Actualización de la peticiónMcDonald's Indonesia, Bebaskan Ayam Petelur dari Kerangkeng yang Menyakitkan!AFJ Hadiahi Telur Penuh Darah untuk McDonald’s yang Tak Kunjung Terbitkan Komitmen Bebas Sangkar
Animal Friends Jogja (AFJ)Indonesia
4 jun 2024

Sebanyak 14 aktivis perlindungan satwa dari Animal Friends Jogja (AFJ) memenuhi jalanan di depan gerai McDonald’s Sudirman, Yogyakarta, 31 Mei 2024 lalu, sembari membawa poster dan mengenakan kostum ayam. Aksi ini dilakukan untuk mendesak McDonald’s dengan permintaan yang sama, yaitu untuk segera menerbitkan komitmen bebas sangkar (cage-free).

“They’re Not Lovin’ It”, demikian bunyi salah satu poster yang dibawa oleh seorang aktivis, menunjukkan potret ayam petelur dengan keadaan menyedihkan di dalam kandang sangkar atau yang lebih dikenal dengan istilah kandang baterai. Dua orang aktivis terlihat mengenakan kostum ayam dengan bulu yang rontok dan tubuh penuh luka. Salah satu dari mereka memegang properti telur berukuran besar yang dipenuhi darah dan kotoran, dan satu lainnya meringkuk di dalam kandang.

Sebagai salah satu restoran cepat saji terbesar di Indonesia, McDonald’s punya kekuatan untuk membuat perubahan yang lebih baik dalam rantai pasoknya. Namun, McDonald’s membiarkan diri mereka tertinggal dari para kompetitor. Banyak perusahaan telah berkomitmen untuk hanya menggunakan telur bebas sangkar dalam rantai pasoknya, tapi McDonald’s Indonesia belum mengeluarkan kebijakan serupa.

Padahal, sistem kandang baterai tidak sesuai dengan lima prinsip kebebasan hewan yang dikeluarkan oleh World Organisation for Animal Health (OIE). Sebab, dalam satu kandang sempit, satu hingga dua ayam dikerangkeng selama kurang lebih dua tahun untuk memproduksi telur hingga dianggap tidak menguntungkan lagi dan dibawa ke penjagalan. Ayam-ayam petelur tidak dapat mengekspresikan perilaku alami yang penting untuk kesehatan mereka karena ruang gerak satu individu ayam tidak lebih besar dari selembar kertas A4. Hal ini menyebabkan tingkat stres yang tinggi dan frustrasi. Mereka juga rentan mengalami luka fisik karena tersangkut di jeruji, berpotensi tinggi mengalami patah tulang, dan juga kerontokan bulu (kebotakan) akibat gesekan terus menerus dengan jeruji. Telur dari kandang baterai juga memiliki potensi kontaminasi Salmonella sp. yang lebih tinggi dibandingkan telur dari peternakan cage-free.

Di akhir aksi, perwakilan dari AFJ berniat menyerahkan properti telur berukuran besar dengan corak darah dan kotoran sebagai simbol penderitaan ayam petelur yang dipaksa menjadi mesin pencetak telur di dalam kandang baterai. Namun, McDonald’s menolak. Penolakan ini sejalan dengan sikap McDonald’s yang hingga kini belum menunjukkan ketertarikannya untuk meningkatkan kehidupan ayam petelur dalam rantai pasok mereka, sesuai dengan desakan dari para aktivis perlindungan satwa serta permintaan konsumen dan publik agar mereka segera menerbitkan komitmen bebas sangkar. 

Kapan, ya, McDonald’s mendengarkan keluhan publik? Yuk, sebarkan petisi ini agar semakin banyak orang tanda tangan dan semakin banyak pula peluang bagi ayam petelur untuk terbebas dari sistem kandang baterai yang mengerikan! 

Copiar enlace
WhatsApp
Facebook
X
Email