Petisi ditutup

Menristekdikti & Menbuddikdasmen: STOP OSPEK & MOS!

Petisi ini mencapai 12.394 pendukung


Syok, gemetar dan mengalir air mata saat melihat foto dan membaca berita kekerasan OSPEK dan MOS di media sosial dan media masa. Tidak melulu jalan jongkok, kekerasan OSPEK dan MOS sudah sangat merendahkan dan melecehkan secara seksual seperti laporan siswa dalam artikel yang ditulis Kompas bahwa: “Mahasiswa baru laki-laki disuruh berhubungan seperti suami istri dengan para mahasiswi baru. "Yang tidak manusiawi juga, peserta ospek diberi singkong yang bentuknya seperti alat kelamin dan diminta untuk alat oral.” Foto-foto –kekerasan OSPEK, seperti yang diunggah oleh warga, menggambarkan derajat kekerasan yang makin tinggi.

Kematian akibat OSPEK terjadi lagi dengan tewasnya Fikri di ITN 2013 telah menambah panjang daftar korban OSPEK setelah Zaki ITB 96, Wahyu Hidayat IPDN 2003, Cliff Mutu IPDN 2007. Ini seakan mengukuhkan nyawa anak kita tak lagi berharga di mata institusi pendidikan.

Celakanya, kekerasan OSPEK bukan melulu prerogatif mahasiswa, tapi juga ditunjukkan oleh siswa tingkat menengah, SMP, SMA dan SMK. Data Sejiwa menunjukkan kematian demi kematian, dan kekerasan yang mewarnai kegiatan MOS. Data Sejiwa menggambarkan bahwa lonceng peringatan berdentam tak putus mengingatkan para pembuat kebijakan ada yang akut dalam kegiatan pengenalan siswa melalui OSPEK dan MOS

Walau data kuantitatif kekerasan OSPEK dan MOS di Indonesia sulit didapat namun jika kita melakukan pencarian di internet, laman demi laman menggambarkan identiknya MOS dan OSPEK dengan kekerasan. Kala siswa menggambarkan asyiknya MOS, itupun dengan hukuman-hukuman yang diterimanya. Anak tidak lagi sensitif terhadap kekerasan.

Sudah sejauh itukah kekerasan terlembagakan pada institusi pendidikan? Sudah sebuta itukah mata hati, dan sudah begitu tulinyakah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sehingga melakukan pembiaran terhadap tindakan kekerasan, tidak hanya fisik, tapi juga pelecehan seksual?

Mendikbud, M. Nuh, mengklaim telah keluarkan aturan lewat surat edaran tapi akui tak mampu beri sangsi pada institusi terlibat. Bagaimana mungkin suatu institusi yang nyata-nyata memberikan ruang kekerasan bagi siswa bisa melenggang tanpa pemerintah mampu memberikan sanksi, macan ompong macam apakah Kementerian Pendidikan??

Saya  ibu dari seorang putri berusia 6 tahun yang sangat khawatir dengan pembiaran ini. Saya tidak rela jika kelak, anak yang saya kandung, lahirkan dan besarkan dengan kasih sayang harus mengalami pelecehan, secara fisik maupun seksual karena pemerintah dan institusi pendidikan alpa dalam memberikan tempat belajar yang aman. Saya yakin,setiap orang tua mempercayakan pendidikan anaknya di sekolah untuk mendapat yang terbaik, bukan diinjak-injak kepala, disiksa, dilecehkann secara seksual maupun dibunuh. Saya yakin, setiap orang tua pasti khawatir!

 Mungkin bukan anak kita hari ini jadi korban, namun bagaimana dikemudian hari? Akankah kekerasan dan pelecehan seksual OSPEK makin menjadi, dengan derajat yang lebih tinggi dan anak kita harus alami?

 Sebagai orang tua, calon orang tua, warga, kita perlu peduli dan menyuarakan tuntutan akan sekolah yang aman bagi anak-anak kepada pemerintah dan institusi pendidikan. Ini adalah HUTANG kita pada anak-anak yang tidak punya kuasa mengatakan tidak pada senior dan insitusi pendidikan dan pemerintah.

Mari bergerak! Lindungi anak kita! Tunjukkan keprihatinan  sebagai ibu, sebagai calon ibu, sebagai kakak, adik, orang tua dan sebagai korban, Enough is Enough!

Berikan rasa aman di insitusi pendidikan, suarakan tuntutan ini dengan mendukung petisi agar Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhammad Nuh berani:

 

  1. Menghapus OSPEK dan MOS
  2. Memberi sangsi tegas bagi institusi pendidikan dalam pembiaran terhadap kekerasan.

 


Hak pelajar dan mahasiswa untuk mendapatkan pendidikan dan rasa aman! 



Hari ini: Sita mengandalkanmu

Sita Supomo membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "Mendiknas M Nuh: STOP OSPEK & MOS!". Bergabunglah dengan Sita dan 12.393 pendukung lainnya hari ini.