BEM, DPM, MKM Lebih Baik Bubar!!!


BEM, DPM, MKM Lebih Baik Bubar!!!
Masalahnya
Pembodohan di Balik Trilogi Miniatur Negara Kampus (Bem, Dpm, Mkm) Universitas Trunojoyo Madura
Selamat datang di kampus tercinta kita ini, Universitas Trunojoyo Madura (UTM), kampus yang berdiri megah di antara tingginya angka kemiskinan di Madura, pengangguran, sawah kering dan petani yang melarat, tukang becak yang anaknya tidak mampu bersekolah di kampus dekat rumahnya sendiri (telang) dan para begal yang menjadi teman setia mahasiswanya.
Suatu realitas yang mahasiswa UTM lihat setiap hari. Kampus megah yang menjadi sarang para intelektual dari berbagai jurusan, yang seharusnya di sekitar orang-orang pintar itu tergambarkan kondisi masyarakat yang sejahtera.
Akan tetapi fakta berkata sebaliknya. Saya tidak perlu bercerita kepada kalian tentang harapan besar para gelandangan peltim (pelabuhan timur) terhadap kampus kita dan mahasiswanya ini.
“Sedang apa mahasiswa di kampus?”
Mahasiswa sibuk membenci mahasiswa lainnya. Ya, siapa yang tidak tahu HMI, GMNI dan PMII yang selalu berebut kekuasaan di kampus ini? Mereka yang disebut Organisasi Ekstra (Ormek) itu kemudian saling membenci dan dibenci oleh mahasiswa yang tidak tergolong di dalamnya atau biasa kita sebut netral.
Kebencian yang sangat akut tertanam dalam diri mahasiswa sejak maba, kata mahasiswa yang tergabung di Ormek, seakan setara dengan isu Sara di negara ini. Dan si netral sibuk mensucikan dirinya dengan turut mencaci maki para mahasiswa ormek, mencuci tangannya di balik jargon-jargon putih. Berbagai lapisan mahasiswa netral yang terorganisir ini kemudian makin masif membenci si Ormek dan si Ormek pun sibuk mencaci maki Ormek lainnya.
“Kenapa bisa seperti itu?” Karena Rezim Takut Mahasiswa Bersatu.
Masalahnya
Pembodohan di Balik Trilogi Miniatur Negara Kampus (Bem, Dpm, Mkm) Universitas Trunojoyo Madura
Selamat datang di kampus tercinta kita ini, Universitas Trunojoyo Madura (UTM), kampus yang berdiri megah di antara tingginya angka kemiskinan di Madura, pengangguran, sawah kering dan petani yang melarat, tukang becak yang anaknya tidak mampu bersekolah di kampus dekat rumahnya sendiri (telang) dan para begal yang menjadi teman setia mahasiswanya.
Suatu realitas yang mahasiswa UTM lihat setiap hari. Kampus megah yang menjadi sarang para intelektual dari berbagai jurusan, yang seharusnya di sekitar orang-orang pintar itu tergambarkan kondisi masyarakat yang sejahtera.
Akan tetapi fakta berkata sebaliknya. Saya tidak perlu bercerita kepada kalian tentang harapan besar para gelandangan peltim (pelabuhan timur) terhadap kampus kita dan mahasiswanya ini.
“Sedang apa mahasiswa di kampus?”
Mahasiswa sibuk membenci mahasiswa lainnya. Ya, siapa yang tidak tahu HMI, GMNI dan PMII yang selalu berebut kekuasaan di kampus ini? Mereka yang disebut Organisasi Ekstra (Ormek) itu kemudian saling membenci dan dibenci oleh mahasiswa yang tidak tergolong di dalamnya atau biasa kita sebut netral.
Kebencian yang sangat akut tertanam dalam diri mahasiswa sejak maba, kata mahasiswa yang tergabung di Ormek, seakan setara dengan isu Sara di negara ini. Dan si netral sibuk mensucikan dirinya dengan turut mencaci maki para mahasiswa ormek, mencuci tangannya di balik jargon-jargon putih. Berbagai lapisan mahasiswa netral yang terorganisir ini kemudian makin masif membenci si Ormek dan si Ormek pun sibuk mencaci maki Ormek lainnya.
“Kenapa bisa seperti itu?” Karena Rezim Takut Mahasiswa Bersatu.
Petisi ditutup
Sebarkan petisi ini
Pengambil Keputusan
Perkembangan Terakhir Petisi
Bagikan petisi ini
Petisi dibuat pada 19 Mei 2020