragaman hayati juga semakin serius, terutama karena banyaknya tempat wisata yang berdekatan dengan cagar alam dan ekosistem alami.
Tapi mari kita pahami bahwa ini bukan tentang menyalahkan, ini tentang mengambil tindakan bersama. Kami tidak menentang pariwisata, tetapi kami membutuhkan regulasi ketat untuk mengendalikan pertumbuhannya.
Kami ingin memastikan bahwa pertumbuhan pariwisata di Pangalengan berlangsung dengan bijak dan bertanggung jawab. Kami ingin menjaga keaslian arsitektur tradisional serta mendorong pengembangan pariwisata berkelanjutan yang mempertimbangkan dampak lingkungan, dengan menyesuaikan karakteristik alam setempat, dan memperhatikan kelestarian ekosistem.
Kami berharap agar tidak ada lagi pembangunan proyek serupa dengan Nimo Highland yang dapat mengubah karakteristik alam Pangalengan di masa depan. Kami juga mendorong evaluasi ulang dan perubahan dalam pengelolaan Nimo Highland, sehingga dapat berkontribusi positif pada upaya konservasi lingkungan dan identitas lokal, menjadi tujuan pariwisata yang lebih berkelanjutan yang menghormati nilai-nilai budaya dan ekologi Pangalengan.
Kami percaya bahwa dengan regulasi yang ketat dan tindakan yang tepat, Pangalengan dapat menjadi destinasi wisata yang berkelanjutan yang mempertahankan keelokan alamnya, melindungi identitas budayanya, dan memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakatnya.
#PangalenganMemanggil dan saatnya kita menjawab panggilan ini dengan tindakan dan komitmen untuk peduli, lindungi, dan melestarikannya. Mari bergandengan tangan dan menjaga Pangalengan bersama-sama, karena tindakan kita hari ini akan membentuk masa depan Pangalengan yang berkelanjutan.
ENGLISH VERSION
Urge the Regent to Strengthen Sustainable Tourism Regulations
I am Qnosh, a person who was born and raised in Pangalengan. The place where the story of my life began, and where my love for the environment first grew.
Pangalengan is a sub-district located 40 kilometers from the city of Bandung, West Java Province, or 29 kilometers from the center of Bandung Regency, Soreang.
The natural beauty of Pangalengan has long been an attraction for anyone looking to escape the hustle and bustle of the city. Towering mountains, vast green tea plantations, enchanting lakes, and tranquil rivers create a landscape that not only captivates the eye but also embraces the soul.
However, allow me to expand on this view. This is not just a story about me. This is a story about us. A community that has grown from diverse backgrounds and generations, united by one commonality: a deep love for the place we call home.
In recent years, we have witnessed dramatic changes here. Tourist destinations have sprung up as quickly as mushrooms in the rainy season. The surge in the number of tourists has brought undeniable consequences. The phenomenon of overtourism, increasingly disturbing crowds, severe traffic congestion, and excessive consumption of natural resources have become realities we must face.
Amidst all these changes, Nimo Highland has emerged as a symbol that is difficult for us to accept. It is tangible evidence of how tourism that is not environmentally friendly can transform the landscape and identity of an area.
Built on land owned by PT. Perkebunan Nusantara VIII, covering an area of approximately 25 hectares. Lifeless concrete has replaced the historical remnants of what was once a hill called "Gunung Nini," which during the Dutch colonial period was used as a Tea Plantation Observation Tower by Karel Albert Rudolf Bosscha. Its location is near the historical site of K.A.R. Bosscha's tomb.
We are deeply concerned that the impact of uncontrolled tourism growth in Pangalengan is not limited to physical changes. Our cultural identity, history, and local traditions are also at risk. The pressure to adapt to the habits of tourists often erases the unique characteristics and essence that make Pangalengan special.
The threat to biodiversity is also growing more serious, especially due to the many tourist spots located near nature reserves and natural ecosystems.
But let us understand that this is not about blame; it's about taking collective action. We are not against tourism, but we need strict regulations to control its growth.
We want to ensure that tourism growth in Pangalengan proceeds wisely and responsibly. We want to preserve the authenticity of traditional architecture and promote sustainable tourism development that considers environmental impact, adapts to the characteristics of the local environment, and preserves ecosystem integrity.
We hope there will be no more projects similar to Nimo Highland that can alter the natural characteristics of Pangalengan in the future. We also advocate for a reevaluation and changes in the management of Nimo Highland, so that it can positively contribute to environmental conservation efforts and the local identity, becoming a more sustainable tourism destination that respects Pangalengan's cultural and ecological values.
We believe that with stringent regulations and the right actions, Pangalengan can become a sustainable tourist destination that preserves its natural beauty, protects its cultural identity, and provides sustainable economic benefits to its community.
#PangalenganMemanggil, and it's time for us to answer this call with actions and a commitment to care for, protect, and preserve it. Let's join hands and safeguard Pangalengan together because our actions today will shape the sustainable future of Pangalengan.

22.637
Masalahnya
Saya Qnosh, pribadi yang lahir dan besar di Pangalengan. Tempat di mana cerita hidup dimulai, dan di mana cinta saya pada lingkungan pertama kali tumbuh.
Pangalengan, merupakan suatu kecamatan yang terletak 40 kilometer dari Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat, atau 29 kilometer dari pusat Kabupaten Bandung, Soreang.
Keindahan alam Pangalengan telah lama menjadi daya tarik bagi siapa pun yang ingin melarikan diri dari hiruk pikuk perkotaan. Pegunungan menjulang tinggi, perkebunan teh yang hijau terhampar luas, danau-danau yang memesona, dan sungai-sungai yang mengalir dengan tenang membentuk lanskap yang tidak hanya memikat mata, tetapi juga merangkul jiwa.
Namun, ijinkan saya memperluas pandangan ini. Ini bukan hanya cerita tentang saya. Ini adalah kisah tentang kami. Masyarakat yang tumbuh dari berbagai latar belakang dan generasi, yang memiliki satu kesamaan, yaitu cinta yang dalam pada tempat yang kami sebut sebagai rumah.
Dalam beberapa tahun terakhir, kami telah menyaksikan perubahan dramatis di sini. Tempat-tempat wisata muncul begitu cepatnya, seperti jamur yang tumbuh di musim hujan. Lonjakan jumlah wisatawan telah membawa konsekuensi yang tidak dapat diabaikan. Fenomena over-tourism, kerumunan yang semakin meresahkan, kemacetan lalu lintas yang parah, dan konsumsi sumber daya alam yang berlebihan telah menjadi kenyataan yang harus kami hadapi.
Di tengah semua perubahan ini, Nimo Highland muncul sebagai simbol yang sulit kami terima. Ini adalah bukti nyata bagaimana pariwisata yang tidak berpihak pada alam dapat mengubah lanskap dan identitas suatu daerah.
Berdiri megah di atas tanah milik PT. Perkebunan Nusantara VIII dengan luas sekitar 25 hektar. Beton dingin tak bernyawa telah menggantikan peninggalan sejarah di mana pada awalnya tempat ini merupakan sebuah bukit yang disebut “Gunung Nini,” yang pada masa kolonial Belanda digunakan sebagai Tea Plantation Observation Tower oleh Karel Albert Rudolf Bosscha. Lokasinya berdekatan dengan situs sejarah Makam K.A.R. Bosscha.
Kami sangat khawatir bahwa dampak dari pertumbuhan pariwisata yang cepat dan tak terkendali di Pangalengan tidak terbatas pada perubahan fisik saja. Identitas budaya, sejarah, dan tradisi lokal kami juga akan terancam. Tekanan untuk beradaptasi dengan selera dan kebiasaan wisatawan seringkali menghilangkan ciri khas dan esensi yang membuat Pangalengan istimewa.
Ancaman terhadap keanekaragaman hayati juga semakin serius, terutama karena banyaknya tempat wisata yang berdekatan dengan cagar alam dan ekosistem alami.
Tapi mari kita pahami bahwa ini bukan tentang menyalahkan, ini tentang mengambil tindakan bersama. Kami tidak menentang pariwisata, tetapi kami membutuhkan regulasi ketat untuk mengendalikan pertumbuhannya.
Kami ingin memastikan bahwa pertumbuhan pariwisata di Pangalengan berlangsung dengan bijak dan bertanggung jawab. Kami ingin menjaga keaslian arsitektur tradisional serta mendorong pengembangan pariwisata berkelanjutan yang mempertimbangkan dampak lingkungan, dengan menyesuaikan karakteristik alam setempat, dan memperhatikan kelestarian ekosistem.
Kami berharap agar tidak ada lagi pembangunan proyek serupa dengan Nimo Highland yang dapat mengubah karakteristik alam Pangalengan di masa depan. Kami juga mendorong evaluasi ulang dan perubahan dalam pengelolaan Nimo Highland, sehingga dapat berkontribusi positif pada upaya konservasi lingkungan dan identitas lokal, menjadi tujuan pariwisata yang lebih berkelanjutan yang menghormati nilai-nilai budaya dan ekologi Pangalengan.
Kami percaya bahwa dengan regulasi yang ketat dan tindakan yang tepat, Pangalengan dapat menjadi destinasi wisata yang berkelanjutan yang mempertahankan keelokan alamnya, melindungi identitas budayanya, dan memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakatnya.
#PangalenganMemanggil dan saatnya kita menjawab panggilan ini dengan tindakan dan komitmen untuk peduli, lindungi, dan melestarikannya. Mari bergandengan tangan dan menjaga Pangalengan bersama-sama, karena tindakan kita hari ini akan membentuk masa depan Pangalengan yang berkelanjutan.
ENGLISH VERSION
Urge the Regent to Strengthen Sustainable Tourism Regulations
I am Qnosh, a person who was born and raised in Pangalengan. The place where the story of my life began, and where my love for the environment first grew.
Pangalengan is a sub-district located 40 kilometers from the city of Bandung, West Java Province, or 29 kilometers from the center of Bandung Regency, Soreang.
The natural beauty of Pangalengan has long been an attraction for anyone looking to escape the hustle and bustle of the city. Towering mountains, vast green tea plantations, enchanting lakes, and tranquil rivers create a landscape that not only captivates the eye but also embraces the soul.
However, allow me to expand on this view. This is not just a story about me. This is a story about us. A community that has grown from diverse backgrounds and generations, united by one commonality: a deep love for the place we call home.
In recent years, we have witnessed dramatic changes here. Tourist destinations have sprung up as quickly as mushrooms in the rainy season. The surge in the number of tourists has brought undeniable consequences. The phenomenon of overtourism, increasingly disturbing crowds, severe traffic congestion, and excessive consumption of natural resources have become realities we must face.
Amidst all these changes, Nimo Highland has emerged as a symbol that is difficult for us to accept. It is tangible evidence of how tourism that is not environmentally friendly can transform the landscape and identity of an area.
Built on land owned by PT. Perkebunan Nusantara VIII, covering an area of approximately 25 hectares. Lifeless concrete has replaced the historical remnants of what was once a hill called "Gunung Nini," which during the Dutch colonial period was used as a Tea Plantation Observation Tower by Karel Albert Rudolf Bosscha. Its location is near the historical site of K.A.R. Bosscha's tomb.
We are deeply concerned that the impact of uncontrolled tourism growth in Pangalengan is not limited to physical changes. Our cultural identity, history, and local traditions are also at risk. The pressure to adapt to the habits of tourists often erases the unique characteristics and essence that make Pangalengan special.
The threat to biodiversity is also growing more serious, especially due to the many tourist spots located near nature reserves and natural ecosystems.
But let us understand that this is not about blame; it's about taking collective action. We are not against tourism, but we need strict regulations to control its growth.
We want to ensure that tourism growth in Pangalengan proceeds wisely and responsibly. We want to preserve the authenticity of traditional architecture and promote sustainable tourism development that considers environmental impact, adapts to the characteristics of the local environment, and preserves ecosystem integrity.
We hope there will be no more projects similar to Nimo Highland that can alter the natural characteristics of Pangalengan in the future. We also advocate for a reevaluation and changes in the management of Nimo Highland, so that it can positively contribute to environmental conservation efforts and the local identity, becoming a more sustainable tourism destination that respects Pangalengan's cultural and ecological values.
We believe that with stringent regulations and the right actions, Pangalengan can become a sustainable tourist destination that preserves its natural beauty, protects its cultural identity, and provides sustainable economic benefits to its community.
#PangalenganMemanggil, and it's time for us to answer this call with actions and a commitment to care for, protect, and preserve it. Let's join hands and safeguard Pangalengan together because our actions today will shape the sustainable future of Pangalengan.

22.637
Pengambil Keputusan
Perkembangan terakhir petisi
Bagikan petisi ini
Petisi dibuat pada 8 September 2023